Berita
Harapan Konservasi di Tengah Tren Penurunan Spesies Global
Upaya konservasi dapat berhasil jika disertai tindakan nyata.
Jumat, 09 Oktober 2026

BETAHITA.ID - Di tengah tren penurunan keanekaragaman hayati global, populasi harimau liar, penyu hijau, dan tuna sirip biru justru mengalami pemulihan. Hal ini membuktikan bahwa hilangnya alam secara alam secara global dapat dibalikkan. Di sisi lain, para ilmuwan memperingatkan bahwa sektor produksi pangan harus menjadi “titik balik positif” berikutnya jika dunia ingin mencegah runtuhnya keanekaragaman hayati.
Dalam laporan Living Planet Reprt 2026, World Wildlife Fund (WWF) menganalisis hampir 36.000 populasi hewan dan lebih dari 5.000 spesies, serta menyusun basis data satwa liar vertebrata terbesar yang pernah ada. Para ilmuwan menemukan bahwa populasi telah menurun rata-rata sebesar 73% sejak tahun 1970, yang menunjukkan bahwa alam terus mengalami kerusakan dalam skala yang mengkhawatirkan tanpa adanya tanda-tanda melambatnya laju penurunan tersebut.
Meski demikian kabar baik dari konservasi tetap ada. Populasi harimau liar, penyu hijau, dan tuna sirip biru di sejumlah wilayah mengalami pemulihan, yang menunjukkan bahwa "pemulihan alam yang hilang secara global masih dimungkinkan jika tindakan nyata diambil", menurut para ilmuwan yang menyusun laporan tersebut.
Pada 2010, hanya tersisa sekitar 3.200 ekor harimau liar di seluruh dunia dan spesies ini berada di ambang kepunahan. Berkat upaya konservasi yang berkelanjutan dan terarah, populasinya kini meningkat menjadi sekitar 5.700 ekor—sebuah kenaikan lebih dari 70%.
Tahun lalu, penyu hijau menjadi penyu laut pertama yang statusnya diturunkan dari terancam punah menjadi "risiko rendah" dalam Daftar Merah IUCN. Hal ini mencerminkan hasil dari 50 tahun upaya konservasi terpadu di sekitar 80 negara.
“Keberhasilan pemulihan beberapa spesies secara global di tengah tren penurunan indikator keanekaragaman hayati menjadi salah satu angin segar bagi konservasi global, sekaligus menunjukkan bahwa pemulihan spesies adalah sesuatu yang mungkin dan dapat menjadi sumber pembelajaran,” kata Direktur Forest and Wildlife WWF-Indonesia, Muhammad Ali Imron, Jumat, 9 Oktober 2026.
“Meskipun contoh pemulihan tersebut terjadi pada populasi dan konteks yang berbeda, ini memiliki prinsip yang tetap relevan, yaitu pemulihan tidak terjadi secara instan, tetapi merupakan hasil dari komitmen jangka panjang, perlindungan habitat, pengelolaan yang efektif, penegakan hukum, keterlibatan masyarakat, serta kolaborasi lintas pihak,” ujarnya.
Imron mengatakan, Indonesia mengalami sejumlah kemajuan dalam menjaga populasi harimau sumatra (Panthera tigris sumatrae). Di sejumlah lanskap, seperti Bukit Rimbang Baling (Riau), Batang Hari (Jambi), dan Bukit Tigapuluh (Riau), terdapat indikasi positif terkait keberlangsungan satwa terancam punah tersebut.
“Hal ini terlihat ketika kita menemukan bukti dari kamera jebak, adanya kelahiran-kelahiran anakan dan juga rendahnya penemuan informasi kematian harimau,” kata Imron.
Upaya konservasi penyu belimbing (Dermochelys coriacea) juga membuahkan hasil. WWF-Indonesia mencatat salah satu lokasi kerjanya di Pulau Buru, Maluku, tingkat perburuan terhadap satwa ini beserta telurnya mendekat nol, dengan 99% sarang penyu aman dan terlindungi pada 2025.
Dalam konteks kebijakan, Imron melihat harapan untuk pemulihan populasi gajah sumatra (Elephas maximus sumatranus) melalui penerbitanInpres Nomor 8 Tahun 2026 untuk menyelamatkan populasi serta habitat gajah Sumatra dan Kalimantan.
Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa populasi tuna sirip biru Atlantik dan Pasifik—yang sempat anjlok akibat penangkapan ikan berlebihan selama berpuluh-puluh tahun—kini telah pulih hingga ke tingkat di mana kedua spesies tersebut tidak lagi dikategorikan sebagai spesies yang terancam.
Dalam laporan LPR 2026 ini terdapat bukti-bukti bahwa pemulihan di berbagai belahan dunia menunjukkan bahwa konservasi dapat berhasil. Tantangannya sekarang adalah memastikan keberhasilan tersebut dapat dipertahankan, diperluas, dan menjadi sumber pembelajaran serta inspirasi untuk mendorong pemulihan keanekaragaman hayati di Indonesia.”
"Ini adalah contoh yang menunjukkan bahwa alam dapat pulih bahkan ketika berada di ambang kehancuran, dan hal ini memberi kita inspirasi. Sangat jelas pula bahwa upaya konservasi saja tidak cukup untuk mengatasi besarnya ancaman yang dihadapi alam," kata Mike Barrett, kepala penasihat ilmiah WWF Inggris sekaligus salah satu penulis laporan tersebut.
Umat manusia juga harus mengubah cara memproduksi pangan, katanya. "Pertanian merupakan penyebab terbesar hilangnya dan rusaknya habitat, yang pada gilirannya menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati. Sektor ini juga menjadi sumber utama emisi gas rumah kaca sehingga turut mendorong perubahan iklim,” katanya.




