Berita
Suhu Panas Ekstrem Lebih Maut bagi Lansia 60 Tahun ke Atas
Jika pemanasan berlanjut, sebagian wilayah tropis/subtropis akan tidak layak huni bagi lansia.
Rabu, 19 Agustus 2026

BETAHITA.ID - Penelitian menemukan bahwa orang berusia 60 tahun ke atas menghadapi risiko kesehatan akibat paparan panas pada suhu yang jauh lebih rendah daripada perkiraan sebelumnya.
Menurut sebuah studi dalam jurnal The Lancet Public Health, Senin, 17 Agustus 2026, kelompok lanjut usia akan paling terdampak oleh gelombang panas ekstrem yang berkepanjangan dan semakin sering terjadi secara global seiring dengan terus meningkatnya suhu bumi.
Gelombang panas akan menyebabkan semakin banyak orang dari berbagai usia di seluruh dunia mengalami stres panas atau uncompensable heat stress (UHS)—kondisi di mana tubuh kehilangan kemampuan untuk mendinginkan dirinya sendiri—sehingga mereka berisiko mengalami gangguan kesehatan serius, termasuk kematian.
"Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa jika kita memperhitungkan kerentanan berdasarkan kelompok usia, kondisi panas yang tak tertahankan akan terjadi dalam skala yang jauh lebih luas dan durasi yang lebih lama, serta berdampak pada jauh lebih banyak orang daripada perkiraan sebelumnya," demikian menurut studi yang dipimpin oleh para akademisi bidang kesehatan dari Universitas Stanford di California tersebut.
Lansia diketahui lebih rentan terhadap dampak suhu yang sangat tinggi. Mereka lebih sedikit berkeringat, jantung mereka bekerja lebih keras saat cuaca panas, dan pembuluh darah mereka kurang mampu melebar, sehingga membatasi kemampuan tubuh untuk menjaga suhu tetap sejuk.
Namun, penelitian sebelumnya tidak memetakan secara tepat perbedaan risiko yang dihadapi oleh kelompok usia muda (15–39 tahun), paruh baya (40–59 tahun), dan lansia (60 tahun ke atas). Hal ini terjadi karena penelitian tersebut menerapkan ambang batas ketidakmampuan tubuh menjaga keseimbangan suhu—yang akurat untuk kelompok usia muda—pada semua kelompok umur, sehingga mengabaikan risiko yang lebih tinggi pada lansia, misalnya risiko serangan jantung.
Kombinasi antara kenaikan suhu global dan proyeksi peningkatan jumlah penduduk dunia berusia 60 tahun ke atas hingga dua kali lipat—mencapai 2,1 miliar jiwa pada 2050—berarti akan semakin banyak orang dalam kelompok usia tersebut yang mengalami masalah kesehatan akibat panas, terutama di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah seperti India dan Pakistan.
“Stres panas (UHS) akan semakin sering terjadi seiring dengan pemanasan global yang berdampak pada semua kelompok usia. Lansia diprediksi akan menghadapi stres panas yang jauh lebih sering dan meluas dibandingkan kelompok usia muda,” demikian dinyatakan dalam penelitian tersebut.
Sebagai contoh, badan kesehatan di Inggris mencatat, gelombang panas selama empat hari pada bulan Mei dan delapan hari pada bulan Juni menyebabkan 2.877 kematian tambahan. Angka ini hampir dua kali lipat dari 1.504 kematian yang tercatat selama musim panas 2025.
"Ini adalah studi yang sangat signifikan, dengan temuan yang mengindikasikan bahwa gelombang panas dan paparan suhu panas ekstrem akan menjadi ancaman yang kian meningkat bagi kesehatan manusia di tahun-tahun mendatang,” kata Simon Williams, seorang pakar mengenai dampak panas terhadap kesehatan manusia di Swansea University.
“Secara khusus, studi ini menunjukkan bahwa gelombang panas menimbulkan dampak kesehatan yang tidak merata, di mana kelompok lanjut usia sangat rentan," kata Williams.
Ia menambahkan bahwa studi tersebut mengindikasikan kelompok lanjut usia berisiko mengalami stres akibat panas yang berbahaya dan berpotensi fatal hanya pada tingkat pemanasan 1,5°C di atas tingkat pra-industri, dibandingkan dengan 4°C bagi orang yang lebih muda.
Setiap tambahan derajat pemanasan global "membuat sekitar satu juta orang lagi terpapar setidaknya 180 jam UHS (stres akibat panas ekstrem) setiap tahunnya," menurut studi tersebut. Beban ini secara tidak proporsional menimpa kelompok lanjut usia.
Jika pemanasan terus meningkat, sebagian wilayah tropis dan subtropis bisa menjadi tidak layak huni, terutama bagi kalangan lanjut usia, ungkap para penulis.




