Sabtu, 15 Agustus 2026

            

Berita

Gajah-Gajah Mati Jelang Peringatan Hari Gajah Sedunia

Gajah Yuna adalah gajah sumatera ketiga yang mati sejak awal Agustus lalu.

Sabtu, 15 Agustus 2026
Gajah anakan betina bernama Yuna dinyatakan mati di Pusat Latihan Gajah (PLG) Saree, Aceh, pada Selasa (11/8/2026). Sumber: Kementerian Kehutanan.
Gajah anakan betina bernama Yuna dinyatakan mati di Pusat Latihan Gajah (PLG) Saree, Aceh, pada Selasa (11/8/2026). Sumber: Kementerian Kehutanan.

BETAHITA.ID - Kabar duka dari gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) seolah datang tak ada habisnya. Sehari sebelum Hari Gajah Sedunia diperingati di seluruh dunia, gajah anakan berkelamin betina bernama Yuna, dinyatakan mati pada Selasa (11/8/2026). Gajah kecil yang sebelumnya berumah di Pusat Latihan Gajah (PLG) Saree, Aceh, ini diduga kuat mati akibat serangan Elephant Endotheliotropic Herpesvirus (EEHV), jenis virus mematikan yang sangat rentan menyerang anak gajah.

Kementerian Kehutanan menguraikan, kondisi kesehatan Yuna memburuk dalam waktu yang sangat cepat. Pada Selasa pagi hingga siang, gajah berusia di bawah tiga tahun ini masih terpantau aktif beraktivitas seperti biasa. Kondisi tidak biasa baru terlihat pada pukul 16.00 WIB ketika mahout (pawang gajah) menemukan Yuna dalam keadaan lemas, mata bengkak dan merah, wajah membengkak, serta lidah pucat membiru.

Saat itu, tim dokter hewan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh dibantu mahout segera memberikan tindakan medis darurat berupa pemberian cairan infus dan multivitamin. Namun, kondisi kesehatan Yuna terus menurun secara drastis hingga terjatuh lemas dan nyawanya tidak tertolong. Gajah Yuna menghembuskan nafas terakhir pada pukul 20.48 WIB, di hari yang sama. Tim medis kemudian langsung melakukan prosedur nekropsi hingga proses pemakaman selesai pada pukul 00.30 WIB pada Rabu (12/8/2026).

Sebelum kejadian, kondisi kesehatan Yuna berada dalam pemantauan rutin harian dan evaluasi berkala per tiga bulan. Hasil pemeriksaan medis terakhir pada Juni 2026 menunjukkan Yuna dalam keadaan sehat dengan nilai Body Condition Index Score (BCIS) 5,5 (skala ideal gajah jinak 5–7). Dalam dua hari sebelum peristiwa duka ini pun tidak ditemukan indikasi gejala sakit maupun penurunan kondisi fisik.

Kepala BKSDA Aceh, Ujang Wisnu Barata, menjelaskan bahwa gajah-gajah binaan BKSDA Aceh di PLG Saree, CRU Peusangan, maupun CRU Trumon selalu mendapatkan pemeriksaan rutin harian dan general check-up berkala.

“Kondisi Yuna drop sangat cepat, yang berdasarkan diagnosa awal dipicu oleh serangan virus mematikan bagi anak gajah," katanya pada Rabu (12/8/2026). 

Secara makroskopis, lanjut Ujang, gejalanya terlihat dari pembengkakan wajah, mata merah, dan mukosa lidah kebiruan, serta perubahan mikroskopis berupa pendarahan (hemoragik) pada organ pencernaan dalam. Untuk mempertegas penyebab pasti berpulangnya Yuna, kami telah mengambil sampel organ guna pengujian laboratorium lebih lanjut.

Ujang menjelaskan, Elephant Endotheliotropic Herpesvirus (EEHV) merupakan virus herpes khusus yang menginfeksi gajah, terutama anak gajah berumur di bawah 14 tahun. Virus ini merusak lapisan dalam pembuluh darah (endothelium), menyebabkan kebocoran darah dan cairan tubuh ke organ dalam yang memicu syok fatal serta kematian mendadak dalam kurun waktu 24–48 jam, dengan tingkat kematian mencapai 80%. Penularan EEHV dapat terjadi melalui sekresi belalai, air liur, maupun feses. Kasus serupa pernah menginfeksi anak gajah Intan (4 tahun 3 bulan) di CRU Trumon, Aceh Selatan, pada 2021 lalu.

"Kami segera melakukan uji medis dan deteksi dini terhadap gajah-gajah anakan lainnya yang berusia di bawah 14 tahun, khususnya gajah Gerry, Yuyun, dan Dilan, guna mengantisipasi serta meminimalkan potensi penyebaran virus tersebut," ujar Ujang.

Kematian Gajah Yuna ini terjadi hanya berselang beberapa hari setelah gajah sumatera liar jantan ditemukan mati di areal perkebunan sawit PT Mestika Prima Lestari Indah, di Desa Kaloy, Kecamatan Tamiang Hulu, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh. Gajah ini diduga mati akibat keracunan, dan diperkirakan sudah mati tiga hari sebelum jasadnya ditemukan.

Kematian gajah sumatera tercatat berturut terjadi. Sebelumnya, pada 3 Agustus 2026, gajah jinak penghuni PLG Minas di Kabupaten Siak, Riau, bernama Jovi, lebih dulu menghembuskan nafas terakhirnya, setelah selama 34 hari menjalani perawatan medis. Gajah jantan dewasa yang diperkirakan berusia sekitar 46 tahun ini diduga mati akibat komplikasi infeksi saluran pencernaan dan pernapasan atas yang memicu kelemahan otot berat (myopathy).