Berita
Di Kalbar, Bekantan dan Manusia Sama Kehausan Karena Kekeringan
Musim kemarau panjang dan kebakaran hutan di Kalbar berdampak pada kematian satwa seperti bekantan.
Sabtu, 03 Oktober 2026

BETAHITA.ID - Sore itu bukan hari biasa bagi Mustar. Dalam perjalanan pulang setelah mencari kerang rawa, dia dan putranya menemukan sejumlah bangkai bekantan tergeletak di berbagai titik di dalam area hutan mangrove di Desa Sungai Nibung, Teluk Pakedai, Kubu Raya, Kalimantan Barat.
“Ada empat ekor. Lalu kami temukan lagi satu (monyet) lain, masih di dalam mangrove. Masih hidup tetapi lemas, sepertinya dia kehausan. Tapi kami tidak membawa air, dan hari sudah malam, jadi kami pulang,” kata Mustar saat dihubungi redaksi akhir September lalu.
Mustar, yang merupakan warga Dusun Tanjung Ruu, Sungai Nibung, mengaku pemandangan yang dialami pada awal September itu tidak biasa. Dia menduga hewan-hewan tersebut kehausan. Desa tersebut memang sedang mengalami krisis air bersih di tengah musim kemarau panjang dan turut terdampak kabut asap akibat kebakaran hutan di desa tetangga.
Kesaksian Gunawan, warga RT 2 Dusun Tanjung RUU, beda lagi. Perilaku aneh hewan-hewan itu telah dia sadari sejak Agustus lalu, persis saat musim kemarau mulai memburuk. Pada 7 Agustus 2026, Gunawan menemukan sekitar enam bekantan bergerombol di pohon-pohon di belakang rumah, yang berbatasan langsung dengan hutan desa.
Pada hari yang sama, Gunawan juga menyaksikan seekor bekantan turun ke pantai, sedang meminum air laut. Namun saat sedang minum, primata itu digigit anjing dan mati. Kesimpulan Gunawan serupa dengan Mustar.
“Monyet (bekantan) itu tidak biasa datang ke kawasan permukiman. Mungkin mereka turun karena haus dan kena asap dari desa sebelah,” ujarnya.
Bekantan (Nasalis larvatus) adalah satwa endemik Pulau Kalimantan, yang berhabitat di rawa-rawa dan hutan mangrove. Hewan ini termasuk jenis monyet, namun memiliki ciri khas unik seperti hidung yang besar dan merah serta perut buncit. Spesies ini juga dilindungi dan masuk dalam daftar merah Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) dengan status terancam (endangered).
Naomi Siauta, site manager untuk Kubu Raya di Yayasan Planet Indonesia (YPI), organisasi konservasi dan keadilan iklim yang berbasis di Kalimantan Barat dan melakukan pendampingan di desa tersebut mengatakan, Sungai Nibung mengalami kekeringan dan krisis air bersih sejak Agustus. Hal ini juga menyebabkan sejumlah keluarga keluar dari desa di tengah musim gelombang dan kabut asap akibat kebakaran hutan.
“Yang kami pahami primata bekantan tidak pernah turun sampai ke pantai, lebih banyak di hutan gambutnya. Masyarakat bilang kita manusia sekarang krisis air minum, apalagi satwa,” katanya.
Asap juga menjadi salah satu masalah. Naomi berkata saat mereka berkunjung ke Sungai Nibung. “Saat kami berkunjung, jarak pandang itu sudah tidak kelihatan.”
YPI menjadi salah satu mitra yang melakukan pengawasan kawasan di hutan desa Sungai Nibung seluas lebih dari 3.000 hektare, termasuk patroli hutan.
“Seperti di wilayah Kalimantan lainnya, hampir tiga bulan di Sungai Nibung tidak turun hujan. Dusun dampingan kami sendiri tidak terkena karhutla secara langsung, tapi dampak asap dari desa-desa tetangga sampai ke sana. Makanya menimbulkan dampak ke primata. Sejauh ini kemungkinan paling besar yang terjadi adalah hewan-hewan itu mengungsi,” kata Naomi.
Naomi mengatakan, bekantan sendiri tidak banyak ditemukan di hutan desa. Mereka menyimpulkan bekantan tersebut mengungsi dari hutan di desa-desa tetangga.
Kekeringan dan asap juga berdampak pada satwa lain, seperti lutung dan monyet. Menurut temuan tim patroli YPI, yang melakukan penghitungan ke dalam hutan pasca temuan warga dengan sistem dokumentasi, sekitar 10 ekor bekantan mati di dalam hutan. Kondisi hutan juga meranggas, mulai dari tanah, rerumputan, hingga vegetasi pohon.
Sementara itu untuk lutung dan monyet, lebih dari 10 ekor ditemukan mati. Dari dokumentasi yang diterima Betahita, rata-rata satwa tersebut ditemukan dalam posisi tergantung di pohon ataupun di atas tanah. Ada pula yang hanya menyisakan kerangka atau tengkorak.
“Jumlahnya bisa lebih banyak lagi, karena ini masih di luar temuan masyarakat,” kata Naomi.
Kebakaran hutan di Kalimantan Barat dan sejumlah wilayah Indonesia merupakan peristiwa berulang. Tahun 2026 menjadi salah satu yang terburuk, diperparah oleh fenomena El Nino Godzilla.
Analisis Sustainable Innovative Research (SIAR), organisasi yang berbasis di Pontianak, mengungkap setidaknya terdapat 3.741 titik panas (hotspot) di Kalimantan Barat selama periode 1 Januari hingga 31 Agustus 2026, dengan tingkat kepercayaan di atas 80 persen. Lebih dari 25.000 titik diidentifikasi berada di konsesi perusahaan, seperti perkebunan kelapa sawit, pertambangan, dan kehutanan.
Adapun 7.000 hektare dari luas terbakar di Kalimantan Barat sepanjang 2026 diidentifikasi di kawasan hidrologis gambut.
Untuk luas, Sipongi Kemenhut mencatat Kalimantan Barat sebagai salah satu titik kebakaran terparah, dengan total area terbakar mencapai 48.536 hektare per 14 September 2026.
Krisis air bersih
Hingga saat ini masyarakat desa Sungai Nibung mengalami krisis air bersih. Selama ini, warga desa menampung air hujan untuk persediaan masak dan minum. Sementara itu air kolam yang digali digunakan untuk mencuci dan mandi.
“Saat ini tersisa dua kolam yang digunakan oleh warga. Kondisi airnya itu kuning dan payau, harus disaring dulu baru dimasak,” kata Naomi.
Naomi mengatakan, pihaknya telah menjalin komunikasi dengan pemerintah desa terkait kebutuhan air bersih di Sungai Nibuung.
Karena lokasinya yang terisolir dan berada di pinggir laut, warga kesulitan mendapatkan air bersih dari luar desa. Butuh 20-30 menit dengan sampan tradisional untuk mencapai ibu kota desa. Itupun harus menunggu gelombang dan arus surut terlebih dulu.
“Tetapi tidak semua bisa, karena biaya transportasinya mahal dan tidak semua punya sampan. Jadi masyarakat terpaksa memasak air kolam karena persediaan air hujan sudah habis,” katanya.




