Berita
Orangutan Luka Dalam oleh Karhutla
Selain dampak kesehatan, karhutla juga mengakibatkan habitat orangutan rusak, dan memaksa satwa itu keluar habitat dan berkonflik dengan masyarakat.
Kamis, 10 September 2026

BETAHITA.ID - Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya mengganggu kesehatan manusia, tapi juga satwa. Di tengah hutan dan lahan yang terbakar, orangutan juga kehilangan habitat dan sumber pangan, terpapar polusi, hingga berpotensi mengalami gangguan kesehatan yang dapat mengancam populasinya.
Menurut Prof Ronny Rachman Noor, Pakar Genetika Ekologi IPB University, karhutla di Kalimantan dan Sumatera menimbulkan dampak sistemik terhadap satwa liar, terutama orangutan yang populasinya telah berada dalam kondisi kritis.
Saat ini orangutan dikategorikan dalam kelompok satwa liar critically endangered menurut The International Union for Conservation of Nature (IUCN) Red List, karena populasinya terus menurun akibat kerusakan habitat dan ekosistem sebagai dampak deforestasi, kebakaran hutan, serta perburuan liar.
"Populasi orangutan di Tapanuli kini hanya tinggal sekitar 716–800 ekor, demikian pula di Kalimantan yang populasinya tersisa 104.700 ekor,” ujar Prof Ronny, Senin (7/9/2026).
Karhutla memperburuk tekanan tersebut. Selain kehilangan habitat, lanjut Prof Ronny, orangutan kehilangan sumber pakan dan berisiko keluar dari kawasan hutan untuk mendekati permukiman. Kondisi ini meningkatkan potensi konflik antara manusia dan satwa liar.
“Karhutla juga memaksa orangutan keluar dari habitatnya dan mendekati permukiman warga, yang tentunya akan meningkatkan risiko konflik dengan manusia. Konflik ini ke depannya diprediksi akan menambah tekanan pada populasi orangutan yang sudah sangat sedikit,” ujarnya.
Prof Ronny menjelaskan, paparan asap juga dapat secara langsung mengganggu kesehatan orangutan. Partikel mikroskopis PM2.5 dapat masuk ke saluran pernapasan hingga alveolus paru-paru, menyebabkan peradangan dan iritasi.
Dalam jangka pendek, paparan ini dapat memicu kekurangan oksigen, batuk, dan sesak napas, sedangkan dalam jangka panjang berpotensi menyebabkan bronkitis dan penyakit paru obstruktif kronis.
“Dari sisi kesehatan orang utan, keberadaan asap dan cemaran akibat kebakaran hutan sangat berbahaya bagi paru-paru dan metabolisme mereka karena sistem pernapasan mereka sangat sensitif terhadap polusi udara,” ujarnya.
Dampak asap juga dapat mengganggu metabolisme dan sistem imun akibat stres oksidatif. Penurunan nafsu makan dapat membuat orangutan lemas, kurang aktif, dan mengalami penurunan berat badan. Bahkan, stres fisiologis akibat paparan asap berpotensi mengganggu sistem reproduksi dan menambah tekanan terhadap populasi orangutan.
Prof Ronny menegaskan bahwa karhutla bukan lagi persoalan lokal. Dampaknya telah meluas terhadap keseimbangan iklim, kesehatan, perekonomian, serta keberlangsungan ekosistem.
Menurut dia, karhutla yang sedang terjadi di Kalimantan dan Sumatera bukan lagi merupakan masalah lokal ataupun masalah Indonesia semata, melainkan sudah menjadi masalah global karena telah mengganggu keseimbangan iklim, kesehatan, serta perekonomian global.
Prof Ronny berpendapat, dalam situasi seperti ini tidak terlalu berlebihan jika dunia menuntut langkah nyata dari Indonesia untuk mengakhiri siklus tahunan kebakaran hutan ini dengan melakukan pencegahan kebakaran hutan secara berkelanjutan, menegakkan hukum yang tegas bagi pembakar hutan dan lahan, meningkatkan komitmen iklim global, serta meningkatkan transparansi data dan dampak agar dunia dapat membantu memantau, serta meningkatkan kerja sama regional untuk memperkuat koordinasi lintas batas guna mengurangi dampak kabut asap.
Orangutan Sampurna akhirnya menghembuskan napas terakhir
Sebelumnya, satu individu orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus wurmbii) ditemukan terkapar tak berdaya di sebuah perkebunan sawit milik warga di Dusun Sampurna, Desa Kuala Satong, Kecamatan Matan, Ketapang, Kalimantan Barat, pada Minggu, 30 Agustus 2026. Orangutan yang diberi nama Sampurna ini diduga lemas karena mengalami gangguan pernapasan, sebab terpapar asap kebakaran lahan dan hutan.
Tak lama setelah ditemukan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) langsung memberi pertolongan medis, berupa terapi oksigen dan cairan intravena.
Orangutan dewasa berkelamin jantan ini sempat dievakuasi ke Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Orangutan YIARI di Sungai Awan Kiri. Meski sempat mendapat perawatan, kondisi Orangutan Sampurna terus memburuk dan nyawanya tak dapat tertolong.
Berdasarkan nekropsi (bedah bangkai) yang dilakukan pada Selasa, 1 September 2026, tim medis menemukan perubahan patologis pada sejumlah organ, termasuk paru-paru, jantung, dan ginjal. Pada paru-paru ditemukan kongesti dan atelectasis parsial.
Menurut riwayat kondisi klinis dan hasil pemeriksaan, perubahan tersebut diduga berkaitan dengan paparan asap yang berpotensi mengganggu fungsi paru-paru dan menyebabkan hipoksia akut atau kekurangan oksigen. Kondisi ini kemudian diduga berkontribusi terhadap gangguan fungsi kardiovaskular hingga menyebabkan kematian Sampurna.
Dokter hewan YIARI, Komara, yang sempat merawat Orangutan Sampurna, menjelaskan bahwa pada kondisi paparan yang berat, terutama ketika asap sangat pekat dan berlangsung selama beberapa hari, satwa dapat mengalami gangguan pernapasan dan kekurangan oksigen atau hipoksia.




