Berita
Habitat dan Pakan Tergerus, Gajah di Seblat Makan Sampah Plastik
Penyelamatan Bentang Alam Seblat mendesak. Habitat terakhir gajah sumatra dan penyangga kehidupan masyarakat lokal.
Rabu, 26 Agustus 2026

BETAHITA.ID - Tidak ada yang aneh di gundukan kotoran gajah itu. Namun ketika diamati dari dekat dan dibongkar, bongkahan menyerupai ampas rerumputan kering itu bercampur dengan kantong plastik hitam. Di tumpukan yang sama juga terdapat sampah yang menyerupai bahan karung berwarna putih kusam.
Selama tiga tahun terlibat dalam pemantauan satwa di Bentang Alam Seblat, ini pertama kalinya Koalisi Bentang Seblat menemukan kotoran gajah sumatra (Elephas maximus sumatranus) bercampur sampah di kawasan tersebut. Bentang Alam Seblat sendiri merupakan ekosistem vital dan habitat sejumlah satwa ikonik dan dilindungi di Bengkulu.
Temuan terbaru ini terungkap saat tim patroli Koalisi melakukan monitoring di area Hutan Produksi Air Teramang, Desa Retak Mudik, Sungai Rumbai, Mukomuko, pada 21-22 Agustus 2026.
Di kawasan yang sama, tim patroli juga menemukan dua gundukan kotoran gajah lainnya, yang juga bercampur sampah pakaian dan handuk yang sudah compang-camping. Adapun area target patroli tersebut merupakan jalur kawanan gajah yang tersisa sebanyak dua individu.
“Ini menjadi indikator bahwa sumber daya atau pakan gajah di Bentang Alam Seblat semakin tipis. Kotoran gajah bercampur sampah plastik dan pakaian itu bisa diartikan bahwa gajah kelaparan dan terpaksa makan plastik dan sampah yang ada ditinggalkan di dalam hutan,” kata Ketua Kanopi Hijau Indonesia Ali Akbar, bagian dari Koalisi Bentang Seblat, kepada redaksi, Selasa, 25 Agustus 2026.
“Selama ini kita lebih fokus pada pergerakan kawanannya dalam sistem monitoring, tapi patroli terakhir kita merasa perlu melihat kondisi eksisting ekosistem yang semakin babak belur,” ujarnya.
Ali menyebut masifnya perambahan dan kerusakan sebagai faktor utama menyusutnya habitat dan sumber pakan alami gajah dan satwa lain di kawasan tersebut. Adapun satwa ikonik dan dilindungi lainnya turut terdampak, termasuk harimau sumatra, tapir, dan burung rangkong.
Berdasarkan data Koalisi Bentang Alam Seblat, luas habitat gajah yang dirambah mencapai 30.017 hektare dari total 112.504 hektare. Lahan ini sebagian besar beralih fungsi menjadi perkebunan kelapa sawit ilegal akibat perambahan masif.
Pada periode monitoring yang sama, tim patroli juga menemukan pondok yang masih baru, pembukaan jalan, serta lahan yang telah ditanami kelapa sawit berusia sekitar satu tahun.
Bukaan lahan yang semakin masif pun membuat gajah semakin terdesak ke wilayah permukiman dan area penyangga yang tercemar, dan terpaksa memakan sampah demi bertahan hidup.
“Hilangnya ruang gerak dan sumber daya pakan alami membuat gajah rentan terpapar sampah plastik di sekitar kawasan perkebunan atau pemukiman yang mendesak wilayah jelajah mereka,” katanya.
“Material plastik dan pakaian yang dikonsumsi secara terus-menerus dapat membahayakan pencernaan dan nyawa gajah liar di Seblat,” kata Ali.
Di mana janji Menhut Raja Juli?
Penyelamatan ekosistem Bentang Alam Seblat dari perambahan liar kini benar-benar mendesak. April lalu tim patroli juga menemukan induk gajah bersama anaknya mati, dan pada hari yang bersamaan ditemukan bangkai harimau di lokasi berbeda.
“Ini sudah menjadi tragedi. Bahkan daya dukung Seblat telah menurun drastis, yang ditunjukkan oleh banjir yang melanda Desa Retak Ilir minggu lalu,” kata Ali.
“Ini ekosistem penting, dan habitat terakhir gajah di Bengkulu. Tapi pemerintah juga harus melihat bahwa masalah ini terkait keselamatan masyarakat di Mukomuko dari risiko bencana,” katanya.
Akhir tahun lalu, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni sempat berkunjung dalam Operasi Merah Putih di Bentang Alam Seblat. Tidak hanya itu, pemerintah level provinsi dan dinas lingkungan hidup dan kehutanan juga diketahui telah melakukan kunjungan lapangan.
Namun Ali mengatakan hingga saat ini belum ada strategi yang jelas untuk menyelamatkan Bentang Alam Seblat.
“Menhut itu sudah datang, gubernur sudah buat pernyataan bahwa Bentang Seblat adalah kawasan penting sebagai habitat gajah dan satwa kharismatik lainnya. Atas pernyataan itu seharusnya pemerintah merumuskan strategi dan taktik guna mengamankan Bentang Seblat,” kata Ali.
Direktur Genesis Bengkulu Egi Ade Saputra mengatakan, pertengahan Agustus lalu, telah ada pertemuan antara staf ahli Kementerian Kehutanan dan Kelompok Tani Hutan di Sungai Rumbai, Mukomuko. Pertemuan tersebut dikaitkan dengan pembahasan usulan perhutanan sosial bagi masyarakat yang menggarap kawasan Bentang Alam Seblat maupun konsesi PT Bentara Agra Timber dan PT Anugerah Pratama Inspirasi.
“Persoalannya bukan pada apakah masyarakat berhak memperoleh penyelesaian atas persoalan tenurial, tapi tentu masyarakat yang benar-benar bergantung pada lahan untuk kehidupan tentu membutuhkan solusi yang adil,” kata Egi.
Egi mengatakan, upaya penyelamatan ekosistem tersebut harus berfokus pada akar masalah, yakni dugaan cukong yang bermain dalam perambahan lahan dan penanaman sawit ilegal.
“Antara sawit masyarakat dan pemodal tidak bisa disamakan. Karena kami menemukan skala tutupan sawit yang mencapai lebih dari 12 ribu hektare dan konsentrasi yang sangat besar pada beberapa kawasan,” kata Egi.
“Jika seluruh persoalan disederhanakan menjadi “petani membutuhkan tanah”, maka terdapat risiko bahwa struktur penguasaan lahan yang lebih besar justru tidak pernah diperiksa,” ujarnya.




