Berita
Skema Pembiayaan Spesies Pari Manta Pertama di Dunia
Instrumen pembiayaan untuk konservasi spesies pari manta dalam tahap perencanaan.
Selasa, 29 September 2026

BETAHITA.ID - Seekor pari manta dapat menyumbang hingga USD 1 juta sepanjang usianya melalui sektor pariwisata bahari, termasuk melalui aktivitas menyelam, retribusi kawasan, dan perputaran ekonomi pesisir. Namun pembiayaan berkelanjutan untuk konservasi megafauna laut paling ikonik di dunia ini masih sangat terbatas.
Sustainable Finance Manager Konservasi Indonesia (KI) Ruth Aprilia mengatakan, salah satu mekanisme yang dapat dilakukan untuk pembiayaan konservasi ini adalah melalui manta impact bond, sebuah instrumen pembiayaan berbasis hasil pertama di dunia untuk konservasi pari manta.
Menurut Ruth, program ini sedang dalam tahap perencanaan dengan berbagai pihak termasuk pendana. Perencanaan ini akan berjalan selama dua tahun ke depan di dua lokasi prioritas.
“Modal dari penyandang dana awal disalurkan melalui manta resilience fund untuk mendanai perlindungan populasi dan habitat pari manta, sekaligus meningkatkan manfaat ekowisata bagi komunitas lokal dan masyarakat adat yang hidup berdampingan dengan pari manta,” kata Ruth, Senin, 28 September 2026.
“Penyandang dana awal hanya akan menerima pengembalian pokok beserta imbal hasil dari penyandang dana apabila kesuksesan capaian target konservasi telah diverifikasi secara independen,” ujarnya.
Raja Ampat menjadi salah satu lokasi prioritas, habitat utama bagi populasi mantan karang terbesar kedua di dunia. Di sini terdapat pari manta karang (Mobula alfredi) dan pari manta oseanik (Mobula birostris), dua spesies yang memiliki sistem reproduksi yang lambat, sehingga dinilai rentan punah bila menghadapi tekanan.
Focal Species Conservation Senior Manager KI Iqbal Herwata mengatakan, instrumen pendanaan tersebut disusun untuk merespons berbagai masalah konservasi pari manta di Raja Ampat. Di antaranya penangkapan ilegal, praktik wisata tidak bertanggung jawab, penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan, pencemaran sampah dan limbah, dan sedimentasi di habitat pari manta, serta risiko tertabrak dengan kapal dan speedboat.
“Proses saat ini berfokus pada penilaian kondisi awal, penyusunan strategi konservasi untuk 20 tahun ke depan, kajian kelayakan, serta perancangan struktur Manta Impact Bond. Manta Impact Bond direncanakan mulai dilaksanakan pada awal 2029,” kata Iqbal.
Lead Conservation Scientist Elasmobranch Institute Indonesia, Edy Setyawan, menekankan pentingnya metode ilmiah yang kokoh dalam mengukur parameter keberhasilan proyek secara objektif.
“Integrasi data pemantauan populasi melalui photo-ID, pergerakan, dan kesehatan habitat penting untuk memverifikasi pencapaian ekologis serta memastikan kebijakan pengelolaan adaptif berbasis bukti ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan,” kata Edy.
Sementara itu Gubernur Papua Barat Daya, Elisa Kambu, menyambut baik inisiasi pembiayaan ini demi keberlanjutan masa depan warga lokal sekaligus konservasi pari manta.
“Pari manta merupakan aset ekologis yang harus dijaga bersama, karena pari manta bukan sekadar bagian dari keanekaragaman hayati laut, keberadaannya memiliki nilai ekologis, pendidikan, penelitian, serta potensi ekonomi yang dapat mendukung pengembangan pariwisata berkelanjutan dan peningkatan manfaat bagi masyarakat lokal,” katanya.




