Kamis, 17 September 2026

            

Berita

Pembakaran Hutan: 3 Orangutan Kembali Dievakuasi

Kondisi yang ditemukan pada ketiga orangutan menunjukkan semakin mendesaknya upaya penyelamatan di tengah dampak karhutla

Kamis, 17 September 2026
Kondisi orangutan Penja sesaat setelah diselamatkan di Kayong Utara. Sumber: YIARI.
Kondisi orangutan Penja sesaat setelah diselamatkan di Kayong Utara. Sumber: YIARI.

BETAHITA.ID - Bencana akibat pembakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi momok bagi satwa liar, termasuk orangutan. Di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, tiga orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus wurmbii) terpaksa dievakuasi setelah ditemukan dalam kondisi menyedihkan, lemas dan kelaparan, pada 12 September 2026. Tiga primata dilindungi ini diduga jadi korban kebakaran di habitatnya. 

Dalam dua operasi penyelamatan di hari yang sama, tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) serta didukung oleh Yayasan Palung melakukan evakuasi tiga individu orangutan, terdiri dari sepasang induk dan anak di Desa Penjalaan serta satu orangutan jantan dewasa di Desa Padu Banjar, Kecamatan Simpang Hilir.

"Orangutan yang dievakuasi dari Kabupaten Kayong Utara menunjukan progres (kesehatan) baik. Dan akan dirawat di pusat rehabilitasi sampai kondisi di habitat bisa aman. Belum tahu berapa lama," ujar Karmele, Llano Sanchez, dokter hewan satwa liar sekaligus Direktur Utama YIARI, pada Rabu (16/9/2026). 

Karmele menyebutkan, dua individu orangutan yang ditemukan di Desa Penjalaan kemudian diberi nama Mama Penja dan Penja. Keduanya ditemukan di salah satu kebun sawit milik warga transmigrasi.

Hutan Desa Penjalaan serta Hutan Desa Padu Banjar yang merupakan habitat orangutan sekaligus buffer area untuk Taman Nasional Gunung Palung (Tanagupa) mengalami kebakaran yang sangat parah. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan mengingat Tanagupa merupakan kantong populasi orangutan yang sangat paling penting di Kalbar.

“Saat kami tiba di lokasi, kami melihat induk orangutan dan anaknya dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Keduanya terlihat sangat kurus dan lemas, dan hampir tidak bergerak dari sarangnya, meskipun banyak orang berada di sekitar mereka,” ujar Karmele.

Setelah orangutan berhasil dibius menggunakan blow dart, lanjut Karmele, tim medis segera memberikan pertolongan pertama, termasuk pemberian cairan infus dan oksigen, sebelum mengevakuasi keduanya ke Pusat Rehabilitasi YIARI untuk mendapatkan pemeriksaan dan perawatan lebih lanjut.

Karmele menambahkan, saat tim melakukan pemeriksaan, induk orangutan terlihat sangat dehidrasi dan pucat. Tim juga menemukan luka bakar pada kedua kakinya, hingga menyebabkan kulit terkelupas. Kemungkinan luka tersebut terjadi karena orangutan berjalan di atas tanah gambut yang terbakar. 

Kondisi giginya, lanjut Karmele, juga cukup memprihatinkan dan terlihat banyak mengalami pengikisan. Salah satu kemungkinan adalah karena keterbatasan pakan akibat kebakaran, sehingga orangutan terpaksa mengonsumsi kulit pohon atau jenis makanan lain yang tidak sesuai secara terus-menerus. 

"Yang paling menyedihkan bagi saya adalah ketika orangutan mulai terbangun dari pembiusan. Ia tidak menunjukkan perilaku agresif atau berusaha melawan. Ia hanya mencari makanan. Seolah-olah yang ada dalam pikirannya hanya satu: mencari sesuatu untuk dimakan. Itu menunjukkan betapa laparnya ia,” ujar Karmele.

Karmele melanjutkan, berdasarkan pemeriksaan dokter hewan dan hasil pemeriksaan laboratorium setelah orangutan tiba di klinik, induk orangutan diketahui mengalami anemia berat. Melihat kondisi orangutan separah ini, dirinya hampir tidak percaya bagaimana orangutan tersebut masih mampu bertahan hidup. 

Karmele dan tim menduga kondisi kekurangan makanan yang berkepanjangan, kemungkinan selama berminggu-minggu sejak kebakaran mulai di areanya pada 2 bulan lalu, telah menyebabkan kondisi tubuh satwa dilindungi ini semakin memburuk hingga mengalami anemia berat. 

"Kami masih berharap ia dapat bertahan hidup. Saat ini, prioritas kami adalah menstabilkan kondisinya, memberikan nutrisi dan perawatan intensif, serta memastikan anaknya juga mendapatkan perawatan yang mereka butuhkan. Semoga keduanya masih memiliki kesempatan untuk pulih dan suatu hari nanti kembali hidup di alam,” ujar Karmele.

