Minggu, 05 Juli 2026

            

Berita

Suhu Permukaan Laut Capai Rekor Tertinggi Juni Lalu

Rekor suhu baru permukaan laut diperkirakan akan berdampak pada pola cuaca, iklim global, dan ekosistem laut.

Minggu, 05 Juli 2026
Sejumlah nelayan di Bengkulu menyiapkan kapalnya untuk melaut. Foto: Kanopi Hijau Indonesia.
Sejumlah nelayan di Bengkulu menyiapkan kapalnya untuk melaut. Foto: Kanopi Hijau Indonesia.

BETAHITA.ID - Suhu permukaan laut global mencapai rekor tertinggi, yang memicu kekhawatiran kembali terjadinya lonjakan panas ekstrem pada musim panas/kemarau ini. 

Pada 21 Juni lalu, suhu di luar wilayah kutub tercatat melampaui rekor tertinggi, yang juga terdeteksi pada periode yang sama pada 2023 dan 2024, menurut pernyataan Copernicus Climate Change Service, layanan data dan informasi iklim Uni Eropa, Rabu, 1 Juli 2026. 

Lembaga tersebut memperingatkan bahwa rekor tertinggi baru ini kemungkinan akan membawa "dampak terhadap pola cuaca, iklim global, dan ekosistem laut", terutama karena hal ini akan bertepatan dengan tahap awal peristiwa El Niño yang diprediksi akan menjadi yang terkuat dalam beberapa dekade terakhir.

Ketika rekor suhu laut untuk bulan Juni sebelumnya tercatat pada 2023, para ilmuwan menyebut tren tersebut "mengkhawatirkan", "menakutkan", dan "di luar nalar" karena hasilnya jauh melampaui perkiraan mereka. Temuan tersebut menjadi pertanda datangnya El Niño serta periode gelombang panas, banjir, dan badai global yang dahsyat.

Rekor tahun 2023 tersebut kini telah terlampaui, dan sebagian besar wilayah dunia kembali mengalami kenaikan suhu yang mengkhawatirkan. Bulan lalu, Inggris dan banyak negara Eropa lainnya dilanda suhu sangat panas yang memecahkan rekor baru, sementara Antartika mengalami kondisi musim dingin yang hangat secara tidak lazim.

Meskipun perhatian biasanya tertuju pada suhu daratan, lautan memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai sejauh mana keseimbangan iklim terganggu akibat pemanasan yang disebabkan oleh aktivitas manusia.

Suhu permukaan dipengaruhi oleh radiasi matahari, arus air, dan akumulasi panas di lapisan laut yang lebih dalam.

Lautan menyerap lebih dari 90% kelebihan energi dalam sistem Bumi, yang terutama disebabkan oleh pembakaran bahan bakar fosil seperti minyak, batu bara, dan gas. Ketidakseimbangan energi tersebut mencapai rekor tertinggi sebesar 23 zettajoule tahun lalu—lebih dari dua kali lipat rata-rata angka pada dua dekade sebelumnya.

Akibatnya, suhu lautan meningkat dengan laju yang semakin cepat. Pada 2020, jumlah panas yang masuk ke lautan setara dengan sekitar lima bom Hiroshima per detik. Tahun lalu, angkanya mendekati 11 ledakan Hiroshima per detik. 

Para ilmuwan menyatakan masih terlalu dini untuk memastikan apakah peningkatan suhu permukaan laut ini bersifat sementara atau justru akan memburuk, mengingat puncak suhu tahunan biasanya tercatat pada Juli dan Agustus.

Direktur Copernicus di Pusat Prakiraan Cuaca Jangka Menengah Eropa (ECMWF) Carlo Buontempo mengatakan, hal ini bisa jadi menandakan dimulainya fase baru yang membawa manusia memasuki wilayah yang belum pernah terpetakan sebelumnya. 

"Dengan suhu lautan pada tingkat seperti ini dan fenomena El Niño yang akan segera tiba, kemungkinan besar kita akan melihat lebih banyak rekor suhu terpecahkan dalam beberapa bulan mendatang," katanya, Rabu, 1 Juli 2026.