Berita
Gajah Sumatera Diduga Mati Akibat Racun di Aceh
Satu individu gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) ditemukan mati di kebun sawit PT MPLI di Aceh Tamiang.
Selasa, 11 Agustus 2026

BETAHITA.ID - Satu individu gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) ditemukan mati di kebun sawit PT Mestika Prima Lestari Indah (MPLI) di Desa Kaloy, Kecamatan Tamiang Hulu, Kabupaten Aceh Tamiang. Dugaan sementara gajah itu mati keracunan.
Kabar kematian gajah berkelamin laki-laki ini bermula dari laporan seorang karyawan PT MPLI pada Minggu tengah hari (9/8/2026). Tim dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, Polres Aceh Tamiang, Polsek Tamiang Hulu, PT. MPLI, dan mitra Forum Konservasi Leuser (FKL) sampai ke lokasi pada malam hari untuk melakukan identifikasi awal dan pengamanan lokasi.
Kepala BKSDA Aceh, Ujang Wisnu Barata menyampaikan bahwa berdasarkan hasil identifikasi awal, ditemukan bangkai 1 ekor gajah liar, berjenis kelamin Jantan dengan kondisi kedua gading masih utuh, tidak terdapat luka di bagian tubuh satwa.
“Penanganan bangkai gajah telah selesai dilakukan hari ini (10/8) oleh tim medis, yaitu bedah bangkai (nekropsi) guna memastikan penyebab kematiannya, olah TKP, dan proses penguburan” terang Ujang Wisnu.
Gajah itu diperkirakan sudah mati dari tiga hari sebelum ditemukan. Pemeriksaan awal menunjukkan penyebab kematian diduga akibat keracunan.
Sementara hasil olah TKP tidak ditemukan alat mencurigakan di sekitar lokasi. Setelah selesai dilakukan proses nekropsi dan olah TKP, selanjutnya bangkai gajah sumatera tersebut dikuburkan pada lokasi penemuan di areal perkebunan PT. MPLI.
Anggota Tim Conservation Response Unit (CRU) Serbajadi, Edy, mengungkap kosnesi PT MPLI merupakan koridor gajah. Laporan masyarakat menyebutkan sekitar enam jhingga tujuh individu melintas di kawasan tersebut.
Namun kasus kematian akibat keracunan di kawasan itu baru pertama kali terjadi.
Ia menyebutkan tidak ada tanda-tanda organ yang diambil, termasuk gading. Hasil sementara kematian ini tidak disebabkan karena perburuan.
Menurutnya proses nekropsi yang dilakukan untuk memastikan racun yang masuk ke dalam pencernaan satwa tersebut.
“Jadi karena proses kematiannya sudah tiga hari sebelum ditemukan, maka perlu diteliti organnya. Pastinya tidak ada tanda luka karena infeksi secara fisik,” ucapnya.




