Berita
Habitatnya Hangus, 6 Orangutan Dievakuasi dari Kebun Warga
Karhutla juga berpotensi memutus akses orangutan untuk berpindah ke hutan habitat lainnya.
Sabtu, 12 September 2026

BETAHITA.ID - Sebanyak enam individu orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus wurmbii) terpaksa dievakuasi dari kebun warga di Desa Pemangkat, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat (Kalbar), dalam dua operasi penyelamatan pada 4 September 2026 dan 8 September 2026. Primata dilindungi ini harus dievakuasi lantaran habitatnya telah hangus terbakar.
Enam orangutan tersebut terdiri dari dua pasang induk dan anak, yakni Mama Nopi dan Nopi serta Mama Noni dan anaknya, Noni, serta dua orangutan remaja bernama Naufal dan Nopan. Evakuasi tersebut dilakukan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), didukung oleh Yayasan Palung, Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Pemangkat, masyarakat sekitar, serta pemilik kebun.
Berdasarkan penjelasan YIARI, tim medis menggunakan obat bius dengan dosis terukur agar orangutan dapat ditangani dengan aman dan untuk menghindari risiko cedera selama proses penyelamatan. Hasil pemeriksaan awal terhadap empat orangutan yang diselamatkan pada 3 September 2026 menunjukkan bahwa Naufal dan Mama Nopi dalam kondisi umum baik tanpa luka atau kelainan fisik yang signifikan.
Sementara itu, Nopan sempat mengalami peningkatan suhu tubuh hingga 40°C. Setelah mendapat penanganan medis dan cairan infus, suhu tubuhnya kembali normal dan kondisinya terus dipantau. Anak Mama Nopi, Nopi, juga berada dalam kondisi umum baik.
Sementara itu, pemeriksaan awal terhadap Mama Noni yang diselamatkan pada 8 September menunjukkan bahwa individu betina tersebut diperkirakan berusia 13–15 tahun sementara anaknya diperkirakan berusia 1-2 bulan. Saat proses penanganan, suhu tubuhnya tercatat 39,4°C dan ia mengalami panting atau pernapasan cepat.
Tim medis kemudian memberikan cairan infus, serta memberikan oksigen dan kompres untuk membantu menurunkan suhu tubuhnya. Setelah dievakuasi, Noni masih terus menyusu kepada induknya dan kondisinya akan dipantau secara ketat mengingat usianya yang masih sangat muda dan ketergantungannya pada induk.
Setelah dievakuasi, enam orangutan tersebut, dibawa ke Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Orangutan YIARI untuk menjalani pemantauan kesehatan lebih lanjut oleh tim medis. Untuk sementara, enam orangutan ini akan menjalani proses pemantauan dan perawatan di Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Orangutan YIARI.
Menurut Yiari, tim akan terus memantau perkembangan kondisi karhutla serta kondisi habitat di sekitar lokasi asal mereka. Apabila kondisi lingkungan telah aman dan tersedia habitat yang sesuai, tim akan melakukan penilaian lebih lanjut untuk menentukan lokasi yang memungkinkan bagi orangutan-orangutan tersebut untuk kembali ke alam.
Informasi mengenai keberadaan orangutan-orangutan tersebut awalnya diperoleh melalui kegiatan patroli dan pemantauan bersama BKSDA Kalbar dan YIARI yang dilakukan pada 1 September 2026. Kegiatan ini dilakukan untuk memantau kondisi kawasan sekaligus mendeteksi keberadaan satwa liar yang berada dalam ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Hanya beberapa hari setelah patroli bersama tersebut dimulai, tim menerima informasi mengenai keberadaan sejumlah orangutan yang bergerak di sekitar perkebunan warga akibat akses mereka menuju habitat hutan terputus oleh karhutla. Tim kemudian memutuskan melakukan evakuasi terhadap orangutan-orangutan tersebut.
Pada operasi pertama, Jumat (4/9/2026), tim gabungan menyelamatkan empat individu orangutan, yaitu Naufal, Nopan, Mama Nopi, dan anaknya, Nopi. Selanjutnya, pada Selasa (8/9/2026), tim yang kembali melakukan evakuasi sepasang induk dan anak orangutan di kawasan yang sama setelah mendapatkan laporan keberadaan orangutan ini sehari sebelumnya.
