Rabu, 16 September 2026

            

Berita

Erupsi Gunung sangat Memengaruhi Satwa Liar dan Ekosistem

Selain menyebabkan kematian secara langsung, abu vulkanik dapat menutupi rumput, dedaunan, dan buah-buahan yang menjadi sumber pakan satwa.

Rabu, 16 September 2026
Tampak dari ketinggian kondisi Gunung Krakatau saat mengalami erupsi. Sumber: Kementerian ESDM.
Tampak dari ketinggian kondisi Gunung Krakatau saat mengalami erupsi. Sumber: Kementerian ESDM.

BETAHITA.ID - Dampak abu vulkanik yang dihasilkan erupsi gunung tak hanya mengancam kesehatan dan keselamatan manusia saja, tetapi juga dapat mengganggu kelangsungan hidup satwa liar dan keseimbangan ekosistem. Menurut pakar satwa liar, lahar panas, abu vulkanik, serta rusaknya sumber pakan dan air menjadi sejumlah dampak yang dapat menyebabkan penurunan populasi satwa, terutama di kawasan kosnervasi yang berada di sekitar gunung api.

Dosen Departemen Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekowisata IPB University, Abdul Haris Mustari, mengatakan bahwa erupsi gunung merupakan fenomena alam yang tidak terhindarkan, dan memberikan dampak langsung terhadap berbagai komponen ekosistem.

"Saat erupsi terjadi, banyak satwa yang mati terkena langsung lahar panas dan debu vulkanik yang menyebabkan populasi menurun signifikan," katanya, pada Senin (14/9/2026).

Menurut Mustari, dampak erupsi gunung juga dapat menjangkan kawasan konservasi yang menjadi kantong habitat berbagai jenis satwa liar. Beberapa kawasan yang berpotensi terdampak antara lain adalah Taman Nasional Ujung Kulon, Cagar Alam Gunung Krakatau, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Taman Nasional Way Kambas, serta sejumlah kawasan hutan konservasi di Nusa Tenggara Timur dan Kalimantan.

Selain kematian secara langsung, imbuh Mustari, abu vulkanik dapat menutupi rumput, dedaunan, dan buah-buahan yang menjadi sumber pakan satwa. Kondisi serupa terjadi pada sumber air seperti sungai, danau, rawa, dan mata air yang dapat mengalami pencemaran abu vulkanik. Akibatnya, satwa herbivor, karnivor, omnivor, hingga serangga menghadapi tekanan ekologis.

Satwa langka dan dilindungi seperti banteng, badak jawa, badak sumatra, tapir, harimau sumatra, macan tutul, owa jawa, dan lutung jawa termasuk kelompok yang dapat terdampak. 

Penurunan populasi herbivor juga berpotensi memengaruhi karnivor karena berkurangnya sumber pakan seperti rusa, kijang, sambar, dan babi hutan.

Mustari mencontohkan, punahnya banteng dari Cagar Alam Pananjung Pangandaran salah satunya dipicu dampak erupsi Gunung Galunggung pada 1982 yang menutupi padang rumput sebagai sumber pakan banteng.

Meski demikian, sebagian satwa masih dapat menyelamatkan diri dengan berpindah menuju habitat yang lebih aman. Karena itu, kawasan hutan yang tidak terdampak perlu dipertahankan sebagai habitat sementara. Koridor ekologis, khususnya hutan riparian dan kawasan sekitar sumber air, juga penting untuk mendukung perpindahan satwa.

“Masyarakat perlu waspada terhadap kemungkinan keluarnya satwa dari kawasan hutan ke permukiman yang dapat memicu konflik manusia dan satwa liar,” ucapnya.

Mustari menambahkan, pemulihan ekosistem berlangsung bertahap. Kehidupan satwa mulai kembali seiring tumbuhnya lumut, rumput, semak belukar, hingga terbentuk hutan sekunder. Proses tersebut dapat membutuhkan sekitar 25–30 tahun untuk mendukung komunitas satwa yang lebih beragam.