Berita
Populasi Spesies Liar Turun 73% Selama 52 Tahun
Tren penurunan terus terjadi tanpa adanya pemulihan di tingkat global.
Jumat, 09 Oktober 2026

BETAHITA.ID - Hampir 6.000 spesies vertebrata yang dipantau di lebih dari 35.000 populasi mengalami penurunan rata-rata sebesar 73% antara tahun 1970 dan 2022, menurut World Wide Fund for Nature (WWF) dalam laporan Living Planet Report terbaru yang diterbitkan Kamis, 8 Oktober 2026.
Indeks Living Planet, yang dikelola oleh Zoological Society of London (ZSL) dan WWF, memantau total 35.803 populasi yang mencakup 5.790 spesies mamalia, burung, reptil, amfibi, dan ikan yang berbeda selama periode 52 tahun tersebut.
Laporan tersebut memperkirakan bahwa secara keseluruhan, populasi mengalami penurunan rata-rata sekitar 2,5% per tahun selama periode tersebut.
"Populasi global yang dipantau terus mengalami penurunan rata-rata tanpa adanya bukti pemulihan global," ujar Andrew Terry, direktur konservasi di ZSL, Kamis, 8 Oktober 2026.
Laju penurunan rata-rata pada populasi yang dipantau tersebut tidak mencerminkan jumlah total hewan yang hilang antara tahun 1970 dan 2022, dan angka tersebut sangat dipengaruhi oleh perubahan pada populasi yang jumlahnya memang sudah kecil.
Indeks tersebut menunjukkan bahwa spesies air tawar yang dipantau mengalami penurunan rata-rata sebesar 85%, sementara populasi spesies darat turun 69% dan spesies laut turun 59%.
Penurunan populasi rata-rata yang paling tajam terjadi di Amerika Selatan, yakni sebesar 95%, sedangkan Afrika juga mengalami penurunan populasi sebesar 80% dalam kurun waktu 1970 hingga 2022.
Laporan Living Planet tahun 2026 mencakup tambahan 295 spesies dan 967 populasi dengan rentang waktu pengamatan yang lebih panjang dibandingkan laporan sebelumnya pada tahun 2024.
Data tambahan tersebut "memperkuat keyakinan kami mengenai terus menurunnya keanekaragaman hayati," ujar Terry.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa hilangnya dan rusaknya habitat merupakan ancaman yang paling sering dilaporkan, namun populasi satwa liar juga terancam oleh eksploitasi berlebihan, perubahan iklim, polusi, spesies invasif, serta penyakit.
"Di tengah penurunan tajam ini, terdapat alasan untuk berharap yang didasarkan pada bukti nyata. Populasi satwa liar memang berada di bawah tekanan, namun pemulihannya masih dapat dilakukan," ujar Kirsten Schuijt, Direktur Jenderal WWF.
Upaya konservasi yang terarah telah memungkinkan pemulihan populasi sejumlah spesies, termasuk harimau, tuna sirip biru Atlantik dan Pasifik, gajah Afrika bagian selatan, serta penyu hijau.
Selain upaya konservasi, perubahan dalam sistem energi, pangan, dan keuangan juga diperlukan untuk menghentikan hilangnya kekayaan alam, kata Schuijt.




