Sabtu, 22 Agustus 2026

            

Berita

Kecerdasan Buatan Ungkap Karang di Sulawesi Dibom Tiap 62 menit

Demi menangkap ikan, terumbu karang di perairan Spermonde, Sulawesi Barat, dibom rata-rata sekali setiap 62 menit.

Sabtu, 22 Agustus 2026
Terumbu karang yang rusak akibat penangkapan ikan menggunakan bom di perairan Spermonde, Sulawesi Barat. Foto: Tim Lamont.
Terumbu karang yang rusak akibat penangkapan ikan menggunakan bom di perairan Spermonde, Sulawesi Barat. Foto: Tim Lamont.

BETAHITA.ID - Praktik penangkapan ikan dengan menggunakan bom ilegal telah menyebabkan kerusakan parah pada beberapa terumbu karang dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia, seperti yang terjadi di perairan Spermonde, Sulawesi Barat. Demikian menurut sebuah studi percontohan terbaru yang melibatkan Dr. Tim Lamont, peneliti terumbu karang dari Lancaster Environment Centre.

Dilansir dari laman Lancester University, dengan menggunakan sistem pendengaran bawah air yang didukung kecerdasan buatan (AI), tim peneliti menemukan bahwa bom diledakkan di kawasan hotspot keanekaragaman hayati laut global dengan frekuensi hampir satu kali per jam. Temuan ini mengungkap skala sebenarnya dari salah satu praktik penangkapan ikan paling merusak di dunia dan memberikan bukti penting untuk mendukung upaya konservasi.

Penangkapan ikan dengan bom diakui sebagai salah satu praktik penangkapan ikan paling merusak. Praktik ini melibatkan penggunaan bahan peledak rakitan untuk melumpuhkan atau membunuh ikan dalam jumlah besar guna dipanen. Efisiensi ini harus dibayar dengan biaya ekologis yang signifikan, karena ledakan-ledakan tersebut menyebabkan kerusakan yang meluas.

Penangkapan ikan dengan bom sangat marak terjadi di terumbu karang tropis yang sangat terancam, di mana populasi ikan yang padat sering ditemukan di perairan dangkal. Secara global, 90% terumbu karang diperkirakan akan hilang akibat perubahan iklim pada 2050 berdasarkan skenario pemanasan global 1,5°C, dan penangkapan ikan dengan bom merupakan faktor stres tambahan yang sangat parah. Meskipun dilarang secara universal, penangkapan ikan dengan bom telah didokumentasikan terjadi di setidaknya 34 negara.

Menurut penelitian ini, setiap ledakan dapat membunuh ikan tanpa pandang bulu hingga jarak puluhan meter, sekaligus menyebabkan kerusakan fisik pada struktur terumbu karang. Ledakan yang berulang-ulang dapat mengubah seluruh terumbu karang menjadi hamparan puing-puing yang tidak dapat pulih tanpa intervensi yang mahal.

Tak sampai di situ saja, dampak ekologis ini juga memiliki konsekuensi sosial-ekonomi yang signifikan bagi masyarakat yang bergantung pada terumbu karang. Menurunnya populasi ikan dapat mengurangi ketahanan pangan dan pendapatan, sementara degradasi terumbu karang juga dapat melemahkan perlindungan alami pesisir dan mengurangi daya tarik terumbu karang bagi pariwisata.

Para peneliti menyebut berbagai faktor dapat mendorong praktik penangkapan ikan dengan bom, termasuk kemiskinan dan kurangnya mata pencaharian alternatif. Penegakan hukum yang lemah juga dapat memungkinkan rantai pasokan ilegal untuk komponen bahan peledak—serta praktik itu sendiri—terus berlanjut.

Namun, sejauh mana praktik penangkapan ikan dengan bom terjadi di wilayah-wilayah yang terdampak masih belum diketahui, sehingga menyulitkan identifikasi titik-titik rawan dan pola aktivitas yang diperlukan untuk mendukung pengelolaan yang efektif.

