Berita
Emisi Industri Tinggi, Dekarbonisasi Mendesak Dilakukan
Dekarbonisasi industri dapat menjadi strategi pembangunan nasional dan penguatan daya saing Indonesia.
Jumat, 09 Oktober 2026

BETAHITA.ID - Pemerintah Indonesia didesak untuk mempercepat penurunan emisi industri. Hal ini dapat dilakukan dengan menempatkan dekarbonisasi industri sebagai strategi pembangunan nasional dan penguatan daya saing ekonomi, menurut sebuah studi terbaru.
Laporan Institute for Essential Services Reform (IESR) menyebut, sektor industri juga menjadi salah satu sumber emisi terbesar. Emisi industri mencapai sekitar 382 juta ton CO₂ pada 2023, setara 32,9 persen dari total emisi nasional. Di sisi lain, sektor manufaktur menyumbang sekitar 19,8 persen produk domestik bruto, menyerap 13,86 persen tenaga kerja nasional, dan menghasilkan sekitar 74 persen nilai ekspor nonmigas.
Chief Executive Officer IESR Fabby Tumiwa, mengatakan, dekarbonisasi industri semakin menentukan daya saing perdagangan. Sejak Januari 2026, Uni Eropa telah menerapkan fase definitif carbon border adjustment mechanism (CBAM), sebuah regulasi yang mengenakan harga karbon pada barang-barang padat karbon yang diimpor ke UE.
“Potensi kewajiban karbon terhadap produk Indonesia diperkirakan mencapai USD 208,1 juta dan dapat meningkat menjadi USD 288,4 juta apabila cakupannya diperluas. Risiko ini terutama dihadapi industri besi dan baja serta dapat meluas ke subsektor lainnya,” kata Fabby dalam peluncuran laporan tersebut, Kamis, 8 Oktober 2026.
Fabby mengatakan, Indonesia juga harus memperbaiki sistem verifikasi emisi. Pasalnya saat ini masih terjadi keterbatasan data emisi yang terverifikasi. Hal ini penting untuk menunjukkan akurasi kinerja emisi industri seperti pada baja dan besi.
Menurut Fabby, dekarbonisasi dapat dilakukan dengan efisiensi energi dan material untuk menghemat biaya. Misalnya, peralihan baja menuju tungku busur listrik dapat menghemat sekitar USD 90 per ton CO₂, pengurangan clinker factor pada semen sekitar USD 61 per ton CO₂, dan peningkatan efisiensi pada proses pengecoran otomotif sekitar USD 49 per ton CO₂.
“Meski demikian, penerapan teknologi efisien masih terhambat oleh lemahnya kapasitas teknis, informasi, dan insentif. Heat pump, misalnya, memiliki potensi besar untuk mendekarbonisasi kebutuhan panas industri bersuhu rendah, sedangkan motor listrik mengonsumsi sekitar 72 persen listrik sektor industri,” kata Fabby.
“Namun, penggunaan teknologi efisiensi tinggi masih terbatas karena keputusan investasi lebih banyak mempertimbangkan biaya awal dibandingkan biaya operasional sepanjang umur teknologi,” ujarnya.
Di sisi lain, percepatan dekarbonisasi tidak dapat dilakukan dengan pendekatan yang sama untuk seluruh subsektor dan pelaku industri. Pemerintah perlu mempertimbangkan kesiapan teknologi, kondisi ekonomi, kapasitas perusahaan, serta tuntutan dari pasar ekspor, pembeli, dan rantai pasok terhadap produk rendah karbon.
“Pemerintah harus menyusun target jangka panjang yang jelas untuk dekarbonisasi industri, serta menyediakan dukungan teknis, insentif, dan akses pembiayaan agar industri dapat bergerak lebih cepat tanpa mengorbankan daya saing,” kata Fabby.




