Berita
Ayam Hutan Indonesia Terancam Alami Erosi Genetika oleh Perburuan
Jika perburuan berlangsung tak terkendali, ayam hutan akan mengalami erosi genetik dan kemurnian silsilahnya sulit dipertahankan.
Selasa, 18 Agustus 2026

BETAHITA.ID - Penyusutan habitat, perburuan, hingga persilangan dengan jenis ayam lain, menjadi ancaman dan tekanan bagi keberadaan ayam hutan di Indonesia. Menurut akademisi, kondisi tersebut tak hanya mengancam populasi di alam, tetapi juga dapat menghilangkan kemurnian genetik ayam hutan sebagai bagian dari kekayaan biodiversitas Indonesia.
Ketua Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (KSHE) IPB University, Nyoto Santoso, mengatakan bahwa populasi ayam hutan secara umum mengalami penurunan akibat semakin menyempitnya habitat. Perubahan hutan menjadi perkebunan, pertanian, pertambangan, maupun penggunaan lainnya memberikan tekanan terhadap ruang hidup ayam hutan
Meski begitu, lanjut Nyoto, ayam hutan memiliki kemampuan beradaptasi dengan lingkungan yang berdekatan dengan aktivitas manusia. Satwa ini masih dapat ditemukan di kawasan perkebunan selama tersedia ruang terbuka atau area berhutan yang dapat menjadi habitat.
“Kalau manusia tidak mengganggu, walaupun itu perkebunan sawit, ayam hutan masih bisa tumbuh dan berkembang karena makanannya banyak, seperti serangga dan biji-bijian,” ujarnya pada 14 Agustus 2026.
Nyoto mengungkapkan, ancaman yang semakin serius justru berasal dari perburuan. Ayam hutan jantan yang responsif terhadap suara kokok ayam hutan lain kerap dimanfaatkan pemburu untuk memancing dan menangkapnya. Tingginya permintaan penghobi turut memperkuat tekanan tersebut.
Menurutnya, ayam hutan banyak dicari bukan untuk dikonsumsi, melainkan sebagai satwa peliharaan dan indukan untuk persilangan dengan ayam kampung guna menghasilkan ayam bekisar. Persilangan juga dilakukan dengan ayam kate, ayam ketawa, dan jenis ayam lainnya.
“Jika berlangsung tanpa pengendalian, kondisi ini dapat menyebabkan erosi genetik dan membuat kemurnian ayam hutan asli semakin sulit dipertahankan,” katanya.
Dua ayam hutan asli Indonesia
Lebih lanjut Nyoto menuturkan, Indonesia memiliki dua jenis ayam hutan asli, yakni ayam hutan merah (Gallus gallus) dan ayam hutan hijau (Gallus varius). Ayam hutan merah tersebar di Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi, sementara ayam hutan hijau ditemukan di Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Nyoto berpendapat, menjaga galur murni menjadi bagian penting dalam konservasi ayam hutan Indonesia. Penangkaran dapat menjadi salah satu solusi, tetapi perlu dilakukan secara resmi dengan memperhatikan asal-usul genetik induk.
Pemerintah, imbuh Nyoto, melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem perlu mendorong penangkaran berizin serta menyediakan indukan yang sesuai bagi masyarakat maupun perguruan tinggi. Nyoto menganggap peran perguruan tinggi penting untuk penelitian pembiakan, perilaku, adaptasi, dan pemeliharaan ayam hutan di penangkaran.
“Yang sangat penting adalah adaptasi terhadap tempat itu dan bagaimana mereka bisa menjalani hidup di dalam kandang. Hasil penangkaran juga dapat diarahkan untuk meningkatkan populasi dan mendukung pelepasliaran kembali,” kata Nyoto.
Nyoto bilang, konservasi ayam hutan pada akhirnya membutuhkan perlindungan habitat, pengendalian perburuan, penangkaran berizin, serta penjagaan kemurnian genetik secara bersama-sama.




