Berita
Perempuan Penjaga Hutan: Dari Hutan ke Mangkok, lalu ke Bangkok
Hutan, pangan lokal, dan pemberdayaan kelompok perempuan melalui kegiatan menjaga hutan.
Senin, 05 Oktober 2026

BETAHITA.ID - Dari hutan ke meja makan. Itulah yang terbersit di kepala saya saat menghadiri Jamuan Puan Rimba siang itu di sebuah sudut di Kemang Utara, Jakarta Selatan. Saat jamuan berlangsung, yang disajikan tidak hanya hidangan, tetapi juga cerita pangan lokal yang dituturkan para pemimpin perempuan penjaga hutan di tempat asal mereka.
Salah satunya makanan utama dari umbi gadung kukus dengan jamur gerigit, pangan lokal dari Nusa Tenggara Barat dan Sumatera Selatan. Keduanya ditemukan di dalam hutan. Jamur gerigit sendiri punya cerita. Dia hanya tumbuh di dalam hutan. Ukurannya kecil dengan bentuk mirip kipas dan bertekstur kenyal.
“Jamur ini hanya tumbuh saat musim hujan. Mencarinya pun tidak mudah. Karena itu harganya mahal, dan digunakan pada saat acara besar dan tertentu di kampung kami,” kata Tessa Pranisti, Rabu, 30 September 2026. Dia menambahkan, jamur gerigit bisa dibanderol Rp1 juta per kilogram.
Tessa merupakan ketua kelompok monitoring hutan di Desa Kota Padang, Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan, yang turut mengelola hutan kemasyarakatan kawasan Semende seluas 1.141 hektare. Saat melakukan patroli hutan itulah, Tessa bersama rekan-rekannya di KUPS Pandan Indah melakukan inventarisasi tanaman pangan dan obat-obatan serta mencari bahan makanan seperti jamur gerigit.
Menu jamuan siang itu pun disusun dari bahan pangan hutan dari tiga provinsi—Sumatera Selatan, Kalimantan Utara, dan Nusa Tenggara Barat.
Ada makanan utama dari ikan tuna segar yang diracik dengan cabai hutan, jeruk liar, dan bawang merah, yang meurpakan interpretasi ceviche yang segar dengan sentuhan khas Kalimantan. Hidangan ini disajikan bersama seruyuk, ikan kecil endemik Sungai Kayan di Kalimantan Utara yang dipanen saat bulan purnama.
Ada juga urap adas adas aik, yang merupakan interpretasi hidangan tradisional urap, hanya saja salah satu bahannya digantikan dengan tunas adas liar, yang berasal dari NTB. Daun ini sering digunakan sebagai pengganti kemangi.
Hardian Eko Nurseto, atau yang kerap dipanggil Chef Seto dari Perkumpulan Seniman Pangan Indonesia (PSPI) yang meracik menu hari itu mengatakan, bahan-bahan yang disajikan diolah dengan hati-hati.
Gadung, misalnya, yang memiliki manfaat energi dan nutrisi tidak boleh dikonsumsi mentah atau salah pengolahan. Umbi ini harus melewati sejumlah proses, termasuk perendaman dan pengeringan. Jika tidak, dapat menyebabkan keracunan parah karena kandungan sianida dan dioskorin.
“Ini adalah cara kami untuk mengeksplor potensi pangan lokal, dan juga ingin menyampaikan bahwa pangan bergantung pada kestabilan ekologi serta keberlanjutan ekosistem,” katanya.
Lebih dari sekedar hidangan, para perempuan dari Sumatera Selatan, Kalimantan Utara, dan Nusa Tenggara Barat yang datang hari itu juga memperkenalkan kerja-kerja mereka dalam memimpin pengelolaan hutan, memantau kawasan, dan mengembangkan usaha dari hasil hutan.
Noviana Liling dari Desa Long Sam, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Barat, mulai terlibat dalam pengelolaan hasil hutan sejak desanya mendapat izin mengelola hutan desa selama 35 tahun pada 2017 seluas 322 hektare, dengan pendampingan sejumlah organisasi masyarakat sipil. Pada April 2025, ia ikut mendirikan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) perempuan pertama di Kalimantan Utara, dengan modal awal lima butir kelapa dari setiap anggota.
Kini, KUPS Femung Himet yang dipimpinnya memproduksi minyak kelapa murni, tenun, dan topi anyaman, dan sebagian produknya sudah bersertifikat halal. Lewat pelatihan, para anggotanya juga belajar mengolah buah kuini yang dulu dibiarkan jatuh dan membusuk menjadi selai.