Dalam makalah mereka yang berjudul ‘Praktik penangkapan ikan dengan bom yang meluas di Kepulauan Indo-Pasifik terungkap melalui pemantauan akustik pasif yang dipercepat dengan pembelajaran mesin’, yang diterbitkan dalam jurnal Remote Sensing in Ecology and Conservation, sebuah tim peneliti yang melibatkan Dr. Lamont serta para peneliti dari universitas-universitas di Indonesia dan Inggris, berupaya menentukan intensitas penangkapan ikan dengan bom, memperkirakan tingkat maksimum degradasi terumbu karang yang disebabkan oleh praktik tersebut, dan mendokumentasikan pola aktivitasnya selama periode yang panjang.

Tim peneliti memusatkan perhatian pada Kepulauan Spermonde, di Sulawesi Barat, Indonesia--yang diduga sebagai titik rawan praktik penangkapan ikan dengan bom. Kepulauan ini terletak di dalam kawasan Segitiga Terumbu Karang di Asia Tenggara, wilayah biogeografis laut dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia. Meskipun penangkapan ikan dengan bom telah diidentifikasi sebagai penyebab utama penurunan kondisi terumbu karang di wilayah ini, sejauh mana dampaknya belum pernah diukur secara kuantitatif sebelumnya.

Untuk mengatasi kesenjangan ini, tim peneliti menggunakan mikrofon bawah air dengan jarak deteksi yang diperkirakan sekitar 10 mil, yang mencerminkan fakta bahwa suara ledakan bom dapat menjangkau jarak yang sangat jauh di bawah air.

Yang mengejutkan, para peneliti menemukan bahwa terumbu karang tersebut dibom rata-rata sekali setiap 62 menit. Selama 16 bulan perekaman audio bawah air, mikrofon tersebut merekam hampir 3.570 kasus penangkapan ikan dengan bom dari total 3.650 jam rekaman. Hal ini setara dengan sekitar 8.500 insiden per tahun dan diperkirakan menyebabkan degradasi terumbu seluas 160.000 m².

Untuk memproses ribuan jam rekaman audio yang dihasilkan oleh penelitian ini, tim mengembangkan model kecerdasan buatan (AI) yang mampu mengidentifikasi setiap ledakan bom dengan cepat, sehingga memungkinkan mereka memproses rekaman audio selama satu bulan hanya dalam empat jam.

“Sungguh mengerikan mengetahui bahwa penangkapan ikan dengan bom masih begitu marak di tempat-tempat seperti ini--hal ini menyebabkan kerusakan yang sangat besar di kawasan-kawasan penting keanekaragaman hayati secara global. Namun, teknologi yang dikembangkan dalam penemuan ini juga merupakan bukti konsep yang menggembirakan,” kata Dr. Lamont, dalam keterangan tertulis, pada Senin (17/8/2026).

Temuan ini memberikan secercah harapan bagi upaya konservasi, sekaligus menunjukkan potensi pendekatan berbiaya rendah ini untuk mengukur tekanan penangkapan ikan yang kurang dilaporkan dan sangat merusak dalam skala besar. Pendekatan ini berpotensi mengidentifikasi titik-titik rawan penangkapan ikan dengan bom serta puncak aktivitasnya guna mendukung patroli yang ditargetkan atau upaya pemulihan respons cepat.

Sementara kampanye intervensi yang dirancang dengan cermat--yang menggabungkan analisis data yang dipercepat oleh kecerdasan buatan (AI) dengan keterlibatan masyarakat lokal--dapat memberikan peluang baru untuk mengurangi praktik tersebut dengan cara yang efektif dan adil.

“Kini, dengan peralatan berbiaya rendah, kita dapat mendeteksi bom secara otomatis; hal ini membuka peluang untuk kemajuan signifikan dalam pemantauan dan penegakan hukum. Teknologi ini benar-benar dapat membantu dalam perjuangan untuk mengakhiri penangkapan ikan dengan bom di seluruh dunia,” ujar Dr. Lamont.