Kamis, 13 Agustus 2026

            

Berita

Berisiko Rugi US$13 M karena Minyak, Saatnya Energi Terbarukan

Rumah tangga di Indonesia turut menanggung. Saatnya beralih ke energi terbarukan.

Kamis, 13 Agustus 2026
Kebakaran di Depot Minyak Shahran di barat laut Teheran setelah serangan udara Israel pada 7 Maret 2026. Dok. @sentdefender via ceobs.org
Kebakaran di Depot Minyak Shahran di barat laut Teheran setelah serangan udara Israel pada 7 Maret 2026. Dok. @sentdefender via ceobs.org

BETAHITA.ID - Di saat perusahaan-perusahaan minyak terbesar dunia mencatatkan laba sebesar US$93 miliar pada kuartal kedua tahun 2026, analisis terbaru menunjukkan bahwa rumah tangga di Indonesia justru menanggung dampak dari lonjakan harga minyak akibat perang AS di Iran. 

Riset terbaru dari 350.org menunjukkan, kenaikan harga minyak telah membebani rumah tangga di Indonesia dengan perkiraan biaya sebesar US$5 miliar sejak dimulainya perang di Iran. Angka ini diperkirakan membengkak hingga lebih dari US$13 miliar pada akhir tahun jika eskalasi terus berlanjut. 

Bahkan jika situasi di Selat Hormuz dan kawasan sekitarnya kembali normal dengan cepat, harga minyak yang lebih tinggi tetap akan membebani masyarakat dan pelaku usaha di Indonesia dengan biaya lebih dari US$7 miliar. 

Hasil analisis tersebut mencerminkan perkiraan biaya tambahan yang harus ditanggung secara kolektif oleh masyarakat di Indonesia akibat ketergantungan pada bahan bakar fosil. 

Di sisi lain, fenomena El Niño yang kuat, yang terjadi bersamaan dengan rekor suhu tertinggi, telah memicu kekeringan, kebakaran hutan, dan curah hujan tinggi di berbagai wilayah di Indonesia.

Manajer 350.org Indonesia Sisilia Nurmala Dewi mengatakan, kondisi geopolitik tersebut juga menunjukkan adanya kebutuhan mendesak bagi Indonesia untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil impor dan sebaliknya mempercepat peralihan ke energi terbarukan yang lebih terjangkau. 

“Dampak ganda dari tingginya biaya energi dan cuaca ekstrem telah mendorong rumah tangga di Indonesia ke ambang krisis yang berbahaya. Sementara itu, perusahaan-perusahaan minyak terbesar dunia justru meraup keuntungan tanpa hambatan dari krisis yang turut mereka ciptakan—semuanya diputuskan di ruang rapat yang jauh dari lokasi terdampak,” kata Sisilia, Rabu, 12 Agustus 2026. 

“Hal ini bukan sekadar tidak adil, melainkan sesuatu yang tidak dapat diterima. Indonesia memiliki sumber daya matahari dan angin yang melimpah untuk memenuhi kebutuhan energinya sendiri tanpa harus bergantung pada impor bahan bakar fosil yang mahal dan harganya fluktuatif,” ujarnya. 

Sisilia mendesak pemerintahan Presiden Prabowo Subianto untuk segera menerapkan pajak atas keuntungan tak terduga (windfall profit tax) dan menggunakan dana tersebut untuk melindungi keluarga rentan dan terdampak akibat lonjakan harga energi dan krisis iklim. 

“Para pemimpin kita harus memastikan pihak pencemar memikul tanggung jawab yang setimpal dan mempercepat transisi ke energi terbarukan, agar kita tidak lagi tersandera oleh pasar minyak global,” ujarnya.

Secara global, 350.org menyerukan penerapan pajak permanen atas keuntungan tak terduga bagi perusahaan minyak, gas, dan batu bara guna menggalang dana yang sangat dibutuhkan untuk penanganan dan pemulihan akibat bencana iklim, perlindungan sosial, serta percepatan penerapan energi terbarukan demi membantu masyarakat rentan.

Analisis tersebut menggunakan perhitungan konservatif, dan didasarkan pada skenario harga minyak dan gas dari laporan World Economic Outlook April 2026 yang dikeluarkan oleh Dana Moneter Internasional (IMF) April lalu, prospek harga dari Goldman Sachs, serta data konsumsi Indonesia dan penurunan permintaan akibat harga yang lebih tinggi.