Selasa, 06 Oktober 2026

            

Berita

Hari Badak Sedunia: Dua Badak Way Kambas Bunting

Dua dari lima spesies badak tersisa di dunia ada di Indonesia, yakni badak sumatera dan badak jawa. Dua jenis tersebut berstatus kritis.

Selasa, 06 Oktober 2026
Badak Delilah di SRS Way Kambas. Sumber: YABI.
Badak Delilah di SRS Way Kambas. Sumber: YABI.

BETAHITA.ID - Kabar gembira datang di tengah peringatan Hari Badak Sedunia 2026. Dua badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) betina induk yang menghuni Suaka Rhino Sumatera (SRS) Taman Nasional Way Kambas (TNWK), yakni Ratu dan Delilah, terkonfirmasi sedang bunting. 

Pada 3 Oktober 2026, Ratu tercatat tengah menjalani kebuntingan untuk calon anak keempat bersama pejantan Andalas, dengan usia kebuntingan mencapai 238 hari atau 7,9 bulan. Adapun Delilah menjalani kebuntingan untuk calon anak kedua bersama pejantan Harapan, dengan usia kebuntingan mencapai 251 hari atau sekitar 8,3 bulan. Kondisi kesehatan dan perkembangan kebuntingan kedua induk terus dipantau secara intensif oleh tim medis, keeper, dan manajemen SRS TNWK hingga proses kelahiran.

Bagi para konservasionis badak, kebuntingan dua induk badak sumatera ini sangat penting bagi keberlanjutan program pengembangbiakan badak sumatera. Melalui program SRS yang dikelola Yayasan Badak Indonesia (YABI) tersebut, hingga saat ini telah berhasil lahir 5 ekor badak sumatera, yaitu Andatu pada 2012, Delilah pada 2016, Sedah Mirah pada 2022, Anggi 2023, dan Indra 2023. 

“YABI menyampaikan terima kasih kepada seluruh lembaga dan mitra yang terus memberikan dukungan bagi konservasi badak sumatera di SRS TNWK. Secara khusus, kami menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada International Rhino Foundation (IRF), TSI dan TFCA Sumatera atas dukungan pendanaan yang diberikan untuk mendukung keberlangsungan program di SRS TNWK,” kata Jansen Manansang, Ketua Pengurus YABI, pada Sabtu (3/10/2026)

Badak Ratu yang berada di SRS Way Kambas. Sumber: YABI.

Seperti diketahui, badak sumatera menyandang status kritis (Critically Endangered) menurut IUCN Red List, dengan jumlah tidak lebih dari 80 ekor di alam. Satwa itu kini hanya tersisa di Indonesia, tersebar di Kawasan Ekosistem Gunung Leuser, TNWK, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), dan Kalimantan Timur. 

Dengan siklus kebuntingan 15–16 bulan dan masa menyapih hingga dua tahun, setiap kebuntingan dan kelahiran tidak hanya menambah individu baru, tetapi juga memperkuat peluang menjaga keragaman genetik dan membangun populasi untuk konservasi jangka panjang.

Sementara itu, ada lima jenis badak yang masih hidup di dunia, dan Indonesia menjadi rumah bagi dua di antaranya badak sumatera dan badak jawa (Rhinoceros sondaicus), yang keduanya berstatus Critically Endangered.

Direktur Konservasi Spesies dan Genetik (KSG), KSDAE, Kementerian Kehutanan, Ahmad Munawir, menyampaikan bahwa kebuntingan Ratu dan Delilah merupakan perkembangan penting bagi upaya konservasi badak sumatera, tidak hanya bagi Indonesia tetapi juga bagi dunia.

“Ini menegaskan bahwa kebuntingan kedua induk badak tersebut menjadi bagian dari upaya jangka panjang untuk mempertahankan keberlangsungan populasi badak sumatera melalui pengembangbiakan yang terencana, pengelolaan kesehatan reproduksi, serta pemantauan individu secara intensif,” ujarnya.