Berita
56 Juta Tahun Lalu, Hutan Dunia Juga Hilang Akibat Kenaikan Suhu
Bahan bakar fosil sebaiknya tetap tersimpan dalam tanah untuk mencegah kematian massal hutan dunia.
Minggu, 16 Agustus 2026

BETAHITA.ID - Penambahan karbon dioksida dalam jumlah besar ke atmosfer diperkirakan akan menyebabkan hutan-hutan di Bumi layu dan mati, demikian menurut sebuah studi baru.
Analisis terhadap sel-sel daun yang menjadi fosil dari periode yang dikenal sebagai Paleocene-Eocene Thermal Maximum (atau PETM)—yang terjadi sekitar 56 juta tahun yang lalu—telah membantu merekonstruksi bagaimana hutan-hutan dunia merespons saat gas-gas pemicu pemanasan planet dilepaskan dalam laju yang cepat di masa lampau.
Laju emisi karbon yang melonjak pesat saat ini akibat pembakaran bahan bakar fosil tidak memiliki tandingan dalam catatan sejarah maupun prasejarah. Namun PETM—periode ketika karbon dalam jumlah masif dilepaskan selama kurun waktu 130.000 tahun dan suhu dunia meningkat hingga 8°C—merupakan perbandingan yang paling mendekati.
Para penulis makalah baru tersebut menemukan, perubahan prasejarah ini menyebabkan degradasi hutan-hutan yang sebelumnya menyelimuti dunia pada masa Paleosen-Eosen, hingga akhirnya mati dan membuat Bumi menjadi kecokelatan alih-alih menghijau. Temuan ini menurut para ilmuwan memiliki "implikasi yang mengerikan" bagi dunia saat ini.
"Kami melihat bahwa seiring meningkatnya kadar karbon dioksida, hutan menjadi sangat lebat namun kemudian runtuh, sehingga area hutan terbuka secara drastis," ujar Regan Dunn, peneliti di La Brea Tar Pits yang memimpin studi tersebut, Kamis, 13 Agustus 2026.
"Sekitar 60% biomassa vegetasi yang ada saat itu lenyap; ini merupakan kehilangan yang sangat besar. Hal ini patut menjadi perhatian karena laju pelepasan karbon saat ini berada pada tingkat tertinggi yang pernah tercatat," ujarnya.
"Hutan adalah salah satu sahabat dan sekutu terbaik kita, namun kita sudah melihat hutan-hutan tersebut mati, ditebang, dan dilalap kebakaran hebat. Perubahan ini terjadi dengan cepat; setiap musim panas, perubahannya tampak semakin cepat," kata Dunn.
Makalah baru tersebut menyatakan bahwa peralihan dari kondisi hutan yang menghijau menjadi kecokelatan (akibat kekeringan dan kematian vegetasi) terjadi sekitar tahun 2000, saat dampak kekeringan dan tekanan akibat panas melampaui manfaat dari tambahan CO2. Sejak saat itu, semakin banyak bukti yang menunjukkan peningkatan angka kematian pohon di seluruh dunia, termasuk pohon-pohon di wilayah tropis yang mati akibat dehidrasi.
"Begitu iklim menjadi terlalu hangat, tanaman tidak mampu menanggungnya; hal ini memengaruhi fisiologi serta interaksi mereka dengan air," ujar Dunn.
"Saat tanaman tidak lagi dapat bertahan hidup akibat kadar CO2 dan suhu yang terlalu tinggi, itulah saat kita melihat terjadinya kematian hutan secara massal," katanya.
Menurut Dunn, saat ini sedang terjadi "tingkat kematian pohon yang cukup tinggi" di Eropa, Amerika Utara, dan wilayah Amazon. Adapun kebakaran hutan dan lahan kini menjadi peristiwa tahunan, mulai dari Eropa, Amerika, hingga Indonesia.
Hal ini menuntut pengurangan emisi karbon secara cepat guna memastikan dunia tidak mengalami nasib serupa dengan peristiwa yang terjadi 56 juta tahun silam, kata peneliti.
"Masih ada waktu untuk mencegah dampak terburuk, dan langkah terbaik yang bisa kita lakukan adalah membiarkan bahan bakar fosil tetap tersimpan di dalam tanah," ungkapnya.
"Penting bagi masyarakat untuk memahami bahwa begitu kita melampaui ambang batas tertentu, dibutuhkan waktu yang sangat lama untuk pulih kembali. Periode perubahan PETM yang berlangsung selama 130.000 tahun itu, jika dilihat dari skala waktu manusia, pada dasarnya terasa seperti waktu yang tak berujung," kata Dunn.
Dunn dan rekan-rekannya menentukan cakupan hutan purba dengan menganalisis sel-sel daun yang telah menjadi fosil, yang dikenal sebagai fragmen kutikula daun. Metode ini memungkinkan mereka untuk mengetahui kepadatan tajuk hutan pada masa PETM, sehingga mereka dapat menghitung pola perluasan dan penyusutan hutan dari waktu ke waktu.
Pada masa lampau tersebut, hutan menutupi wilayah dunia yang jauh lebih luas dibandingkan saat ini; tidak ada es di kutub dan permukaan laut jauh lebih tinggi daripada sekarang. Namun, meskipun perubahan pada masa PETM terjadi selama ribuan tahun akibat pelepasan karbon dari aktivitas vulkanik alami, perubahan iklim saat ini berlangsung jauh lebih cepat dan disebabkan oleh pembakaran bahan bakar fosil yang kita lakukan secara sengaja.




