Rabu, 07 Oktober 2026

            

Berita

BRIN: Pemadaman Tak Cukup Hentikan Kebakaran Berulang di Gambut

Hilangnya air untuk membasahi lahan gambut menjadi biang berulangnya kebakaran lahan gambut.

Rabu, 07 Oktober 2026
Kebakaran hutan di Ekosistem Leuser Rawa Tripa, Nagan Raya, Aceh, pada 2 Juni 2026. Dok. Istimewa
Kebakaran hutan di Ekosistem Leuser Rawa Tripa, Nagan Raya, Aceh, pada 2 Juni 2026. Dok. Istimewa

BETAHITA.ID - Hilangnya air untuk membasahi lahan gambut menjadi biang berulangnya kebakaran lahan gambut. Pemadaman pun tak cukup mencegah api datang kembali usai kebakaran. 

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Ekologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dony Rachmanadi, menjelaskan gambut merupakan ekosistem lahan basah yang terbentuk dari akumulasi sisa tumbuhan selama ribuan tahun. Secara alamiah gambut mampu menyimpan air hingga sekitar 13 kali bobotnya.

Namun, kondisi tersebut berubah ketika gambut dikeringkan untuk berbagai kepentingan. Pembuatan kanal dan pengurasan air menyebabkan bahan organik kering dan mudah terbakar.

“Sebetulnya kebakaran gambut itu masalahnya adalah masalah hidrologi. Masalah apinya merupakan dampak lanjutannya. Kalau kita mau menyelesaikan kebakaran, kita harus bisa menyelesaikan masalah hidrologinya,” ujar Dony dalam Media Lounge Discussion di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Selasa (6/10/2026).

Gambut terbentuk dalam kondisi rawa yang minim oksigen sehingga proses dekomposisi bahan organik tidak berlangsung sempurna. Proses tersebut menghasilkan lapisan organik tebal yang kaya karbon sekaligus memiliki kemampuan besar dalam menyimpan air.

Pembentukan lapisan gambut setebal satu milimeter membutuhkan waktu sekitar satu tahun. Karena itu, kerusakan akibat kebakaran dalam waktu singkat dapat menghilangkan hasil proses ekologis yang berlangsung selama ribuan tahun.

“Gambut juga memiliki arti penting dalam mitigasi perubahan iklim. Meskipun secara global hanya menutupi sekitar tiga persen permukaan daratan, ekosistem gambut menyimpan lebih dari 30 persen karbon tanah dunia. Ketika gambut mengalami pengeringan dan terbakar, karbon yang tersimpan tersebut dapat terlepas ke atmosfer,” ucapnya.

Dony menjelaskan terdapat perbedaan antara luas tanah gambut dan luas ekosistem gambut. Luas tanah gambut dengan ketebalan lebih dari 50 sentimeter sekitar 13,4 juta hektare. Sementara itu, jika menggunakan pendekatan Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG), luas ekosistem gambut mencapai sekitar 24 juta hektare.

KHG merupakan satu kesatuan lanskap gambut yang umumnya berada di antara dua sungai. Pendekatan ini penting karena pengelolaan gambut tidak dapat dilakukan hanya pada titik tempat tanah gambut ditemukan, melainkan harus mempertimbangkan sistem hidrologi dalam satu bentang alam.

Sebaran utama gambut Indonesia terdapat di Sumatra, Kalimantan, dan Papua. Selain gambut dataran rendah, Indonesia juga memiliki gambut dataran tinggi, antara lain di Dataran Tinggi Dieng serta sejumlah wilayah di Sumatra. 

Kerentanan gambut meningkat ketika sistem hidrologinya terganggu. Pengeringan membuat lapisan organik menyerupai tumpukan bahan tumbuhan kering yang mudah terbakar. Api kemudian dapat merambat ke bawah permukaan dan bertahan di dalam lapisan gambut. 

“Begitu mendapat oksigen, dia bisa menyala lagi. Gambut benar-benar bisa padam kalau kembali terendam air,” kata dia..

Kebakaran berulang juga mengurangi kemampuan gambut menahan air. Sekali terbakar kemampuan gambut menahan air menurun sekitar 15 persen. Apabila kebakaran terjadi berulang hingga empat kali, penurunannya mendekati 30 persen.

Kerusakan tersebut tidak hanya meningkatkan risiko kebakaran berikutnya, tetapi juga dapat memperbesar risiko banjir. Gambut yang sehat berfungsi seperti spons yang menyimpan air dan membantu menjaga kestabilan hidrologi kawasan. Ketika kemampuan tersebut berkurang, air lebih cepat mengalir ke wilayah sekitarnya.

“Posisi ekosistem ini penting untuk menjaga hidrologi kawasan supaya stabil. Begitu kemampuan mengikat airnya hilang, air akan mengalir ke desa, kota, dan jalan. Karena itu, kejadian kebakaran dan banjir di kawasan gambut dapat saling berkaitan,” ujarnya.

Namun kawasan gambut dapat dilakukan selama kondisi basah tetap terjaga dan memilih komoditas yang sesuai dengan karakteristik alaminya. Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan adalah paludikultur, yakni budidaya tanaman yang sesuai dengan kondisi lahan rawa atau gambut basah. 

“Berbagai tanaman asli gambut memiliki potensi ekonomi tanpa harus mengubah kondisi hidrologi secara drastis. Selama kita bisa menjaga gambut tetap basah, dia bisa dimanfaatkan. Banyak tanaman asli gambut yang sebenarnya dapat dimanfaatkan,” ujarnya.

BRIN sendiri melakukan berbagai riset terkait gambut, mulai dari rehabilitasi dan restorasi ekosistem, keanekaragaman hayati dan bioprospeksi, hingga pengembangan teknologi penanganan kebakaran. Pengetahuan tersebut diperlukan untuk memastikan kebijakan pengelolaan gambut sesuai dengan karakteristik ekologisnya.

Dony juga mengungkap rencana pembentukan badan pengelola gambut dan mangrove nasional yang saat ini masih dalam proses pembahasan pemerintah. Menurutnya, kelembagaan tersebut diharapkan dapat memperkuat upaya pencegahan bencana serta pengelolaan gambut berbasis desa dan lanskap. Namun, keberhasilan perlindungan gambut tetap membutuhkan keterlibatan masyarakat yang hidup dan beraktivitas di kawasan tersebut.