Selasa, 01 September 2026

            

Berita

Studi Pola El Nino: Bahan Bakar Fosil adalah Maut

El Nino yang kuat, seperti Godzilla yang sedang berkembang, diperkirakan lebih sering terjadi di masa depan.

Selasa, 01 September 2026
Satgas pemadaman Karhutla di Riau. Foto: Istimewa/mediacenter.riau.go.id
Satgas pemadaman Karhutla di Riau. Foto: Istimewa/mediacenter.riau.go.id

BETAHITA.ID - Serangkaian pola iklim El Nino yang kuat dalam beberapa dekade terakhir diperparah oleh pemanasan global akibat pembakaran bahan bakar fosil, menurut sebuah studi baru. 

El Niño adalah fenomena alam yang terjadi setiap dua hingga tujuh tahun sekali, saat perairan di Samudra Pasifik tropis bagian timur memanas, sehingga memicu serangkaian dampak di seluruh dunia. Peristiwa El Niño terbaru yang sedang berkembang ini—yang diperkirakan akan mencapai puncaknya pada akhir tahun ini—diprediksi akan menjadi yang terkuat dalam ingatan manusia dan secara informal dijuluki sebagai peristiwa "Godzilla".

Sudah diketahui secara luas bahwa El Niño, yang biasanya membawa lonjakan suhu global, semakin memperparah krisis iklim yang kian memburuk. Bahkan, tahun depan hampir dipastikan akan menjadi tahun terpanas yang pernah tercatat secara global. Namun, penelitian baru ini mengungkapkan adanya hubungan timbal balik: pemanasan global akibat aktivitas manusia justru membuat fenomena El Niño itu sendiri menjadi lebih intens saat terjadi.

"Temuan kami menunjukkan bahwa El Niño dapat memperparah pemanasan global, namun pemanasan global juga dapat memperparah El Niño—itulah yang sedang kita saksikan," ujar Julia Cole, peneliti iklim dari University of Michigan yang memimpin studi baru tersebut, yang diterbitkan dalam jurnal Science pada 27 Agustus 2026. 

“Kami mengamati tren fenomena El Niño yang semakin kuat, dan peristiwa yang terjadi saat ini selaras dengan tren tersebut—ini bukan sekadar kebetulan,” kata Cole. 

“Kami melihat adanya perubahan di mana karakteristik El Niño saat ini berbeda dibandingkan masa pra-industri. Ini merupakan kabar buruk terkait risiko iklim dan dampaknya terhadap manusia, khususnya bagi mereka yang paling menderita akibat perubahan iklim padahal kontribusi mereka terhadap penyebabnya sangat minim,” ungkapnya. 

Seiring memanasnya suhu bumi akibat penggunaan bahan bakar fosil, serangkaian peristiwa El Niño “super” belakangan ini telah memicu percepatan tambahan; peristiwa-peristiwa intens tersebut menyebabkan rekor suhu global terpecahkan pada 1998, kemudian 2016, dan kembali terpecahkan pada 2024.

Episode El Nino yang begitu kuat kini jauh lebih sering terjadi seiring meningkatnya suhu global secara keseluruhan, menurut para ilmuwan, yang menganalisis komposisi endapan fosil karang berukuran besar menyerupai bongkahan batu di Kepulauan Galapagos. 

Karang-karang purba yang berasal dari masa 1.000 tahun lalu ini menyimpan informasi komposisi kimia yang mencerminkan kondisi suhu permukaan laut saat karang tersebut masih hidup. Menurut Cole, Kepulauan Galápagos, yang terletak di lepas pantai daratan utama Ekuador, berada tepat di jantung wilayah El Nino. Di kawasan ini, perairan sekitarnya mengalami peningkatan suhu yang signifikan saat fenomena tersebut terjadi.

Meskipun karakteristik El Nino cenderung stabil selama sebagian besar periode panjang tersebut, perubahan mulai terjadi ketika dunia memasuki era industrialisasi massal pada akhir abad ke-19. Proses ini menjadi semakin ekstrem dalam 40 tahun terakhir, di mana variabilitas El Nino kini tercatat sekitar 37% lebih tinggi dibandingkan pada masa pra-industri. 

"Setelah peristiwa El Niño tahun 1982, kita mulai melihat variabilitas yang jauh lebih besar; kondisinya jauh lebih ekstrem dan tidak ada bandingannya dalam 1.000 tahun terakhir," ujar Cole.

"Hal yang mengejutkan saya adalah betapa konsistennya pola tersebut. Terdapat perbedaan yang sangat besar dan nyata antara kondisi dalam 40 tahun terakhir dibandingkan dengan masa pra-industri."

Temuan ini dapat membantu menjawab salah satu pertanyaan paling pelik dalam ilmu iklim—yang selama ini belum terjawab dengan pasti—yaitu apakah krisis iklim secara signifikan mengubah kekuatan peristiwa El Nino.

"Ini merupakan indikasi kuat bahwa perubahan iklim mungkin telah memperkuat peristiwa El Niño," kata Samantha Stevenson-Karl, seorang ilmuwan dari University of California, Santa Barbara, sekaligus salah satu penulis studi tersebut. 

"Jika hal itu benar, maka peristiwa berskala sangat besar—seperti yang tampaknya sedang berkembang di Pasifik tropis saat ini—mungkin akan lebih sering terjadi di masa depan," katanya.

Skenario semacam itu diperkirakan akan berdampak besar bagi negara-negara yang sudah menghadapi peningkatan kejadian gelombang panas, kebakaran hutan, dan banjir yang diperparah oleh krisis iklim. Saat El Nino menguat—akibat melemahnya angin pasat yang biasanya mendorong panas permukaan ke arah Pasifik barat—wilayah Amerika Selatan dan bagian selatan Amerika Serikat sering kali mengalami curah hujan yang lebih tinggi dan banjir.

Sementara itu di India, musim monsun biasanya melemah akibat El Nino. sedangkan negara-negara seperti Indonesia dan Australia menghadapi kondisi yang lebih kering, yang memicu kekeringan. Sejumlah wilayah di Indonesia saat ini, seperti Pulau Kalimantan, Jawa, dan Papua, juga tengah menghadap kebakaran hutan dan lahan yang menimbulkan kabut asap pekat. 

Pemahaman bahwa krisis iklim juga memperparah dampak El Niño seharusnya mendorong berbagai negara untuk meningkatkan upaya adaptasi menjelang peristiwa tersebut—seperti langkah penimbunan cadangan pangan yang saat ini dilakukan India—ujar Cole.

"Kita bisa bersiap dan berupaya melakukan adaptasi," tambahnya. "Namun, kita juga perlu mencermati akar permasalahannya, yaitu bahan bakar fosil yang kita bakar setiap hari. Kita harus segera beralih dari teknologi penghasil gas rumah kaca secepat mungkin."