Berita
8 Bulan, Setengah Juta Ha Lebih Areal Terbakar: Mapbiomas Fire
Luas areal gambut yang terbakar di Indonesia, periode Januari-Agustus 2026 versi Mapbiomas Fire, mencapai 138.362 hektare
Rabu, 30 September 2026

BETAHITA.ID - Bencana kebakaran hutan lahan dan gambut di Indonesia masih belum ada tanda-tanda akan selesai. Hingga kini sejumlah situs pemantau kualitas udara masih melaporkan aerosol asap kebakaran hutan dan lahan yang pekat di sejumlah wilayah di Indonesia. Demikian pula Sistem Pemantau Karhutla milik Kementerian Kehutanan (Sipongi) yang juga masih menampilkan ratusan titik panas (hotspot) dengan kepercayaan tinggi di berbagai titik.
Lalu berapa luas areal hutan dan lahan yang terbakar saat ini? Menurut hitungan Mapbiomas Fire, areal terbakar (burn area) dalam bencana kebakaran di Indonesia, periode Januari-Agustus 2026, luasnya mencapai 677.743 hektare atau setara 10 kali luas wilayah DKI Jakarta.
Sesilia Maharani Putri, peneliti Auriga Nusantara yang ikut membidani angka luas areal terbakar Mapbiomas Fire, mengatakan bahwa angka 677.743 hektare tersebut mencakup angka luas kebakaran berulang yang terjadi di suatu areal tertentu. Kebakaran berulang dimaksud ditetapkan dengan melihat waktu kebakaran terjadi.
Jika kebakaran terjadi pada 3 bulan berturut, imbuh Sesil, maka kebakaran pada bulan kedua akan dianggap sebagai kebakaran yang sama dengan kebakaran di bulan pertama. Namun kebakaran di bulan ketiga akan dihitung sebagai kebakaran berulang.
"Penyesuaian waktu ini dilakukan untuk mengakomodir kebakaran berulang yang mungkin terjadi pada areal gambut," katanya, pada Selasa (29/9/2026).
Sesil menguraikan, temporal filter pada penghitungan areal terbakar ini diterapkan untuk mengurangi penghitungan berulang terhadap kejadian kebakaran yang sama pada bulan yang berdekatan. Area yang terdeteksi terbakar pada satu bulan kemudian kembali teridentifikasi sebagai terbakar pada bulan berikutnya dievaluasi secara temporal untuk menentukan apakah deteksi tersebut merupakan kejadian kebakaran baru atau merupakan persistensi dari kejadian yang sama.
Dengan demikian, filter temporal membantu memastikan bahwa produk bulanan merepresentasikan kejadian kebakaran yang berbeda dan mengurangi kemungkinan double counting akibat persistensi atau keterlambatan pemulihan sinyal spektral pascakebakaran.
Sementara itu, sambung Sesil, dengan sudut pandang berbeda, bila areal terbakar berulang hanya dihitung satu kali--areal yang sama yang mengalami kebakaran berulang di waktu berbeda tidak dihitung dua kali, maka angka luas areal terbakar menjadi sekitar 637.011 hektare.
"Dengan lain perkataan, dari angka 677.743 hektare itu, sekitar 40.732 hektare di antaranya merupakan luas areal yang terbakar berulang atau bisa jadi areal itu terus menerus terbakar selama beberapa bulan," kata Sesil.
Berdasarkan data yang disajikan platform Mapbiomas Fire, luas areal terbakar di Indonesia melonjak drastis pada Agustus. Hanya di bulan itu saja luas areal yang terbakar angkanya mencapai 331.725 hektare, atau sekitar 48,9 persen dari total luas areal terbakar sepanjang Januari-Agustus. Luas areal terbakar pada Agustus ini dua kali lipat luas areal terbakar yang terekam pada bulan sebelumnya.
Dilihat dari lokasi wilayahnya, areal terbakar terluas menurut platform ini justru bukan Kalimantan atau Sumatera yang tahun ini dianggap sebagai penghasil asap kebakaran paling produktif, peringkat pertama dalam daftar ini ditempati oleh Papua (178.260 hektare) dan Nusa Tenggara (155.545 hektare. Sedangkan Kalimantan, Sumatera, dan Sulawesi, masing-masing menyumbang 137.306 hektare, 59.710 hektare, dan 53.710 hektare.
Seturut dengan data tersebut, Papua Selatan menjadi provinsi dengan angka luas areal terbakar terluas yang mencapai 148.868 hektare, diikuti Nusa Tenggara Timur yang mencapai 127.664 hektare, Kalimantan Barat 67.316 hektare, Maluku 39.151 hektare, dan Jawa Timur 32.590 hektare. Sementara Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan yang terkenal dengan kebakaran gambutnya, menempati peringkat selanjutnya dengan luasan 30.417 hektare dan 27.9848 hektare.
Areal ekologi gambut yang terbakar menurut Mapbiomas Fire luasannya juga cukup luar biasa besar, mencapai angka 138.362 hektare. Angka tersebut seperlima atau mengambil 20 persen dari total areal terbakar versi Mapbiomas Fire yang terekam sejak Januari-Agustus 2026. Tiga kesatuan hidrologis gambut (KHG) dengan areal terbakar terluas yakni, KHG Sungai Buru Mappi-Sungai Buru Obaa seluas 15.741 hektare, KHG Sungai Kuis-Sungai Bapai 12.494 hektare dan KHG Sungai Lamandau-Sungai Jelai yang tercatat sebesar 7.163 hektare.
Mapbiomas Fire juga merekam areal terbakar di dalam areal konsesi (izin usaha) perusahaan. Di sektor kehutanan, terdapat sekitar 37.089 hektare areal terbakar yang berada di dalam areal perizinan berusaha pemanfaatan hutan (PBPH). Setidaknya terdapat sekitar 245 unit konsesi PBPH yang luas areal terbakarnya seluas 5 hektare atau lebih. Terluas berada di areal konsesi PT Selaras Inti Semesta sebesar 3.872 hektare, PT Hutan Ketapang Industri 2.218 hektare dan PT Reminal Utama Sakti seluas 1.179 hektare.
Selanjutnya di sektor perkebunan, khususnya di areal persetujuan pelepasan kawasan hutan (PPKH) untuk perkebunan sawit, luas areal terbakar tercatat sekitar 9.857 hektare. Sedikitnya, ada 128 unit areal tersebut yang terbakar seluas 5 hektare atau lebih. Areal terbakar terluas berlokasi di dalam areal perkebunan PT Merauke Sawit Jaya sebesar 1.055 hektare, PT Trisetia Usahamandiri 982 hektare, dan PT Bintuni Agro Prima Perkasa seluas 805 hektare.
Sedangkan di sektor pertambangan, terdapat 601 unit areal izin usaha pertambangan (IUP) yang terdapat areal terbakar di dalamnya, dengan luasan 5 hektare atau lebih. Bila ditotal luas areal terbakar di konsesi pertambangan ini sebesar 38.050 hektare. Konsesi tambang dengan areal terbakar terluas tercatat atas nama PT Murah Rezeki Putra Putri Suryanata seluas 1.569 hektare, PT Vale Indonesia Tbk 986 hektare dan PT Cahaya Asia Persada dengan luas 895 hektare.




