Berita
Baterai Mobil Listrik di Indonesia Diduga Pakai Nikel Raja Ampat
Kendaraan listrik di Indonesia diduga menggunakan bijih nikel dari operasi perusahaan yang merusak Raja Ampat.
Jumat, 31 Juli 2026

BETAHITA.ID - Wilayah kepulauan dan perairan dengan keanekaragaman hayati terkaya di dunia belum aman dari ancaman tambang di Indonesia.
Dalam temuan terbaru Greenpeace, setidaknya terdapat tiga perusahaan yang tengah memproses izin pertambangan nikel untuk operasi di bagian timur Pulau Waigeo, Raja Ampat, Papua Barat Daya. Salah satunya juga ditemukan mencoba mengaktivasi izin pertambangan batu bara di Pulau Misool.
Laporan yang terbit Kamis, 30 Juli 2026 tersebut mengungkap dua perusahaan minyak dan gas yang beroperasi di wilayah darat dan laut sekitar Pulau Salawati. Greenpeace menilai, temuan ini menunjukkan besarnya ancaman industri energi fosil di kawasan yang dikenal sebagai “surga terakhir di Bumi” dan ruang hidup bagi banyak komunitas masyarakat adat.
“Greenpeace ingin menyampaikan kepada pemerintah bahwa perhatian kami masih tertuju ke Raja Ampat. Meski Juni tahun lalu Menteri Bahlil Lahadalia mengumumkan pencabutan empat dari lima izin tambang nikel di Raja Ampat, sedikit sekali bukti bahwa pemerintah Indonesia serius melindungi Raja Ampat dari ancaman industri ekstraktif dan memulihkan lingkungan yang rusak akibat tambang nikel,” kata Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia Belgis Habiba, Kamis, 30 Juli 2026.
Laporan tersebut juga menyoroti kerusakan lingkungan akibat operasi PT Gag Nikel. Greenpeace Indonesia menemukan, hasil audit menunjukkan sejumlah pelanggaran lingkungan oleh perusahaan, di antaranya terkait dengan pengendalian sedimentasi, erosi, dan limpasan yang belum optimal; risiko peningkatan beban sedimen ke lingkungan pesisir dan laut; kegagalan dalam menerapkan prinsip-prinsip perlindungan keanekaragaman hayati saat penambangan; dan potensi risiko hidrogeologis dan hidrologis yang mengancam sumber daya air di pulau-pulau kecil.
Para penulis juga menemukan bahwa, sebagian bijih nikel dari PT Gag Nikel diolah oleh PT Universal Metals Investment atau UMI, yang kemudian dikonfirmasi dimiliki Tsingshan Group.
Tsingshan merupakan salah satu pemegang saham utama di PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP)], yang juga mendirikan perusahaan patungan, Youshan Nickel Indonesia, bersama Grup Huayou. Youshan Nickel memproduksi komponen baterai untuk kendaraan listrik di Indonesia.
PT Huayou juga menyuplai nikel kepada rantai pasok komponen baterai yang terhubung ke sejumlah produsen baterai untuk kendaraan listrik, termasuk Toyota, Honda, Nissan, Hyundai, BMW, Mercedes, Tesla, dan BYD.
“Oleh karena itu, ada kemungkinan bahwa rantai pasokan kendaraan mana pun dari perusahaan-perusahaan tersebut terkait dengan bijih nikel yang berasal dari PT Gag, meskipun kurangnya transparansi rantai pasokan membuat hal ini tidak dapat dikonfirmasi untuk saat ini,” kata Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia Anggi Putra Prayoga.
“Kami mendesak para pelaku rantai pasok, termasuk produsen baterai kendaraan listrik, untuk menginvestigasi rantai pasok mereka, serta secara jelas dan terbuka menolak suplai nikel yang berasal dari tambang-tambang di Raja Ampat atau area-area yang penting untuk keanekaragaman hayati dan masyarakat adat,” ujarnya.
Anggi mengatakan, upaya transisi energi melalui elektrifikasi kendaraan bermotor saat ini turut memicu kerusakan lingkungan. Pertambangan nikel di Raja Ampat, misalnya, telah memicu deforestasi lebih dari 500 hektare di pulau-pulau kecil yang seharusnya tak boleh ditambang.
Menurutnya, pemerintah harus tetap mengedepankan lingkungan hidup, keadilan sosial, dan hak-hak masyarakat adat dalam menjalankan transisi energi.
“Greenpeace mendesak perlindungan Raja Ampat secara penuh dan permanen dari aktivitas industri yang merusak, serta penegakan hukum demi melindungi pulau-pulau kecil dan area konservasi di darat dan laut. Area-area yang penting untuk keanekaragaman hayati dan masyarakat adat harus bebas dari tambang,” kata Anggi.




