Berita
Kuskus Waigeo Terancam Pembukaan Hutan
Penebangan dan fragmentasi hutan dapat menyebabkan populasi kuskus terpecah menjadi kelompok-kelompok kecil.
Minggu, 23 Agustus 2026

BETAHITA.ID - Sebuah video yang viral di media sosial memperlihatkan seekor kuskus waigeo (Spilocuscus papuensis) begitu tampak menyedihkan, berada di atas tunggul pohon di tengah lahan terbuka, yang diduga sebelumnya merupakan habitat satwa endemik Papua tersebut. Video ini diambil oleh seorang yang berada di dalam kabin alat berat yang tengah bekerja di lahan, yang diduga terletak di Merauke, Papua Selatan.
Menurut Dosen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata IPB University, Abdul Haris Mustari, kemunculan kuskus pada pohon tumbang yang diperlihatkan dalam video viral tersebut merupakan indikasi kuat bahwa satwa endemik itu kehilangan habitat alaminya.
Kuskus waigeo sendiri merupakan satwa berkantung dari famili Phalangeridae, satwa endemik Pulau Waigeo, Papua Barat. Mustari bilang, satwa tersebut sepenuhnya arboreal (organisme yang hidup dan menghabiskan sebagian besar waktunya di atas pohon) sehingga keberlangsungan hidupnya sangat bergantung pada keberadaan hutan dan pepohonan.
“Kuskus waigeo adalah satwa arboreal penuh. Hutan adalah segalanya bagi satwa ini karena menjadi habitat, tempat mencari makan dan minum, berlindung, serta berkembang biak,” ujar Mustari, dalam keterangan tertulis, pada Selasa (18/8/2026).
Ia menuturkan, kuskus waigeo dapat menghuni berbagai tipe hutan, mulai dari hutan mangrove, hutan pantai, hutan dataran rendah, hingga hutan pegunungan. Satwa ini juga bersifat omnivora dengan makanan berupa buah, daun, bunga, serangga, telur dan anak burung, serta reptil berukuran kecil.
Oleh karenanya, keberadaan kuskus di atas pohon yang telah ditebang dinilai sebagai kondisi yang tidak biasa. Mustari menyebut, satwa tersebut semestinya berada di tajuk hutan primer atau hutan sekunder tua.
“Kuskus waigeo yang berada di atas pohon tumbang jelas menunjukkan bahwa satwa ini kehilangan habitat yang selama ini dihuni secara turun-temurun,” katanya.
Kondisi tersebut, imbuhnya, menjadi semakin serius karena kuskus waigeo memiliki pergerakan yang relatif lambat dan hidup secara soliter.
Lebih lanjut, Mustari menganggap hilangnya kanopi membuat kuskus lebih mudah terpapar gangguan, kehilangan sumber pakan dan tempat berlindung, serta meningkatkan risiko ditangkap manusia. Penebangan dan fragmentasi hutan dapat menyebabkan populasi kuskus terpecah menjadi kelompok-kelompok kecil.
“Kondisi ini berpotensi menurunkan variasi genetik melalui perkawinan sekerabat atau inbreeding, menurunkan angka kelahiran, meningkatkan kematian, dan pada akhirnya mendorong populasi menuju ambang kepunahan (extinction vortex),” ujarnya.
Mustari menganggap penting menjaga kesinambungan tajuk antar pohon, agar kuskus dapat berpindah secara alami. Pada habitat yang telah terfragmentasi, koridor penghubung antarkawasan hutan juga perlu dipertahankan atau dipulihkan.
“Penebangan hutan dan konversi lahan secara perlahan tetapi pasti dapat menggiring satwa endemik ini menuju kepunahan. Kehilangan biodiversitas berarti kehilangan salah satu mata rantai kehidupan,” ucapnya.




