Berita
Lautan Dunia Menyerap Panas Pemecah Rekor pada 2025
Jumlah panas yang diserap dunia tahun lalu setara dengan 40 kali lipat penggunaan energi global tahunan.
Sabtu, 03 Oktober 2026

BETAHITA.ID - Energi panas sebesar 23 zettajoule—jumlah yang memecahkan rekor—masuk ke lautan dunia tahun lalu, menyebabkan air laut menjadi lebih panas, permukaannya lebih tinggi, dan kondisinya menjadi kurang ramah bagi kehidupan, menurut sebuah laporan terbaru.
Penambahan energi termal yang sangat besar ini—yang jumlahnya hampir 40 kali lipat dari total energi yang digunakan umat manusia pada tahun tersebut—terjadi di tengah perubahan luas yang memengaruhi perairan dalam, yang merupakan elemen vital bagi kehidupan di Bumi.
Menurut edisi ke-10 laporan kondisi lautan Copernicus, permukaan laut telah naik sekitar 3,8 mm per tahun sejak 1999, dengan laju yang lebih cepat, yakni 4,2 mm per tahun, pada periode antara 2012 dan 2025. Laporan tersebut juga menemukan bahwa tingkat keasaman lautan global telah meningkat sebesar 17% dalam 40 tahun terakhir.
Lautan telah menyerap sekitar sepertiga dari karbon dioksida yang dilepaskan oleh manusia dan sekitar 90% dari panas berlebih yang terperangkap dalam sistem Bumi akibat polusi gas rumah kaca.
"Lautan sedang berubah tepat di depan mata kita," ujar Pierre Bahurel, Direktur Jenderal Mercator Ocean International, lembaga yang menerbitkan laporan tersebut, Rabu, 30 September 2026.
"Pemanasan, kenaikan permukaan laut, dan degradasi ekosistem merupakan tanda-tanda yang saling berkaitan dari perubahan signifikan dan berjangka panjang," ujarnya.
Di Eropa—wilayah yang mengalami pemanasan dua kali lebih cepat dibandingkan rata-rata global—para ilmuwan menemukan bahwa Laut Tengah dan Laut Hitam telah dilanda gelombang panas laut yang memecahkan rekor, dengan suhu tinggi yang bertahan hingga jauh di bawah permukaan air, serta periode panas ekstrem yang berlangsung lebih dari satu bulan.
Para ilmuwan juga menemukan adanya percepatan yang nyata dalam kenaikan permukaan laut di wilayah barat Mediterania, sementara wilayah timurnya menunjukkan peningkatan yang tidak merata.
Laporan tersebut mengungkapkan bahwa suhu keseluruhan laut telah meningkat sebesar 0,32°C per dekade, yang memicu gelombang panas laut, terutama dalam beberapa tahun terakhir. Joule, satuan yang digunakan untuk mengukur panas, adalah jumlah energi listrik yang dibutuhkan untuk menjalankan perangkat berdaya satu watt selama satu detik; sedangkan zettajoule setara dengan satu miliar triliun joule.
Laporan ini muncul saat Eropa Barat mengalami bulan September yang luar biasa hangat, tepat setelah musim panas yang dilanda kebakaran hebat dan kerusakan parah, dengan suhu mencapai puncaknya hingga 40°C di beberapa wilayah Spanyol dan Portugal pekan lalu. Suhu air laut pesisir yang panas memperparah gelombang panas di daratan dengan menambah panas pada malam hari, saat suhu seharusnya mendingin.
Laporan tersebut mendokumentasikan kerusakan luas pada kehidupan laut akibat suhu panas. Antara Januari 2023 dan September 2025, 84% terumbu karang dunia mengalami tekanan panas yang memicu pemutihan.
Selama 30 tahun terakhir, hampir 5% wilayah lautan mengalami perubahan pola pertumbuhan yang persisten pada fitoplankton—organisme renik yang menjadi fondasi jaring-jaring makanan dan pengatur aliran karbon. Di Antartika, empat koloni penguin kaisar mengalami kegagalan total dalam perkembangbiakan pada tahun 2022, bertepatan dengan periode rekor terendah luas es laut.




