Sabtu, 10 Oktober 2026

            

Berita

Orangutan Rela Sedikit Makan demi Carikan Teman Bermain Anaknya

Induk-induk orangutan merencanakan dan mengatur waktu bermain bersama untuk anak-anaknya, bahkan jika harus berkorban waktu mencari makan.

Sabtu, 10 Oktober 2026
Induk orangutan mengamati anaknya yang sedang bermain bersama anak orangutan lainnya. Sumber: Proyek Penelitian Orangutan Tuanan – Mure Wipfli/UZH.
Induk orangutan mengamati anaknya yang sedang bermain bersama anak orangutan lainnya. Sumber: Proyek Penelitian Orangutan Tuanan – Mure Wipfli/UZH.

BETAHITA.ID - Induk orangutan akan rela bersusah payah mengatur waktu dan mencarikan teman bermain untuk anaknya. Kenapa begitu, karena berinteraksi dengan sebayanya merupakan bagian pentin dari proses tumbuh kembang anak orangutan. Demikian menurut sebuah penelitian selama 15 tahun terhadap orangutan liar di Kalimantan.

Orangutan adalah primata besar yang paling soliter di antara semuanya. Para induk menghabiskan sebagian besar waktunya sendirian bersama anak bungsunya, yang tetap bergantung pada induknya selama tujuh tahun pertama atau lebih dalam hidupnya. Karenanya, bayi orangutan memiliki sedikit kesempatan untuk bertemu dengan anak-anak seusia mereka, padahal bermain bersama membantu membangun kekuatan dan keterampilan sosial yang mereka butuhkan di kemudian hari.

Kini para ilmuwan memiliki bukti kuat bahwa induk orangutan mencari kesempatan bagi anak-anaknya untuk bermain dengan teman sebaya, bahkan rela menempuh jarak lebih jauh untuk melakukannya.

“Kami mengungkap biaya tersembunyi dari kehidupan soliter. Selain menyediakan makanan dan keamanan bagi anak-anaknya, induk orangutan juga bertugas menyediakan sumber daya sosial,” kata Maria van Noordwijk, penulis utama studi ini, pada 7 Oktober 2026, dikutip dari Max Planck Society.

Penelitian ini, yang dipublikasikan di PNAS, dipimpin oleh para ilmuwan dari Max Planck Institute of Animal Behavior bersama dengan Universitas Zurich, Universitas Nasional, dan Rutgers University.

Sejak 2003, van Noordwijk dan timnya telah memantau orangutan-orangutan betina, terutama yang sudah menjadi induk, di Stasiun Penelitian Tuanan di Pulau Kalimantan, Indonesia, tempat di mana mereka mengamati orangutan yang sudah terbiasa dengan kehadiran manusia dari pagi hingga malam. Di tempat itu, pertemuan antara induk-induk orangutan jarang terjadi, tetapi ketika hal itu terjadi, interaksi tersebut berlangsung dengan penuh kehati-hatian.

“Orangutan dewasa biasanya tidak saling mendekati,” kata van Noordwijk, seorang peneliti di Institut Max Planck untuk Perilaku Hewan, yang memimpin penelitian lapangan tersebut saat masih di Universitas Zurich. Namun, hal ini berbeda dengan bayi-bayi orangutan. 

“Mereka berlari mendekati satu sama lain, bermain kasar, menggigit, dan bergulat. Anak-anak orangutan memiliki ‘tombol bermain’ yang hanya bisa dimatikan oleh sang ibu ketika ia memutuskan sudah waktunya untuk pindah,” ujarnya.

Van Noordwijk memperhatikan bahwa pertemuan-pertemuan antara bayi-bayi orangutan ini tampaknya menimbulkan beban bagi para induk.

“Sepertinya itu adalah hari yang sangat panjang dan melelahkan bagi mereka. Saya tahu ada sesuatu yang terjadi pada hari-hari bermain ini, tetapi kami membutuhkan teknik statistik yang tepat untuk memverifikasinya,” ujar van Noordwijk.

Setelah 15 tahun, tim van Noordwijk telah mengumpulkan 32.000 jam pengamatan dari 31 pasangan induk-bayi orangutan. Bekerja sama dengan Odd Jacobson, seorang peneliti pascadoktoral di Institut Max Planck untuk Perilaku Hewan, ia menguji apakah para ibu secara aktif mencari teman bermain untuk anak-anak mereka. 

“Kami menerapkan teknik statistik yang menggabungkan pola penggunaan ruang oleh ibu dengan karakteristik sosial pasangan ibu-bayi di sekitarnya,” kata Jacobson, penulis pertama makalah tersebut.

Jacobson menemukan bahwa induk-indik dengan anak yang usianya lebih dekat saling berbagi area hutan yang sama, dan anak-anak tersebut juga lebih sering bermain bersama, bahkan setelah memperhitungkan faktor-faktor seperti hubungan kekerabatan dan ketersediaan buah. 

“Ibu-ibu tampaknya mencocokkan anak-anak mereka dengan teman bermain yang sesuai secara fisik dan perkembangan,” kata Jacobson.