"Dari tidak tahu menjadi tahu. Dengan adanya pelatihan ini, kami bisa menambah pengetahuan untuk membuat selai," kata Noviana.
Tessa dan Noviana merupakan bagian dari 171 perempuan yang aktif menjaga hutan di empat provinsi, yakni Sumatera Barat, Kalimantan Utara, Nusa Tenggara Barat, dan Sumatera Selatan melalui program Women Forest Defenders dari The Asia Foundation (TAF). Sebanyak 42 di antaranya memiliki posisi di jajaran pengambil keputusan.
Tessa, Noviana, dan lima rekan mereka dari tiga provinsi juga membawa cerita yang sama ke Bangkok Climate Action Week 2026, yang dihelat pada 3-4 Oktober. Ketujuh perempuan ini akan menghadirkan cerita tentang kepemimpinan perempuan, pemantauan hutan, advokasi, dan usaha dari hasil hutan, bersama cita rasa hutan Indonesia.
“Dulu saya tidak pernah bermimpi naik pesawat. Tapi sekarang saya menginjakkan kaki di Jakarta, dan juga terbang ke Bangkok,” kata Noviana berseloroh.
Peran perempuan dalam menjaga hutan
Cerita pangan lokal dan peran perempuan dalam menjaga hutan menjadi penting di tengah menyusutnya hutan yang menyimpan ragam pangan. Berdasarkan data Auriga Nusantara (2026), Indonesia kehilangan hutan alam seluas 433.751 hektare pada 2025, naik 66 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Kehilangan tutupan hutan berhubungan langsung dengan hilangnya keragaman pangan. Menurut Badan Pangan Nasional, Indonesia memiliki lebih dari 77 jenis sumber karbohidrat, 228 jenis sayuran, dan 389 jenis buah. Ekspansi lahan untuk kebun kayu, tambang, dan sawit menjadi ancaman.
Dorta Pardede, program officer tata kelola lingkungan TAF mengatakan, di sinilah peran perempuan dalam pelestarian hutan krusial, karena perempuan di banyak komunitas memiliki hubungan dan pengetahuan yang unik tentang hutan.
“Persoalannya, akses ke informasi, ruang pengambilan keputusan, dan sumber daya untuk menjalankan usaha belum setara. Karena itu, bersama mitra lokal kami bekerja di tiga hal yang saling terhubung: posisi perempuan dalam kelembagaan, pemantauan kawasan, dan kelola usaha yang adil dan memberi manfaat tidak hanya sekedar menambah beban kerja mereka,” kata Dorta.
TAF mencatat seluas 24.292 hektare hutan dikelola dengan perempuan ikut memimpin di Sumatera Selatan, Sumatera barat, Kalimantan Utara, dan NTB. Di antaranya, terdapat 16 usaha berbasis hutan yang dipimpin perempuan sudah menghasilkan pendapatan, 11 kelompok pemantau hutan dipimpin perempuan, dan 21 izin usaha yang membuka akses perempuan ke pasar.
"Perempuan di desa hutan sudah lama menjaga hutan dan dapur keluarganya. Yang mereka butuhkan adalah ruang untuk ikut memutuskan. Peran kami adalah mempertemukan mereka dengan mitra lokal, pemerintah, dan pasar, supaya perubahan di desa terus berjalan," kata Direktur Tata Kelola Lingkungan TAF, Frans Siahaan.
Menurutnya, konsumen di kota juga memiliki peran. "Jamuan ini cara sederhana untuk menunjukkan hubungan antara piring kita dan hutan. Setiap orang yang memilih pangan dari hutan yang dijaga ikut menjaga hutannya," ujarnya.
Para perempuan dari berbagai kelompok tersebut juga sudah mulai menjual produk mereka di pasar lokal dan melalui media sosial dengan sistem pesanan. Sebagian produk juga dijual lewat Javara, sebuah lini usaha yang bergerak di sepanjang rantai pasok untuk melestarikan warisan keanekaragaman hayati pangan Indonesia.
“Kalau bicara gastronomi Indonesia, kita harus mulai dari bentang alam. Dari sanalah lahir keragaman pangan dan budaya kuliner kita. Pangan dari hutan dan berbagai ekosistem lainnya relevan bagi konsumen kota yang membutuhkan pilihan pangan lebih beragam untuk pola konsumsi yang lebih sehat,” kata Founder Javara dan Perkumpulan Seniman Pangan Indonesia, Helianti Hilman.
“Kuncinya adalah menghadirkan produk asal hutan secara berkualitas, dengan cita rasa yang punya daya pembeda dan relevan bagi konsumen, sehingga nilai yang tercipta di pasar dapat kembali ke komunitas dan desa asalnya,” ujarnya.