Setelah evakuasi di Penjalaan, tim gabungan juga menindaklanjuti laporan warga mengenai perjumpaan orangutan di Desa Padu Banjar. Tim juga menggunakan senapan bius untuk bisa mengevakuasi orangutan ini dengan aman. 

Setelah orangutan ini terbius, tim segera melakukan pemeriksaan kondisi fisiknya. Tim menemukan microchip yang menunjukan bahwa orangutan ini sudah pernah dievakuasi sebelumnya dari hutan yang sama pada 2022.

“Kemungkinan orangutan ini yang telah dievakuasi dan dilepaskan kembali pada tahun 2022 menunjukan bahwa selama ini kondisi habitat cukup aman untuk orangutan tersebut, namun karena kebakaran yang meluas, mendorong orangutan ini masuk di wilayah kampung dan di kebun masyarakat,” kata Argitoe Ranting, Direktur Operasional Program YIARI.

Tim dokter hewan yang melakukan pemeriksaan menyeluruh menggunakan stetoskop menemukan adanya suara abnormal pada bagian paru-paru kanan. Sebelumnya, tim menerima informasi bahwa Kumbang sempat terdengar batuk. 

Kondisi ini diduga akibat asap dari karhutla karena ketika dilakukan evakuasi, kondisi kebun ini dipenuhi kabut asap yang cukup tebal. Tim medis kemudian memberikan dukungan berupa cairan infus dan induksi oksigen. 

Tim medis juga menemukan sejumlah luka dan bekas cedera pada tubuhnya, antara lain bekas luka cukup panjang pada bagian punggung kanan, sejumlah bekas luka pada kaki, serta satu luka yang berdasarkan pemeriksaan awal dapat merupakan bekas abses atau cedera akibat proyektil. 

Tim juga menemukan benda asing yang tertanam pada bagian tangan kanan yang diduga merupakan peluru, serta bekas jerat. Dari identifikasi individu, tim kemudian memastikan bahwa orangutan jantan tersebut adalah Kumbang, individu yang pernah diselamatkan pada 2022.

Lebih lanjut, Argitoe juga menyampaikan bahwa kondisi yang ditemukan pada ketiga orangutan menunjukkan semakin mendesaknya upaya penyelamatan di tengah dampak karhutla. Ia bilang, evakuasi ini menjadi semakin mendesak karena dampak karhutla terhadap satwa liar sudah mulai terlihat secara langsung. 

"Pada Mama Penja, tim menemukan luka bakar yang cukup banyak pada bagian kaki, disertai kondisi tubuh yang kurus dan tanda-tanda dehidrasi. Sementara pada Kumbang, tim menemukan kondisi kesehatan yang juga perlu mendapat perhatian, termasuk adanya suara abnormal pada paru-paru dan riwayat batuk yang mengarah pada dugaan gangguan pernapasan,” katanya.

Ketiga orangutan tersebut selanjutnya menjalani pemantauan dan penanganan lebih lanjut oleh tim medis di Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Orangutan YIARI. Pemeriksaan lanjutan diperlukan untuk memastikan kondisi kesehatan masing-masing individu serta menentukan penanganan yang sesuai.

Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, turut turun langsung ke lokasi dalam proses penyelamatan ketiga orangutan ini. Ia mengatakan, penyelamatan ketiga orangutan ini dilakukan berdasarkan informasi dari masyarakat sekitar dua hari sebelumnya. 

BKSDA Kalbar, kata Murlan, berharap tiga orangutan itu dapat segera pulih dan beradaptasi dengan baik setelah mendapatkan perawatan, sehingga nantinya dapat dilepasliarkan ke habitat alaminya yang aman. Murlan menuturkan, secara keseluruhan hingga saat ini sudah ada 18 individu orangutan yang kami selamatkan akibat karhutla.

“Upaya penyelamatan satwa terdampak kebakaran hutan memerlukan informasi yg cepat dan akurat, oleh karena itu kami himbau masyarakat dapat melaporkan kepada call center Balai KSDA Kalimantan Barat 0811-5670-041 atau 0811-5776-767 jika menemukan satwa terdampak kebakaran hutan dan lahan,” kata Murlan.

Ketua Umum YIARI, Silverius Oscar Unggul, menganggap penting respons cepat di lapangan. Kasus tiga orangutan ini menunjukkan bahwa ketika habitat terbakar dan akses orangutan terhadap kawasan hutan semakin terbatas, mereka dapat terdorong masuk ke lanskap yang berisiko bagi keselamatan dan kesehatannya. 

"Karena itu, pemantauan dan respons cepat di lapangan menjadi sangat penting untuk mencegah kondisi satwa memburuk dan memastikan mereka dapat segera mendapatkan penanganan yang sesuai,” ucapnya.