Jumat, 02 Oktober 2026

            

Berita

Deforestasi oleh Perkebunan Sawit Turun Sejak 2015: Studi

Deforestasi oleh sawit selama 2001-2015 seluas 340 ribu hektare per tahunnya, sedangkan selama 2016–2024 menjadi 80 ribu hektare per tahunnya.

Jumat, 02 Oktober 2026
Areal deforestasi di dalam konsesi perkebunan sawit PT Alam Lestari Indah, di Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah, didokumentasikan pada Juli 2025. Foto: Auriga Nusantara.
Areal deforestasi di dalam konsesi perkebunan sawit PT Alam Lestari Indah, di Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah, didokumentasikan pada Juli 2025. Foto: Auriga Nusantara.

BETAHITA.ID - Deforestasi atau kehilangan hutan alam akibat pembangunan perkebunan sawit, termasuk di Indonesia, cenderung menurun sejak 2015, menurut sebuah penelitian terbaru. Menurut para peneliti, komitmen nol deforestasi yang diadopsi oleh para produsen, pedagang dan pembeli minyak sawit punya andil di balik penurunan deforestasi tersebut.

Dalam makalah pra-cetak yang belum melalui proses peninjauan sejawat, David Gaveau bersama tujuh peneliti lainnya dari dalam dan luar negeri, di antaranya Adria Descals, Erick Meijaard, dan Husna Yaen, menguraikan temuan mereka bahwa deferostasi oleh perkebunan sawit menurun setelah komitmen nol deforestasi.

David Gaveau mengatakan, ia dan para peneliti lainnya mengidentifikasi seluruh kawasan di seluruh dunia yang ditanami sawit secara monokultur, dengan menggunakan satelit dan metode yang menggabungkan klasifikasi berbasis deep learning serta interpretasi visual oleh para ahli. Selanjutnya, memetakan lokasi-lokasi di mana perkebunan sawit secara langsung menggantikan hutan hujan hijau abadi primer di seluruh wilayah tropis setiap tahunnya antara 2001 dan 2024.

"Kami mengidentifikasi perkebunan sawit di 47 negara tropis dan memetakan total 30,17 juta hektare (Mha), yang terdiri dari 65,8% perkebunan industri dan 34,2% perkebunan petani kecil. Setelah mengoreksi kesalahan klasifikasi, luas perkebunan kelapa sawit yang telah disesuaikan adalah 29,86 Mha (interval kepercayaan 95%: 29,17–30,55 Mha)," kata Gaveau, pada Kamis (1/10/2026).

Dari identifikasi itu, Gaveau dan peneliti lainnya menemukan bahwa antara 2001 dan 2024, perkebunan sawit telah menggantikan 5,86 juta hektare (95% CI: 5,60, 6,11) hutan hujan tropis tua di 47 negara, atau 7,5% dari total kehilangan hutan hujan yang dipetakan. Sekitar 73% dari konversi ini terkait dengan perkebunan industri, sementara 88% terjadi di Sumatera, Borneo, dan Semenanjung Malaysia, jantung historis produksi minyak sawit modern, dengan Indonesia dan Malaysia sebagai produsen terbesar di dunia.

Gaveau bilang, hasil penelitian ini menunjukkan terjadinya penurunan konversi hutan menjadi perkebunan sawit setelah 2015. Selama 2001–2015, 343.000 hektare hutan dikonversi menjadi perkebunan sawit setiap tahunnya. Selama 2016–2024, angka ini turun menjadi 80.000 hektare per tahun.

"Konversi ini juga menjadi bagian yang lebih kecil dari hilangnya hutan hujan tropis setelah 2015. Konversi ke perkebunan sawit menyumbang 12,2% dari total kehilangan hutan sebelum 2015, dibandingkan dengan 2,2% setelah 2015," ujar Gaveau.

Sejak komitmen NDPE

Sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam PNAS meneliti komitmen nol defoestasi (zero deforestastion commitments-ZDC) di dalam konsesi sawit Indonesia antara 2018 dan 2020. Studi tersebut menemukan bahwa konsesi yang terkait dengan perusahaan yang memiliki komitmen nol deforestasi menunjukkan tingkat deforestasi yang sangat rendah, dan bahwa deforestasi juga menurun dengan besaran yang serupa di konsesi yang memiliki komitmen tersebut. Para penulis menyimpulkan bahwa tidak ada nilai tambah dari komitmen nol deforestasi perusahaan.

"Namun, apakah kinerja serupa antara konsesi dengan dan tanpa komitmen tersebut berarti bahwa komitmen tersebut tidak memberikan pengaruh apa pun?" katanya. 

Gaveau mengatakan, alih-alih membandingkan konsesi individual dalam jangka waktu singkat, studi baru yang ia dan peneliti lainnya lakukan ini meneliti pola global perluasan perkebunan sawit dan konversi hutan terkait selama lebih dari dua dekade. Hal ini memungkinkan ia dan para peneliti lainnya untuk membandingkan periode sebelum dan sesudah komitmen nol deforestasi menjadi meluas.

