Kamis, 02 Juli 2026

            

Berita

Geopix: Evaluasi Konservasi Gajah Jinak Setelah Kematian Beruntun

Pemerintah harus mengevaluasi fasilitas konservasi ex-situ penggunaan gajah jinak dalam program mitigasi konflik manusia dan gajah. 

Kamis, 02 Juli 2026
Gajah Sumatera di Pusat Informasi Konservasi Gajah (PIKG) Jambi. Foto: Geopix
Gajah Sumatera di Pusat Informasi Konservasi Gajah (PIKG) Jambi. Foto: Geopix

BETAHITA.ID - Kematian beruntun dua gajah jinak di dua taman nasional menjadi permasalahan mendasar atas pengelolaan dan pemanfaatan gajah. Geopix mendesak pemerintah melakukan evaluasi fasilitas konservasi ex-situ penggunaan gajah jinak dalam program mitigasi konflik manusia dan gajah. 

Balai Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) mengumumkan kematian Indro, gajah sumatera yang selama ini menjadi bagian dari Flying Squad taman nasional itu, pada Senin, 29 Juni 2026. Ia menjalani penanganan medis intensif akibat komplikasi kesehatan yang muncul pada fase musth (periode puncak hormonal pada gajah jantan). 

Keterangan resmi Balai Taman Nasional Tesso Nilo, kondisi Indro sempat memburuk setelah tindakan pembiusan medis pada 24 Juni 2026. Ia mengalami penurunan penurunan drastis nafsu makan dan minum, lantas mengalami perubahan kondisi mendadak pada dini hari. 

Kematian Indro hanya berselang delapan hari setelah kematian Indra, seekor gajah jantan yang berada di Taman Nasional Way Kambas pada 21 Juni 2026. 

Senior Wildlife Campaigner Geopix, Annisa Rahmawati, menyebutkan kematian gajah jantan dalam waktu kurang dari dua pekan menjadi pukulan telak bagi dunia konservasi Indonesia di tengah keinginan pemerintah untuk menunjukkan keseriusan dalam melestarikan gajah sumatera.

Menurutnya kematian Indro dan gajah-gajah jinak lain di fasilitas yang seharusnya aman adalah sebuah kehilangan yang sangat besar. 

Ini harus menjadi peringatan keras bahwa ada permasalahan-permasalahan mendasar yang harus segera dievaluasi dan diperbaiki pada pengelolaan dan pemanfaatan gajah pada fasilitas konservasi ex-situ penggunaan gajah jinak dalam program mitigasi konflik manusia dan gajah juga perlu diperhatikan dengan seksama, terutama hal-hal terkait kesejahteraan satwa dan akibatnya bagi gajah itu sendiri,” ucapnya melalui rilis pers yang diterima pada Selasa malam (30/6/2026).

Ia mendesak Kementerian Kehutanan serta pihak-pihak terkait melakukan evaluasi terbuka dan transparan kepada publik atas kematian Indro. Mereka harus melakukan audit menyeluruh terhadap seluruh gajah jinak yang digunakan dalam program Flying Squad, patroli, edukasi, dan mitigasi konflik. 

Audit tersebut harus mencakup kondisi kesehatan, usia, beban kerja, sistem pakan, fasilitas kandang, protokol penanganan kondisi khusus (musth, kecederaan dan lain-lain), akses dokter hewan, kesiapan obat-obatan, standar pembiusan, serta rencana pensiun bagi gajah-gajah yang sudah lanjut usia dan tidak memungkinkan untuk dilepasliarkan kembali ke alam.

Menurutnya masa depan Gajah Sumatera tidak bisa hanya bertumpu pada mitigasi konflik. Upaya konservasi harus dimulai dari akar persoalan, yaitu penyelamatan habitat, pemulihan koridor jelajah, penghentian perusakan kawasan, penegakan hukum terhadap jerat dan perburuan, serta pengurangan tekanan di ruang hidup gajah.

Gajah-gajah jinak bukan alat kerja konservasi. Mereka adalah individu satwa dilindungi yang memiliki kebutuhan biologis, psikologis, sosial, dan ekologis yang kompleks. Populasinya yang semakin terdesak oleh hilangnya habitat, fragmentasi kawasan, konflik, jerat, perburuan, penyakit, dan tekanan penguasaan manusia, membuat setiap kematian individu gajah harus dipandang sebagai kehilangan besar bagi konservasi spesies ini.

“Tempat terbaik Gajah Sumatera adalah di alam liarnya, di mana semua kebutuhan kehidupannya tercukupi. Tugas kita untuk memastikan bahwa selalu ada ruang terbaik bagi Gajah Sumatera kita untuk hidup sejahtera di rumahnya sendiri” tutup Annisa.