Berita
Satelit Kesulitan Deteksi Kebakaran Gambut
MODIS dan VIIRS kesulitan mendeteksi kebakaran di balik asap tebal atau awan, di bawah kanopi hutan, atau di bawah tanah di endapan gambut.
Selasa, 15 September 2026

BETAHITA.ID - Para peneliti berpendapat bahwa apabila ada predator puncak di antara kebakaran, maka kebakaran lahan gambut tropis akan menjadi salah satu kandidat teratas. Sebab ketika api merambat di gambut yang berada di bawah tanah, kebakaran itu tidak akan berhenti, bahkan sensor penginderaan jauh yang terpasang pada satelit pun kesulitan mendeteksinya.
Kebakaran seperti yang tengah melanda Indonesia ini, yang terjadi di tanah lahan basah yang kering, berlangsung lambat, sangat mencemari, dan terkenal sulit dipadamkan karena membara pada suhu rendah serta sering menyebar di bawah tanah melalui endapan gambut yang luas.
Menurut perkiraan, kebakaran gambut menghasilkan partikel halus tiga kali lebih banyak daripada kebakaran hutan tropis lainnya, sulfur dioksida lima kali lebih banyak, karbon organik tiga kali lebih banyak, serta metana dan karbon monoksida dua kali lebih banyak.
Saat musim kebakaran berlangsung di Indonesia, MODIS (Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer) pada satelit Aqua NASA menangkap sebuah gambar pada 1 September 2026. Pada peta, setiap titik merah menggambarkan satu "deteksi kebakaran". Deteksi kebakaran adalah piksel di mana sensor dan algoritma menentukan adanya anomali termal yang mengindikasikan kebakaran. Beberapa deteksi dapat dihasilkan oleh satu kebakaran.
Kebakaran gambut merupakan tantangan yang berulang di Indonesia, yang memiliki sekitar 36 persen lahan gambut tropis dunia. Ketika dilanda kekeringan, lanskap gambut di negara kepulauan ini telah berubah menjadi neraka api yang tak henti-hentinya pada beberapa kesempatan selama tiga dekade terakhir, dengan kebakaran yang menghasilkan lapisan asap selama berminggu-minggu dan mengacaukan kehidupan sehari-hari jutaan orang.
Meskipun kebakaran terjadi di Indonesia setiap tahun, tahun-tahun El Niño sebelumnya--terutama 1997 dan 2015--menimbulkan kebakaran paling parah dalam beberapa dekade terakhir. Pola iklim ini, yang dinilai oleh NOAA sedang berlangsung dan semakin menguat pada Agustus, biasanya menyebabkan penurunan curah hujan yang tajam di Indonesia, terutama bila dikombinasikan dengan fase positif Dipol Samudra Hindia, yang juga sedang terjadi.
“Indonesia baru memasuki musim kebakaran sekitar tiga minggu, tetapi kami melihat aktivitas kebakaran meningkat tajam, mirip dengan tahun 2015,” kata Robert Field, seorang peneliti dari Universitas Columbia yang mengembangkan alat bernama Global Fire Weather Database yang menghasilkan prakiraan cuaca kebakaran eksperimental secara real-time, dikutip dari Nasa Earth Observatory.
"El Niño yang kuat membuat musim kemarau semakin kering di wilayah-wilayah rawan kebakaran di negara ini dan memperparah kebakaran, persis seperti yang kami perkirakan,” imbuh Field.
Pada 2015, lanjut Field, setelah berkobar selama lebih dari tiga bulan, kebakaran di Indonesia telah melepaskan 1,75 miliar ton setara gas rumah kaca--lebih banyak daripada emisi Jepang dalam setahun. Per 2 September, kebakaran di Indonesia pada 2026, yang telah berkobar selama sekitar satu bulan, telah melepaskan sekitar 10 persen dari jumlah emisi kebakaran 2015.
Seperti pada 2015, Indonesia dilanda kekeringan parah dan meluas pada musim panas 2026. Sekitar 90 persen wilayah negara ini hanya menerima curah hujan yang sangat sedikit atau bahkan tidak sama sekali pada awal Agustus, menurut data dari Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) Indonesia.
