Kamis, 23 Juli 2026

            

Berita

Alarm Keras Perlindungan Total Habitat Orangutan di Sumatera

Survei terbaru atas populasi orangutan sumatra dan orangutan tapanuli menyebutkan perkiraan penurunan populasi 19,5 dibanding tahun 2011.

Kamis, 23 Juli 2026
Orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis) yang buta sebelah bersama anaknya. Foto: Geopix
Orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis) yang buta sebelah bersama anaknya. Foto: Geopix

BETAHITA.ID - Survei terbaru atas populasi orangutan sumatera (Pongo abelii) dan orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis) menyebutkan perkiraan penurunan populasi 19,5 persen dibandingkan survei 2011. Data ini menunjukkan kerentanan perlindungan habitat atas ekspansi terhadap habitat hingga krisis iklim. 

Survei orangutan sumatra dan orangutan tapanuli 2021-2023 ini dipublikasikan melalui jurnal “Population status of Sumatran and Tapanuli orangutans: A comprehensive assessment 2021–2023” yang dipublikasikan melalui Global Ecology and Conservation. Mereka memperkirakan 11.694 orangutan sumatra di delapan metapopulasi dan 716 orangutan tapanuli di tiga metapopulasi. 

Survei untuk orangutan tapanuli merupakan data dasar sistematis pertama di seluruh wilayah jelajahnya. Jumlah individu diperkirakan sebanyak 716 ekor, spesies ini tidak memiliki penyangga demografis terhadap mortalitas tambahan.

Hasil penelitian ini menunjukkan populasi orangutan sumatra turun sekitar 19,5% dibandingkan tahun 2011, atau setara dengan laju penurunan sekitar 1,8% per tahun. 

Struktur hutan dan kepadatan populasi manusia merupakan prediktor terkuat kepadatan orangutan di kedua spesies. Hilangnya hutan menunjukkan 76% variasi perubahan populasi di seluruh metapopulasi. Beberapa metapopulasi, terutama Batu Ardan dan Siranggas, mengalami penurunan yang jauh lebih besar daripada yang diprediksi oleh hilangnya habitat. 

Hal ini menunjukkan bahwa mortalitas non-habitat berkontribusi terhadap kerugian di daerah-daerah ini. Kepadatan tertinggi tercatat di rawa gambut Trumon–Singkil. 

Temuan tersebut juga menunjukkan sekitar 82 persen populasi orangutan di dalam hutan konservasi, sisanya sekitar 2.200 individu berada di luar sistem kawasan lindung. 

Foto citra Satelit (2024) lokasi pertambangan PT Agincourt Resourches yang bersebelahan dengan pembangunan PSN PLTA NSHE di kab Tapanuli Selatan. Data: Walhi Sumut

Senior Wildlife Campaigner Geopix, Annisa Rahmawati, menyebutkan informasi ilmiah ini merupakan alarm serius bagi konservasi orangutan. Pemerintah dan seluruh pelaku usaha yang terutama beroperasi di lanskap Batang Toru, seperti PT. North Sumatra Hydro Energy (NSHE), PT. Agincourt Resources, dan lainnya harus memberi perhatian atas laporan ini. 

Lanskap Batangtoru merupakan rumah orangutan tapanuli dengan populasi yang memiliki kerentanan tinggi terhadap gangguan dan fragmentasi habitat. 

“Bencana yang terjadi pada lanskap ini beberapa waktu lalu dan juga membawa korban pada individu-individu orangutan utan tapanuli, seharusnya menjadi tambahan pengingat mengenai pentingnya perlindungan bagi kawasan ini,” ujarnya. 

Saat ini populasi Orangutan Tapanuli di blok timur relatif stabil berkat perlindungan kawasan dan patroli rutin. Sedangkan blok barat kehilangan sekitar 50 individu karena sebagian besar habitatnya berada di luar kawasan lindung.

Menurutnya orangutan tapanuli berada di ambang yang semakin mengkhawatirkan dan sangat memerlukan pemantauan yang lebih intensif. Pada jumlah populasi tersebut, kehilangan satu individu pun memiliki konsekuensi besar.

Fakta bahwa hampir seperlima populasi orangutan hidup di luar hutan konservasi menunjukkan bahwa upaya perlindungan tidak bisa lagi hanya berfokus pada kawasan-kawasan lindung yang ada pada saat ini.

