Berita
PBB Ingatkan Panas Ekstrem Ancam Ibu Hamil dan Bayi
Krisis iklim mendudukkan kehamilan dan proses melahirkan menjadi titik kerentanan baru dan titik yang berpotensi mematikan.
Selasa, 06 Oktober 2026

BETAHITA.ID - PBB mengingatkan suhu panas ekstrem mengancam ibu hamil dan bayi. Krisis iklim mendudukkan kehamilan dan proses melahirkan menjadi titik kerentanan baru dan titik yang berpotensi mematikan.
Peringatan ini disampaikan oleh Kepala Urusan Iklim PBB, Simon Stiell, pertemuan puncak "pra-COP" di Nadi, Fiji. Ia memaparkan survei baru yang menunjukkan lebih dari dua pertiga tenaga kesehatan di lima benua telah menyaksikan komplikasi akibat suhu panas ekstrem dalam lima tahun terakhir.
"Meningkatnya suhu berarti meningkatnya bahaya dalam kehamilan," ucapnya pada Senin (5/10/2026).
Suhu panas ekstrem akibat perubahan iklim, kata dia, semakin sering dikaitkan dengan kelahiran prematur, lahir mati (stillbirth), berat badan lahir rendah, dan komplikasi pada ibu.
"Gambaran situasinya jelas dan sangat mengkhawatirkan. Seiring memburuknya suhu panas ekstrem, kehamilan dan proses melahirkan kini menjadi titik kerentanan baru dalam krisis iklim global dan titik yang berpotensi mematikan," ujarnya.
Menurutnya titik kerentanan ini tidak boleh berubah menjadi jurang penderitaan, ketimpangan, dan ketidakadilan yang lebih dalam akibat perubahan iklim.
Sebelumnya para ilmuwan memperingatkan perubahan iklim membuat cuaca ekstrem menjadi lebih intens dan rekor suhu panas lebih sering pecah.
Sekitar 33 negara, mulai dari Eropa Barat hingga wilayah Sahel dan Amerika Tengah, mencatat bulan Juli terpanas sejak pencatatan data dimulai, menurut analisis AFP terhadap data dari observatorium iklim Copernicus milik Uni Eropa.
Stiell menyampaikan kehamilan seharusnya menjadi masa yang penuh harapan. Namun bagi jutaan orang, masa ini kini menjadi saat yang penuh kecemasan, seiring dampak perubahan iklim yang menghadirkan berbagai risiko dalam kehidupan sehari-hari.




