Jumat, 11 September 2026

            

Berita

5 Bayi Orangutan Ditemukan di Hutan Asing

Ada dugaan perdagangan ilegal satwa liar di tengah temuan lima bayi orang utan di India.

Jumat, 11 September 2026
Lima bayi orangutan ditemukan di Odisha, India, 8 September 2026. India bukan habitat asli orangutan. Sumber: Odisha Forest Department
Lima bayi orangutan ditemukan di Odisha, India, 8 September 2026. India bukan habitat asli orangutan. Sumber: Odisha Forest Department

BETAHITA.ID - Sekitar 4.000 kilometer dari habitat alaminya, lima bayi orangutan sedang memakan pisang di sebuah hutan di Odisha, negara bagian di timur India. Temuan ini dilaporkan telah memicu investigasi oleh otoritas lokal tentang kemungkinan perdagangan ilegal satwa liar. 

Orang utan–satwa dilindungi yang terancam punah–hanya ditemukan di Pulau Kalimantan dan Sumatra, dengan karakteristik bulu merah yang lebat dan kasar. Sejumlah media lokal memberitakan usia bayi orang utan tersebut berkisar satu hingga dua tahun. 

Kelima bayi orang utan tersebut ditemukan oleh petugas kehutanan yang sedang berpatroli di wilayah Jaleswar, Distrik Balasore, Selasa, 8 September 2026. Video yang beredar di internet menunjukkan mereka duduk bersama di hutan dan memakan pisang. Petugas memperkirakan satwa tersebut baru berada di kawasan itu selama beberapa hari. Saat ini mereka dikarantina di sebuah taman zoologi di Odisha. 

Menteri Lingkungan Hidup Odisha, Ram Singh Khuntia, mengatakan bahwa para penyelidik satwa liar sedang berupaya memastikan bagaimana primata langka tersebut bisa sampai ke India. 

“Kami menduga ada sindikat internasional yang mungkin terlibat dalam kasus ini,” kata Singh, dikutip Guardian, Kamis, 10 September 2026. 

Biasanya orang utan muda masih menempel pada induknya selama  beberapa tahun, untuk belajar berbagai keterampilan bertahan hidup di dalam hutan. 

Adapun reproduksi orang utan betina sangat lambat, yang hanya melahirkan sekali setiap delapan tahun. 

Sejauh ini terdapat tiga spesies orang utan yang diketahui, yakni orang utan kalimantan, orang utan sumatra, dan orang utan tapanuli. Ketiganya berstatus terancam punah menurut daftar merah Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN). 

Menurut data WWF, populasi orang utan tersisa sekitar 104,000 individu yang tersebar di Kalimantan dan Sumatera, menurun drastis dari 230,000 individu satu abad yang lalu. Penyebab anjloknya populasi ini antara lain hilangnya habitat, deforestasi, dan perburuan. 

Secara khusus orang utan tapanuli (Pongo tapanuliensis) diklasifikasikan sebagai spesies yang sangat terancam punah, dengan populasi di alam liar diperkirakan kurang dari 800 individu. 

Pada November 2025, para pegiat konservasi menemukan populasi orang utan tapanuli telah berkurang sebesar 7% akibat bencana besar di Sumatra. 

Diperkirakan antara 33 hingga 54 orang utan tapanuli tewas akibat banjir bandang dan tanah longsor memastikan di habitat mereka di kawasan Ekosistem Batang Toru, Sumatra Utara. Kawasan hutan ini juga terancam oleh aktivitas pertambangan, perkebunan kelapa sawit, dan proyek pembangkit listrik tenaga air berskala besar. 

Penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa hilangnya 1% populasi orang utan tapanuli setiap tahunnya sudah cukup untuk menyebabkan kepunahan mereka.