Penurunan populasi paling tajam terjadi di bentang alam Leuser, yang kehilangan sekitar 2.000 orangutan sumatra dalam lebih dari satu dekade. Kasus repatriasi orangutan Sumatera dari Thailand pada Desember 2025 lalu juga menunjukkan bahwa perburuan dan perdagangan ilegal masih menguras individu-individu orangutan dari populasinya di alam. 

Kondisi kritis juga terjadi di Rawa Tripa, yang populasinya merosot 75 persen dari 212 menjadi 52 individu, serta Batu Ardan yang turun sekitar 40 persen dari 556 menjadi 332 individu. 

Tampak dari ketinggian kebakaran yang melanda lahan gambut di Rawa Tripa, Aceh. Sumber: Apel Green Aceh.

Annisa menekankan pemerintah harus memastikan koridor ekologis bagi orang utan tetap terhubung dengan melindungi hutan-hutan yang tersisa sekaligus memulihkan hutan-hutan yang menjadi ekosistem penghubung. Pada sisi lain upaya memperkuat pengawasan dan penegakan hukum terhadap perburuan, perdagangan ilegal, dan penanganan konflik manusia-orangutan yang tepat 

“Tanpa langkah-langkah tersebut, populasi orangutan di Sumatera akan terus menurun meskipun hutan-hutan konservasi tetap dipertahankan,” ucapnya.

Peneliti Satwa Auriga Nusantara, Rizky Is Hardiyanto, menyebutkan temuan ini merupakan alarm kedua terhadap konservasi orangutan. Sebelumnya, penelitian lain berjudul Extreme rainfall further endangers the world’s rarest great ape mengungkap bencana Sumatra pada November 2025 lalu diperkirakan telah menyebabkan kematian sedikitnya 58 orangutan tapanuli di Bentang Alam Batang Toru. Angka itu setara dengan sekitar 7 persen populasi global spesies tersebut. 

Menurutnya penelitian pertama berbicara tentang tren penurunan populasi, penelitian kedua menunjukkan bagaimana perubahan iklim dapat mempercepat kepunahan dalam hitungan hari. 

“Keduanya memberikan pesan sama, ancaman terhadap orangutan telah berubah. Persoalannya bukan lagi hanya berapa hektare hutan yang hilang setiap tahun. Peningkatan konflik manusia-orangutan, perburuan, perdagangan ilegal, serta bentuk kematian lain jadi faktor pendorong penurunan populasi orangutan,” ucapnya. 

Terpisah, Wakil Menteri Kehutanan, Rohmat Marzuki menyebutkan konservasi orangutan merupakan tanggung jawab bersama. Keberhasilannya hanya dapat dicapai melalui kolaborasi yang kuat antara pemerintah, akademisi, mitra konservasi, dunia usaha, dan masyarakat. 

“Data ilmiah yang dihasilkan melalui survei ini menjadi landasan penting dalam menyusun kebijakan konservasi yang tepat sasaran," ujar Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki saat Seminar Nasional Refleksi Satu Dekade Konservasi Orangutan Sumatera dan Orangutan Tapanuli Secara Kolaboratif yang diselenggarakan di Hotel Aryaduta Medan, Sabtu (18/7).  

Hasil survei tersebut menjadi dasar ilmiah dalam penyusunan kebijakan dan langkah konservasi yang lebih efektif, adaptif, dan berkelanjutan. 

Ia menyebutkan pemerintah terus memperkuat perlindungan habitat, meningkatkan efektivitas pengelolaan kawasan konservasi, serta mendorong sinergi berbagai pihak dalam menjaga keberlangsungan populasi orangutan sumatra dan orangutan tapanuli. Upaya tersebut sejalan dengan implementasi Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan (IBSAP) 2025–2045 yang menempatkan perlindungan spesies dan keanekaragaman hayati sebagai prioritas nasional.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Sumatera Utara, Heri Wahyudi Marpaung, menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Sumatera Utara berkomitmen mendukung pelestarian Orangutan Sumatera melalui penguatan kolaborasi di tingkat tapak.

"Orangutan tidak hanya hidup di dalam kawasan konservasi, tetapi juga bergerak melintasi hutan lindung, hutan produksi, hingga areal penggunaan lain. Karena itu, upaya konservasi harus dilakukan secara kolaboratif oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, pengelola kawasan hutan, pemerintah kabupaten dan kota, dunia usaha, akademisi, serta masyarakat agar perlindungan habitat dan populasi orangutan dapat berjalan secara optimal," ujar Heri Wahyudi Marpaung.