Berita
Tengah September, Produksi Titik Panas Indonesia Masih Tinggi
Sebanyak 79.383 titik panas berada di area dengan fungsi ekosistem gambut lindung, sementara 59.995 titik lainnya di area budidaya
Kamis, 24 September 2026

BETAHITA.ID - Produktivitas Indonesia dalam menghasilkan titik panas (hotspot) masih terbilang tinggi. Sepanjang 1–14 September, wilayah negara kepulauan ini masih menghasilkan sebanyak 139.378 titik panas dan seluruhnya berada di ekosistem gambut. Artinya, bila dirata-rata Indonesia memproduksi sekitar 9.955 titik panas tiap harinya, yang berpotensi sebagai titik kebakaran.
Demikian menurut hitungan Pantau Gambut, yang menyebut data tersebut dihimpun dari titik panas satelit, yakni 61% deteksi berasal dari VIIRS, 32% dari SNPP, dan 8% dari MODIS, sekitar 90% berada pada level keyakinan (confidence) nominal.
Pantau Gambut mengungkapkan, Kalimantan Tengah menyumbang 77.311 titik panas (55%) yang menjadikannya provinsi dengan titik panas terbanyak, disusul Kalimantan Barat dengan 31.595 (23%). Dua provinsi ini bersama menguasai 78% dari seluruh titik panas nasional. Sumatera Selatan berada di posisi ketiga dengan 14.391 (10%), jauh di bawah dua provinsi Kalimantan, diikuti Papua Selatan (4.875) dan Kalimantan Selatan (3.364).
Juru Kampanye Pantau Gambut, Putra Saptian, mengatakan hampir seluruh titik panas di Kalimantan Tengah berada di bekas area food estate, mencapai 40,1% sepanjang 1–14 September 2026. Dari total 77.311 titik di seluruh Kalimantan Tengah, 31.022 titik tersebar di lima blok proyek ini.
"Blok C menjadi area terbanyak ditemukan dengan 18.082 titik panas," katanya, pada Senin (21/9/2026).
Sejalan dengan proyek strategis nasional di Kalimantan Tengah, imbuh Putra, dari 90,9% titik panas yang ditemukan pada periode 1–14 September ditemukan pada area yang dibebaskan melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 591 Tahun 2025 sebagai lahan yang disediakan untuk proyek swasembada pangan, energi, dan air nasional di Papua Selatan.
"Jadi ada 4.875 titik panas di seluruh Papuas Selatan, dan sebanyak 4.432 di antaranya berada di area SK Menhut No. 591/2025," ujar Saptian.
Saptian menguraikan, dalam periode ini titik panas yang terpantau Pantau Gambut lebih banyak berada di area yang seharusnya dilindungi. Dari 139.378 titik panas hingga 14 September, 79.383 titik (57%) berada di area dengan fungsi ekosistem gambut lindung, sementara 59.995 titik (43%) di area budidaya. Proporsi ini konsisten sejak Agustus.
"Temuan ini menunjukkan titik panas justru lebih dominan terjadi di kawasan yang secara status seharusnya mendapat perlindungan, bukan semata di area yang memang telah dialihfungsikan untuk usaha," katanya.
Selain itu, Pantau Gambut juga mengidentifikasi keberadaan titik panas di dalam areal konsesi perusahaan. Di level konsesi perkebunan (HGU), titik panas tertinggi tercatat di lahan PT Central Sejahtera Sukses (2.179) yang berada di Kalimantan Tengah. Sementara, pada konsesi kehutanan (PBPH), PT Mohairson Pawan Khatulistiwa di Kalimantan Barat mencatat titik panas tertinggi secara nasional (3.126), jauh di atas konsesi lainnya.
Kemenhut sebut titik panas turun
Sementara itu, Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mengklaim titik panas di Indonesia turun. Dalam keterangan resminya, berdasarkan data SiPongi Kemenhut yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20, hingga 21 September 2026 pukul 21.10 WIB, secara nasional terdeteksi 688 hotspot high confidence, turun sebanyak 844 titik dibandingkan 1.532 titik pada hari sebelumnya.
Pada enam provinsi prioritas, hotspot high confidence tercatat Kalimantan Tengah 228 titik, turun dari 968 titik; Kalimantan Selatan 71 titik, meningkat dari 39 titik; Kalimantan Barat 36 titik, turun dari 98 titik; Sumatera Selatan 23 titik, turun dari 285 titik; Jambi 2 titik, turun dari 26 titik; dan Riau 0 titik, turun dari 1 titik.
Kemenhut mengatakan, secara keseluruhan, hotspot high confidence pada enam provinsi prioritas turun dari 1.417 menjadi 360 titik, atau berkurang sekitar 74,6 persen dalam satu hari.
Penurunan paling besar secara jumlah, lanjut Kemenhut, terjadi di Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan. Meski demikian, Kalimantan Tengah masih mencatat hotspot tertinggi di antara enam provinsi prioritas, sementara Kalimantan Selatan menjadi satu-satunya dari enam provinsi tersebut yang menunjukkan peningkatan dibandingkan sehari sebelumnya.
Kemenhut menegaskan bahwa hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit dan tidak dapat langsung disamakan dengan satu kejadian kebakaran maupun luas area yang terbakar. Setiap indikasi tetap harus diverifikasi melalui groundcheck dan kondisi aktual di lapangan.