Salah satu temuan yang mencolok, lanjut Gaveau, adalah penurunan deforestasi yang didorong oleh perkebunan sawit tetap berlanjut meskipun terjadi pemulihan yang kuat pada harga minyak sawit. 

Gaveau menuturkan, menurut penelitiannya bersama peneliti lain sebelumnya di Indonesia terkait erat dengan ekspansi perkebunan sawit dan hilangnya hutan, menunjukkan bahwa peningkatan tahunan sebesar 1% pada harga minyak sawit mentah dikaitkan dengan peningkatan 1,08% pada ekspansi perkebunan industri baru dan peningkatan 0,68% pada hilangnya hutan selama 2001–2019. 

"Namun, konversi hutan menjadi perkebunan sawit terus melambat setelah 2019 bahkan ketika harga minyak sawit naik tajam, dari sekitar USD600 per ton pada 2015 menjadi mendekati USD1.500 per ton dalam beberapa tahun terakhir," ujarnya. 

Harga tinggi, sambung Gaveau, tampaknya tidak lagi mempercepat pembukaan lahan hutan untuk perkebunan baru pada tingkat yang sama seperti di masa lalu. Hal tersebut, bisa jadi merupakan indikator terkuat bahwa komitmen nol deforestasi berkontribusi pada penurunan tersebut, meskipun faktor lain seperti menurunnya ketersediaan lahan yang sesuai untuk perkebunan baru dan kebijakan perlindungan hutan domestik, mungkin juga berperan.

Yang jelas, imbuh Gaveau, sektor minyak sawit saat ini berbeda dengan sektor pada 2000-an. Di lapangan, perkebunan baru sekarang cenderung tidak langsung menggantikan hutan karena para pedagang dan pembeli utama semakin teliti dalam mengawasi deforestasi dalam rantai pasokan mereka dan menghadapi risiko reputasi dan komersial yang besar ketika melakukan pengadaan dari lahan yang baru saja mengalami deforestasi.

Sebuah kemajuan tapi bukan akhir deforestasi oleh sawit

"Apa pun alasan di balik penurunan tersebut, temuan kami menunjukkan bahwa kemajuan telah dicapai dalam mengurangi deforestasi yang disebabkan oleh perkebunan sawit. Namun, hal ini belum hilang sepenuhnya," kata Gaveau. 

Ia mengatakan, sekitar 80.000 hektare hutan primer masih diubah menjadi kelapa sawit setiap tahun selama periode 2016–2024. Di Papua, wilayah perbatasan baru, jumlahnya meningkat dua kali lipat pada tahun 2025 dibandingkan tahun sebelumnya, dan terus mengancam beberapa kawasan lindung, seperti Cagar Alam Rawa Singkil di Sumatra, yang merupakan rumah bagi populasi orangutan yang besar.

Selain itu, lanjut Gaveau, pengurangan deforestasi saat ini tidak menghapus warisan lingkungan dari perluasan perkebunan yang sebelumnya mengorbankan hutan rawa gambut di Indonesia. Area luas perkebunan sawit di Sumatera dan Kalimantan dibangun di lahan gambut yang telah dibersihkan dan dikeringkan selama 50 tahun terakhir. Setelah kering, tanah gambut yang kaya karbon ini menjadi sangat rentan terhadap kebakaran.

Konsekuensi dari deforestasi di masa lalu ini, katanya, masih terasa hingga saat ini. Pada akhir Agustus lalu, 900.000 hektare lahan telah terbakar selama musim kebakaran Indonesia 2026, dengan kebakaran paling parah terjadi di lahan gambut yang sebelumnya telah mengalami deforestasi dan pengeringan, termasuk di dalam konsesi bersertifikasi RSPO. 

"Ketika lahan gambut tropis yang dikeringkan terbakar, ia menghasilkan asap beracun yang tebal dan melepaskan sejumlah besar gas rumah kaca," ucap Gaveau.

Maka dari itu, masih kata Gaveau, meskipun industri minyak sawit saat ini mungkin tidak lagi dikaitkan dengan tingkat deforestasi yang sama seperti pada 2000-an, beberapa petani terus menebang hutan, dan sebagian dari industri ini masih beroperasi di lahan gambut yang telah dikeringkan yang membawa konsekuensi jangka panjang dari deforestasi masa lalu, termasuk kebakaran berulang yang menghasilkan polusi udara yang parah, membahayakan kesehatan manusia, dan melepaskan sejumlah besar gas rumah kaca.

"Oleh karena itu, mencegah deforestasi baru hanyalah satu bagian dari tantangan. Melindungi lahan gambut yang tersisa, memulihkan hidrologi gambut yang terdegradasi, dan menghentikan kebakaran berulang sama pentingnya. Pemantauan berkelanjutan juga sangat penting, karena konversi hutan untuk perkebunan kelapa sawit telah menurun tetapi belum hilang sepenuhnya," ujarnya.