Enam orangutan ini ditemukan di perkebunan campuran milik warga. Sekitar 200 meter dari lokasi penyelamatan, terdapat kebakaran yang cukup besar. Kebakaran tersebut telah memutus akses orangutan dari kawasan perkebunan menuju blok hutan yang masih tersisa, dan membuat orangutan tidak memiliki jalur aman untuk kembali ke habitatnya dan hanya dapat berpindah dari satu kebun ke kebun lainnya di Desa Pemangkat dan wilayah sekitarnya.
YIARI menyebut kondisi tersebut meningkatkan risiko bagi orangutan karena mereka berada semakin dekat dengan aktivitas manusia, sementara habitat alaminya terisolasi oleh kebakaran. Selain menghadapi ancaman api dan asap, perpindahan orangutan di antara perkebunan juga berpotensi meningkatkan interaksi dan konflik dengan masyarakat.
Dengan diselamatkannya enam individu orangutan dari Desa Pemangkat, jumlah orangutan yang telah diselamatkan Kementerian Kehutanan melalui BKSDA Kalbar bersama YIARI akibat ancaman karhutla dalam satu bulan terakhir mencapai 15 individu. Angka ini menunjukkan semakin besarnya tekanan yang dihadapi satwa liar akibat meluasnya karhutla.
YIARI beranggapan, kebakaran tidak hanya mengancam satwa secara langsung melalui api dan asap, tetapi juga dapat memutus konektivitas habitat, memaksa satwa keluar dari kawasan alaminya, serta memperkecil ruang gerak dan ketersediaan pakan orangutan.
Argitoe Ranting, Direktur Operasional Program YIARI, mengatakan bahwa kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan serius dalam penanganan orangutan terdampak karhutla. Argitoe bilang, permasalahan yang pihaknya khawatirkan bukan hanya soal api mendekati orangutan, tetapi juga ketika kebakaran memutus akses satwa ini menuju hutan.
"Mereka akhirnya terjebak di lanskap perkebunan dan berpindah dari satu kebun ke kebun lainnya untuk mencari makanan dan tempat berlindung. Situasi seperti ini meningkatkan risiko bagi orangutan sekaligus memperbesar potensi konflik dengan manusia,” ujar Argitoe, katanya pada Selasa (8/9/2026).
Ia menambahkan, patroli dan pemantauan perlu terus dilakukan selama karhutla masih berlangsung. Tim gabungan di lapangan terus meningkatkan patroli dan merespons setiap laporan mengenai orangutan yang keluar dari habitatnya atau berada di lokasi yang terancam kebakaran, terutama di kawasan yang aksesnya menuju hutan telah terputus akibat karhutla.
Ketua Umum YIARI, Silverius Oscar Unggul menyatakan dukungannya kepada pemerintah dalam upaya-upaya penyelamatan satwa terdampak karhutla. Dalam situasi seperti saat ini, penyelamatan satwa menjadi bagian penting dari penanganan karhutla, terutama ketika kebakaran menyebabkan habitat dan akses satwa ke hutan semakin terbatas.
"Kami siap mendukung BKSDA melalui keahlian dan sumber daya yang kami miliki, khususnya dalam penyelamatan dan penanganan orangutan serta satwa liar lainnya yang berada dalam kondisi terancam,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala BKSDA Kalbar, Murlan Dameria Pane, menyebut karhutla tekag menyebabkan terganggunya akses satwa liar terhadap sumber pakan dan ruang jelajahnya sehingga upaya pencegahan merupakan pilihan tepat. Namun pada kondisi kebakaran telah terjadi maka peran seluruh elemen masyarakat dalam mendeteksi dan melaporkan satwa terdampak menjadi bagian penting dari upaya penanggulangan dampak kebakaran hutan.
"Upaya penyelamatan satwa terdampak kebakaran hutan berpacu dengan waktu, oleh karena itu kami himbau masyarakat dapat melaporkan kepada call center Balai KSDA Kalimantan Barat 08115776767 atau 08115670041 jika menemukan satwa terdampak kebakaran hutan dan lahan,” ujarnya.