Kegiatan bermain bersama ini juga menunjukkan pola pergerakan yang jelas. Para induk tidak hanya menempuh jarak lebih jauh pada hari bermain itu sendiri, tetapi juga pada hari-hari sebelum dan sesudahnya. Betina dewasa diketahui memiliki wilayah inti, tempat mereka menghabiskan sebagian besar waktunya. 

Mulai dari sehari sebelum bermain, para induk bergerak menuju wilayah inti induk lain, dan setelah bermain, mereka kembali ke wilayah inti mereka sendiri. Pola-pola ini menunjukkan bahwa kegiatan bermain bersama orangutan bukanlah pertemuan kebetulan, melainkan secara aktif dibentuk oleh keputusan para induk dalam menentukan wilayah jelajahnya.

“Untuk menemukan teman bermain yang cocok, tampaknya mereka mengatur posisi spasial mereka guna meningkatkan kemungkinan bertemu dengan induk yang memiliki anak seusia,” kata Jacobson. 

Pergerakan yang terarah ini menunjukkan bahwa induk-induk tersebut menyadari apa yang disebut van Noordwijk sebagai “gosip hutan.”

Jacobson mengatakan, orangutan mungkin menghabiskan sebagian besar waktunya sendirian, tetapi mereka tetap tertanam dalam jaringan sosial. Mereka tahu persis siapa tetangga seumur hidup mereka, dan mereka tahu siapa yang melahirkan anak serta kapan. 

"Dari posisi mereka di puncak pohon, mereka mungkin bisa mendapatkan gambaran kasar tentang di mana tetangga-tetangga ini berada, setidaknya sesekali,” ujarnya.

Kemampuan untuk menavigasi lanskap sosial ini mungkin memanfaatkan keterampilan kognitif orangutan yang telah diketahui. Van Noordwijk mengatakan, ia dan timnya telah lama menerima bahwa orangutan-orangutan tersebut menerapkan navigasi spasial dan perencanaan rute untuk menemukan dan mengakses sumber daya makanan.

“Kini kami menunjukkan bahwa mereka menggabungkan peta kognitif tidak hanya untuk mencari makan tetapi juga sumber daya sosial guna memenuhi kebutuhan anak-anak mereka,” kata van Noordwijk.

Semua upaya ini tentu memiliki konsekuensi. Para induk orangutan menghabiskan lebih banyak waktu untuk bepergian dan lebih sedikit waktu untuk mencari makan pada hari-hari yang berkaitan dengan sesi bermain anaknya, yang merupakan bentuk investasi induk terhadap perkembangan sosial anak-anaknya yang sering terabaikan.

“Pada banyak spesies sosial, teman bermain muncul secara alami dalam kehidupan berkelompok,” kata Jacobson. 

Menurut Jacobson, masalah bermain muncul ketika induk menghabiskan sebagian besar waktunya sendirian bersama satu anak dan tidak secara rutin berkumpul untuk mencari makan, bersosialisasi, atau saling melindungi. Berapa banyak spesies lain yang menghadapi masalah yang sama, dan bagaimana mereka mengatasinya, masih belum diketahui.

Para penulis mengakui bahwa sesi bermain bersama anak orangutan jarang terjadi, hanya terjadi pada enam persen dari hari-hari ketika pasangan ibu-bayi dipantau, atau kira-kira sekali setiap 20 hari. Dan pada hari-hari ketika anak-anak memang bermain bersama, mereka hanya menghabiskan sekitar 20 menit untuk itu secara total.

Apakah investasi tersebut pada akhirnya membuahkan hasil masih menjadi pertanyaan terbuka. Sri Suci Utami Atmoko, rekan penulis dari Universitas Nasional, Indonesia, mengatakan bahwa ia dan timnya masih belum tahu apakah waktu dan energi yang dihabiskan induk untuk mengatur sesi bermain bersama memberikan keuntungan bagi anak-anaknya di kemudian hari. 

"Yang pasti, hanya penelitian jangka panjang seperti ini yang mungkin dapat mengungkap jawabannya. Penemuan seperti ini bergantung pada penelitian berkelanjutan, yang memungkinkan kita menghubungkan perilaku dengan perkembangan, lingkungan, dan demografi sepanjang rentang hidup spesies berumur panjang ini,” kata Suci.

Temuan ini juga memunculkan pertanyaan yang lebih luas, yakni apa yang diperoleh dari hidup secara sosial, dan apa yang harus dibayar ketika interaksi sosial langka? 

Meg Crofoot, salah satu penulis dan direktur di MPI-AB, mengatakan dalam beberapa hal, manusia lebih mirip orangutan daripada yang disadari. Manusia berevolusi untuk membesarkan anak dalam kelompok besar, tetapi kehidupan modern semakin mendorong manusia ke gaya hidup yang menyendiri. 

"Orangutan mengingatkan kita akan apa yang kita hilangkan ketika kita mengisolasi diri. Ketika peluang untuk kontak sosial terbatas, pasti ada yang harus menanggung biayanya,” katanya.