Biasanya, kondisi tanah yang terlalu basah mencegah api menyebar melalui endapan gambut bawah tanah di Kalimantan, Sumatra, dan Papua, namun hal itu bisa terjadi dalam kondisi kering.
“Kebakaran di permukaan tidak terlalu mengkhawatirkan, tetapi ketika api merambat ke bawah tanah, kebakaran itu tidak akan berhenti. Api akan terus membakar hingga hujan turun pada bulan Oktober atau November,” kata Field.
Pemerintah Indonesia menggunakan pengamatan NASA dan NOAA dari sensor MODIS dan Visible Infrared Imaging Radiometer Suit (VIIRS) untuk melacak kebakaran aktif secara hampir real-time. Misalnya, platform pemantauan kebakaran berbasis MODIS dan VIIRS milik Kementerian Kehutanan Indonesia, SiPongi, mencatat 946 titik panas pada 31 Agustus 2026.
Namun, MODIS dan VIIRS sulit mendeteksi kebakaran melalui asap tebal atau awan, di dalam kanopi hutan, atau di bawah tanah di endapan gambut. Ketika kebakaran di Indonesia mencapai puncak intensitasnya, jumlah kebakaran yang tercatat oleh VIIRS atau MODIS justru bisa berkurang.
“Paradoksnya, kejadian asap terparah justru bisa menjadi yang paling sulit diamati dari luar angkasa dengan MODIS dan VIIRS,” kata Mark Cochrane, seorang ahli ekologi di Pusat Ilmu Lingkungan Universitas Maryland yang telah melakukan penelitian lapangan mengenai kebakaran gambut di Indonesia selama hampir satu dekade.
Cochrane menuturkan, pembangunan saluran irigasi berskala besar dan pengeringan rawa gambut pada 1990-an, yang merupakan bagian dari upaya untuk pembangunan lahan persawahan padi berskala besar, turut berkontribusi terhadap tingginya risiko kebakaran di wilayah tersebut saat ini dengan menurunkan permukaan air tanah secara signifikan di kawasan lahan basah.
Ia juga mencatat bahwa perkebunan sawit dan perkebunan hutan lainnya umum ditemukan di wilayah ini. Namun, setelah musim kebakaran yang luar biasa parah pada 2015, pemerintah dan organisasi lain telah berupaya membendung beberapa saluran irigasi dan memulihkan lahan basah. Ada juga upaya baru untuk meningkatkan kapasitas pemadaman kebakaran dan mengurangi jumlah kebakaran yang secara tidak sengaja dipicu oleh manusia.
“Tahun ini akan menjadi ujian sesungguhnya bagi langkah-langkah yang diterapkan setelah tahun 2015,” kata Shi Jun Wee, seorang mahasiswa pascasarjana Universitas Maryland.
Wee sendiri terlibat dalam tim yang bermitra dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan algoritma dan teknik baru guna mendeteksi lebih banyak kebakaran di lapisan bawah hutan daripada yang dapat dilakukan oleh MODIS dan VIIRS, dengan memanfaatkan pengamatan inframerah gelombang pendek dari satelit Landsat dan Sentinel-2.
Seiring perkembangan kebakaran, ia berencana melacak perkembangannya menggunakan penjelajah data Worldview milik NASA, FIRMS (Fire Information for Resource Management System), pengamatan HLS (Harmonized Landsat and Sentinel-2), dan GFED (Global Fire Emissions Database).
Di lapangan, baik di Indonesia maupun di negara-negara tetangga, asap tersebut telah menyebabkan gangguan yang meluas. Pejabat Indonesia telah memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk telah terpapar asap berbahaya. Beberapa sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh, sembilan taman nasional telah ditutup, dan sejumlah penerbangan tertunda akibat asap tebal, menurut laporan berita.
“Orang-orang cenderung fokus pada kebakaran-kebakaran ini saat terjadi fenomena El Niño, lalu melupakannya. Kita perlu perhatian yang berkelanjutan, bahkan pada tahun-tahun ketika situasinya tidak separah itu, untuk mengatasi masalah ini. Kebakaran-kebakaran ini menghasilkan emisi dalam jumlah yang sangat besar,” ucap Cochrane.




