Berita
FEB Uncen Latih Kewirausahaan BUMMA Namblong Papua
FEB Universitas Cenderawasih perkuat literasi keuangan Badan Usaha Milik Masyarakat Adat PT Yombe Namblong Nggua.
Minggu, 12 Juli 2026

BETAHITA.ID - Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Cenderawasih menjalin kerja sama dengan Badan Usaha Milik Masyarakat Adat (BUMMA) PT Yombe Namblong Nggua untuk memperkuat pengembangan kapasitas kewirausahaan dan literasi keuangan. Kerja sama ini dilaksanakan melalui pelatihan bertajuk "Kolaboraksi: Pengembangan Kapasitas Kewirausahaan dan Literasi Keuangan Badan Usaha Milik Masyarakat Adat Namblong" yang berlangsung 9-10 Juli 2026 di Ekowisata Nggam Bu, Kampung Berab, Kabupaten Jayapura, Papua.
Dosen Akuntansi FEB Uncen, Kurniawan Patma, mengatakan kerja sama ini didorong oleh kebutuhan BUMMA Namblong untuk memiliki standar operasional prosedur (SOP) pengelolaan keuangan dan sistem pelaporan yang sesuai dengan karakter badan usaha masyarakat adat. "Kami mengidentifikasi kebutuhan mereka terhadap SOP penatausahaan keuangan dan laporan keuangan berbasis adat. Dari situ kami menyusun pelatihan sekaligus model yang bisa langsung diterapkan," kata Kurniawan kala diwawancarai Betahita, Jumat, 10 Juli 2026.
Pendekatan yang digunakan dalam pelatihan ini bernama PACE, singkatan dari Participatory Action, Collaboration, dan Empowerment. Metode ini menekankan keterlibatan aktif peserta dalam setiap tahap pengembangan, kolaborasi antara akademisi dan praktisi, serta pemberdayaan masyarakat adat sebagai subjek utama pengambilan keputusan.
Pelatihan diikuti 20 peserta dari lima unit usaha BUMMA Namblong. Materi mencakup tata kelola keuangan, penyusunan SOP, serta cara menghitung aset tetap, aset biologis, dan aset adat yang selama ini belum terakomodasi dalam sistem akuntansi konvensional.
Output utama dari kegiatan ini, menurut Kurniawan lagi, terdiri dari tiga komponen. Pertama, SOP penatausahaan keuangan yang mencakup prosedur dan flowchart spesifik untuk penerimaan pendapatan, pengeluaran kas, dan pengadaan barang dan jasa. Kedua, identifikasi pengembangan usaha menggunakan Noken Framework, pendekatan kontekstual yang dikembangkan dari Business Model Canvas (BMC) dengan penekanan khusus pada keberpihakan terhadap alam dan masyarakat adat.
"Ketiga adalah valuasi aset biologis dan aset adat menggunakan Total Economic Value (TEV) yang diinternalisasikan dalam model laporan keuangan berbasis masyarakat adat yang kami sebut SAKRAL," kata Kurniawan. SAKRAL adalah singkatan dari Sistem Akuntansi Keuangan dalam Relasi Alam, Adat, dan Lingkungan.
Pendiri Komunitas Literacy For Everyone itu menjelaskan badan usaha masyarakat adat memiliki karakteristik aset yang berbeda dengan badan usaha pada umumnya. "Aset utama BUMMA Namblong berasal dari sumber daya alam dan aset adat. Selama ini valuasi aset biologis belum pernah dilakukan. Padahal itu sangat penting," ujarnya. Ia mencontohkan sungai yang menjadi lokasi susur sungai di unit ekowisata harus diakui sebagai aset biologis. Keterampilan membuat noken dan masakan khas Namblong yang punya nilai kekayaan intelektual masuk kategori aset adat.
Pada hari kedua pelatihan, peserta mempraktikkan kewirausahaan berbasis adat menggunakan pendekatan Noken Model Canvas yang mencakup nilai utama, organisasi, keberpihakan, ekonomi, dan nuansa pasar. Pendekatan ini diterapkan pada lima unit usaha BUMMA Namblong.
Hasilnya, FEB Uncen menghasilkan dokumen draf SOP pengelolaan keuangan dan template laporan keuangan berbasis adat yang langsung diserahkan kepada pihak BUMMA Namblong. Dokumen itu disertai implementation agreement sebagai komitmen kedua pihak untuk menerapkan hasil pelatihan.
Kurniawan menuturkan pendampingan tidak berhenti setelah pelatihan selesai. "Kami akan terus monitoring dan evaluasi untuk memastikan sistem diterapkan di setiap unit usaha," sambungnya.
Direktur Operasional PT Yombe Namblong Nggua, Yusuf Kasmando, mengakui pengelolaan administrasi keuangan di organisasi ini selama ini belum berjalan optimal. Hanya dua dari lima unit usaha, yaitu vanili dan ekowisata, yang memiliki pembukuan tertulis sejak awal, sementara pencatatan transaksi dan aset belum dilakukan secara disiplin.
"Selama ini kami menganggap kalau tidak ditulis masih bisa diingat. Setelah pelatihan ini kami memahami setiap transaksi, sekecil apa pun, harus dicatat," kata Yusuf. Ia menyebut bukan materi yang sulit dipahami, melainkan kebiasaan staf yang belum disiplin dalam pendokumentasian.
Yusuf menyebut kerja sama dengan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Uncen akan dilanjutkan melalui pendampingan serta rencana pembukaan kelas khusus bagi pengelola BUMMA untuk mempelajari akuntansi masyarakat adat mulai tahun depan. FEB Uncen juga merencanakan program beasiswa bagi staf BUMMA Namblong.
BUMMA PT Yombe Namblong Nggua dikelola sepenuhnya oleh masyarakat adat Namblong, salah satu suku terbesar di Kabupaten Jayapura. Wilayah adat Namblong yang dikelola mencapai 52.530 hektare, hampir seluas Daerah Khusus Jakarta. Wilayah itu dihuni 44 marga yang tersebar di kampung-kampung pada beberapa distrik di Kabupaten Jayapura.




