Berita
Kalkulator Laut, Alat Baru Pengukur Nilai Ekonomi Pesisir - Laut
Platform baru berbasis data dan sains untuk mendukung pengambilan kebijakan pengelolaan laut yang lebih komprehensif.
Sabtu, 27 Juni 2026

BETAHITA.ID - Ocean Calculator atau kalkulator laut–sebuah purwarupa baru yang dikembangkan World Resources Institute (WRI) Indonesia bersama sejumlah pihak–menjadi terobosan baru dalam pengelolaan laut secara berkelanjutan. Purwarupa ini diklaim sebagai alat ukur geospasial berbasis neraca sumber daya laut untuk menghitung nilai ekonomi laut dan pesisir.
Country Director WRI Indonesia Nirarta Samadhi mengatakan, pembangunan sektor kelautan dan perikanan sangat penting bagi ketahanan pangan, ekonomi lokal, dan perlindungan masyarakat dari dampak perubahan iklim. Di sisi lain, nilai dan manfaatnya belum tercermin dalam proses perencanaan dan pengambilan kebijakan.
“Purwarupa ini dikembangkan untuk membantu menghadirkan informasi yang lebih komprehensif, sehingga kebijakan dan investasi di wilayah pesisir dapat lebih optimal dalam memberi manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan,” kata Nirarta saat acara perkenalan Ocean Calculator di Jakarta, Kamis, 25 Juni 2026.
“Harapan kami, kedepannya purwarupa ini dapat mengeksplor lebih dalam relasi manusia-lingkungan dan manusia-manusia dalam konteks lingkungan dan menyajikan analisa yang komprehensif untuk penguatan kebijakan publik yang berkelanjutan,” ujarnya.
Ocean Calculator dikembangkan sejak 2024 oleh WRI Indonesia bersama Universitas New South Wales (UNSW) Australia, Universitas Riau (UNRI), Universitas Mataram (UNRAM), dan Universitas Gadjah Mada (UGM), dengan dukungan pemerintah Australia. Pengguna dapat mengakses melalui pranala ocean-calculator.wri-indonesia.id.
Sistem ini memungkinkan untuk menghitung aset ekosistem di wilayah Indonesia secara cepat dan akurat menggunakan metode geospasial dan bersumber pada ketersediaan data seperti peta, citra satelit, hasil riset, dan survei pemerintah.
Penggunaan teknologi geospasial, termasuk alat penginderaan jauh dan sistem informasi geografi pada Ocean Calculator dapat mengidentifikasi luas dan kondisi ekosistem mangrove, lamun dan terumbu karang pada periode waktu tertentu, sekaligus menghitung jasa ekosistemnya, seperti perlindungan pantai dan penyerapan karbon.
Alat ini juga bisa mencatat luas suatu ekosistem laut, misalnya kawasan mangrove, sekaligus mengetahui siapa kelompok masyarakat yang paling bergantung pada ekosistem tersebut.
Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Koswara mengatakan, Ocean Calculator akan membantu pemerintah mengambil keputusan pengelolaan pesisir dan laut yang lebih tepat sasaran dan berbasis data.
“Ocean Calculator ini menjadi langkah awal yang strategis untuk beragam kolaborasi. Harapannya, Ocean Calculator ini bisa terus dikembangkan sehingga dapat memperkuat pengambilan kebijakan berbasis data yang akurat, kredibel, dan komprehensif,” kata Koswara.
Direktur Konservasi Ekosistem KKP Firdaus Agung mengatakan, pihaknya telah mengikuti uji coba awal Ocean Calculator pada Februari lalu. Purwarupa tersebut pun telah terintegrasi dalam platform Sistem Database Konservasi atau Sidako. Platform ini juga memudahkan parapihak untuk mengenal dan mengetahui nilai ekosistem laut, yang berdampak bagi keberlangsungan ekologi dan aktivitas sosial ekonomi.
Plt. Konselor Bidang Pengetahuan, Inovasi, dan Kemanusiaan–Kerja Sama Pembangunan, Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia Jacqui Lord mengatakan, pihaknya berharap purwarupa tersebut dapat memberikan kontribusi dalam pengelolaan laut yang lebih tepat sasaran.
“Perangkat berbasis sains yang mutakhir ini memiliki potensi untuk mentransformasi proses pengambilan keputusan. Kehadirannya akan memungkinkan pengelolaan sumber daya pesisir dan kelautan Indonesia yang lebih tepat sasaran, berbasis bukti, dan dapat diterapkan dalam skala yang lebih luas,” katanya.




