Berita
Populasi Orangutan Sumatera Turun, Konservasi Jadi Mendesak
Populasi orangutan sumatra (Pongo abelii) tersisa 11.694 individu. Padahal tak gampang berkembang biak.
Kamis, 13 Agustus 2026

BETAHITA.ID - Angka populasi orangutan di Sumatera terus mengalami penurunan, dan berada pada kondisi yang mengkhawatirkan. Kondisi tersebut harus diperlakukan sebagai keadaan darurat konservasi, demikian menurut Dede Aulia Rahman, peneliti IPB University dari Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan.
Dede menguraikan, berdasarkan hasil survei 2021–2023, populasi orangutan sumatra (Pongo abelii) jumlahnya sekitar 11.694 individu. Angka tersebut lebih kecil dibandingkan pada 2011 yang berjumlah sekitar 13.846 individu. Dengan metode dan wilayah pengamatan yang sebanding, penurunan populasi orangutan Sumatera mencapai sekitar 19,5 persen, dalam kurun 12 tahun, atau rata-rata 1,8 persen per tahun.
Masih menurut hasil survei, pusat populasi orangutan Sumatra terbesar masih berada di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) yang menopang sekitar 84 persen populasi orangutan sumatra. Hal tersebut menunjukkan bahwa keberlanjutan KEL sangat menentukan masa depan spesies tersebut.
Sementara itu, orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis), angka populasinya jauh lebih kecil, diperkirakan hanya tersisa sekitar 716 individu. Populasi tersebut tersebar dalam tiga metapopulasi di Ekosistem Batang Toru, Sumatera Utara.
“Angka ini sangat serius karena orang utan bukan satwa yang mampu memulihkan populasinya dengan cepat,” kata Dede dalam keterangan tertulis, pada Selasa (11/8/2026).
Dede berpendapat, kehilangan habitat masih menjadi ancaman utama terhadap kelangsungan hidup orangutan. Penelitian menunjukkan bahwa sekitar 76 persen variasi perubahan populasi antar-metapopulasi dipengaruhi oleh hilangnya tutupan hutan.
Selama periode 2011–2023, sekitar 94.399 hektare hutan di wilayah sebaran orangutan hilang, baik akibat ekspansi perkebunan, pembangunan infrastruktur, pertambangan, hingga perambahan ilegal.
Namun Dede menegaskan, hilangnya habitat bukan satu-satunya penyebab penurunan populasi. Pembunuhan akibat konflik manusia-orangutan, perburuan, perdagangan ilegal, hingga fragmentasi habitat juga memberikan tekanan yang sangat besar.
Karena itu, menurut Dede, tidaklah tepat apabila mempertentangkan kehilangan habitat dengan pembunuhan atau konflik seolah-olah keduanya merupakan ancaman yang terpisah. Sebab keduanya saling memperkuat.
"Kehilangan habitat dan fragmentasi mendorong orang utan memasuki kebun dan permukiman, kemudian meningkatkan konflik, penangkapan, dan pembunuhan,” kata Dede.
Di sisi lain, Dede menjelaskan, orangutan memiliki laju reproduksi yang sangat lambat. Orangutan betina umumnya hanya melahirkan satu anak, dengan jarak antarkelahiran sekitar tujuh hingga sembilan tahun. Kondisi ini membuat populasi orangutan sulit pulih bila terjadi kematian individu maupun kehilangan habitat.
Dede mengingatkan, jika kehilangan habitat, fragmentasi hutan, dan kematian orangutan akibat aktivitas manusia terus berlangsung, risiko kepunahan lokal satwa langka dilindungi itu akan semakin meningkat, terutama pada metapopulasi kecil dan orangutan tapanuli
Oleh karenanya, Dede berpendapat, upaya konservasi harus dilakukan secara terpadu dengan menghentikan kehilangan habitat penting, menjaga dan memulihkan koridor ekologis, menekan kematian orang utan akibat aktivitas manusia, serta memperkuat kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, masyarakat, dan lembaga konservasi.
“Dengan langkah tersebut, peluang mempertahankan populasi orang utan sumatra masih terbuka,” ucap Dede.




