Berita
Pemanasan Global akan Naik Setidaknya 1,8°C
Laporan itu menyatakan: 'Tidak ada dampak baik jika suhu naik melebihi 1,5°C!'
Kamis, 03 September 2026

BETAHITA.ID - Pemanasan global akan mencapai setidaknya 1,8°C bahkan dalam skenario masa depan yang paling optimistis sekalipun—jauh melampaui target 1,5°C yang ditetapkan dalam Kesepakatan Paris, menurut laporan terbaru dari Program Lingkungan PBB (UNEP).
Para ilmuwan memperingatkan bahwa setiap kenaikan suhu, sekecil apa pun, akan memperparah cuaca ekstrem yang merusak, pencairan gletser, hilangnya ekosistem, serta tenggelamnya pulau dan kota pesisir.
Laporan itu menyatakan: "Tidak ada dampak baik jika suhu naik melebihi 1,5°C".
Laporan tersebut mengungkapkan, kegagalan untuk tetap berada di bawah batas kenaikan suhu 1,5°C kini tidak dapat dihindarkan. Meski telah ada kemajuan dalam mengatasi krisis iklim akibat aktivitas manusia (terutama pembakaran bahan bakar fosil), ambang batas tersebut kemungkinan besar akan terlampaui dalam beberapa tahun mendatang.
Pemanasan hingga 3°C di atas tingkat pra-industri dapat menyebabkan hilangnya lebih dari seperempat massa gletser pada 2100, yang akan menaikkan permukaan laut hingga 13 cm. Produksi pangan global bisa turun hingga 14% pada 2050 jika tidak ada strategi adaptasi yang efektif.
Kesehatan manusia, pasokan air, alam, perkotaan, infrastruktur, dan perekonomian semuanya dapat mengalami kerusakan parah. Beberapa dampak kerugian tidak dapat dipulihkan kembali. Banyak komunitas mungkin harus pindah tempat tinggal atau mengubah mata pencaharian mereka.
Laporan tersebut menyatakan bahwa harapan terbaik bagi umat manusia untuk membatasi kerusakan adalah dengan mengadopsi jalur "melampaui batas, mencapai puncak, lalu menurun" (overshoot, peak, and decline). Jalur ini menuntut pengurangan emisi gas rumah kaca yang segera dan berkelanjutan, disertai langkah untuk menyingkirkan karbon dioksida dari atmosfer.
Laporan tersebut menggambarkan target emisi nol bersih (net zero) sebagai "tonggak penting yang tidak boleh dilewatkan". Selain itu, laporan tersebut menegaskan bahwa upaya penyingkiran karbon dioksida (seperti melalui penanaman hutan baru yang luas) harus dilakukan bersamaan dengan—bukan sebagai pengganti—pengurangan drastis polusi akibat bahan bakar fosil.
Yang tak kalah penting, para penulis laporan bertajuk “Limiting Overshoot” tersebut menyatakan bahwa suhu rata-rata global dapat dikembalikan ke tingkat 1,5°C pada abad ini hanya jika kenaikan suhu tetap berada di bawah angka sekitar 1,8°C. Mereka memperingatkan bahwa kapasitas alam dalam menyimpan karbon masih belum pasti dan akan menyusut seiring dengan semakin panasnya suhu planet ini.
“Kita perlu melihat peningkatan yang mendesak dan belum pernah terjadi sebelumnya dalam hal kemauan politik serta investasi demi masa depan yang aman dari perubahan iklim. Tidak ada seorang pun yang bisa membaca laporan ini dan menarik kesimpulan sebaliknya.”
Direktur Eksekutif UNEP, Inger Andersen, mengatakan bahwa masa depan akan membawa banyak ketidakpastian. Namun gelombang panas ekstrem—seperti yang memecahkan rekor serta memperparah kebakaran hutan dan kekeringan pada musim panas di belahan bumi utara tahun ini—telah membuktikan bahwa dampak perubahan iklim akan datang lebih cepat, menghantam lebih keras, dan berlangsung lebih lama.
“Kita harus bertindak dengan urgensi dan tekad yang kuat. Setiap fraksi derajat kenaikan suhu yang dapat dihindari, setiap tahun yang dapat memangkas durasi pelampauan batas suhu, serta setiap tindakan adaptasi yang dilakukan akan menyelamatkan nyawa, melindungi ekosistem, dan mengurangi kerugian ekonomi,” ujarnya Rabu, 2 September 2026.
Debra Roberts, salah satu penulis laporan sekaligus ketua bersama Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC), mengatakan bahwa pesan utama laporan tersebut adalah "aturan main kini telah berubah".
"Pendekatan yang ada saat ini tidak lagi memadai untuk tujuan tersebut," ujarnya. "Menurut saya, itulah seruan utamanya. Kita kini harus menata ulang tata kelola iklim kita agar mampu menghadapi skenario pelampauan batas suhu)," kata Roberts.
Menurut Roberts, hal itu tidak hanya mencakup pengurangan polusi dan penyingkiran karbon, tetapi juga adaptasi yang berani untuk melindungi infrastruktur dan mata pencaharian, menjaga dukungan politik dan sosial bagi upaya pengurangan emisi, serta mencegah pengalihan sumber daya untuk penanganan krisis.
Climate Analytics, sebuah lembaga sains dan kebijakan, mengapresiasi laporan tersebut karena telah memaparkan masalah dengan jelas, namun menilai laporan itu kurang berhasil dalam "menunjukkan kepada kita bahwa ada jalan keluarnya".
Bill Hare, kepala eksekutif Climate Analytics mengatakan, UNEP hampir tidak menyinggung perlunya penghentian bertahap penggunaan bahan bakar fosil, ataupun bukti yang menunjukkan pencapaian emisi nol riil dapat dilakukan di banyak sektor energi pada pertengahan abad ini.
Para penulis laporan tersebut merujuk pada penelitian sebelumnya yang menemukan bahwa untuk membatasi kenaikan suhu hingga sekitar 1,8°C, emisi global harus dipangkas setengahnya pada 2035. Mereka menyatakan bahwa kebijakan nasional saat ini diperkirakan akan menyebabkan kenaikan suhu setidaknya 2,3°C, namun pembatasan kenaikan suhu di bawah 2°C masih dimungkinkan jika berbagai negara memenuhi komitmen emisi nol bersih pada pertengahan abad ini.




