Berita
Warga Mulai Restorasi Batang Toru, Pertama Sejak Banjir Sumatera
Upaya restorasi oleh komunitas dimulai di Batang Toru, di tengah ancaman degradasi dan fragmentasi habitat orang utan tapanuli.
Senin, 22 Juni 2026

BETAHITA.ID - Ekosistem Batang Toru–kawasan hutan hujan tropis dan rumah bagi orang utan tapanuli yang terancam punah–mulai direstorasi pasca banjir bandang dan longsor Sumatera November 2025 lalu. Upaya ini melibatkan masyarakat desa setempat dan yang pertama sejak bencana meluluhlantakan tiga provinsi di Pulau Sumatra.
Program berbasis komunitas tersebut menyasar area terdampak bencana seluas 159 hektare, dimulai di Desa Aek Haminjon, Kecamatan Arse, Tapanuli Selatan, Sumatra Utara. Desa Aek memiliki luas 11.510 hektare dan merupakan penyangga Cagar Alam Dolok Sipirok, yang secara ekologis tercatat sebagai bagian dari Kawasan Keanekaragaman Hayati Kunci global.
Dalam dokumen kesepakatan konservasi masyarakat yang disusun Konservasi Indonesia bersama Sumatra Rainforest Institute (SRI) serta penduduk desa setempat, upaya restorasi akan berfokus pada pengembalian fungsi vegetasi dan stabilitas ekologi kawasan desa.
Direktur Sundaland Program Konservasi Indonesia, Jeri Imansyah, mengatakan model pengelolaan tersebut dirancang untuk mengintegrasikan target perlindungan habitat satwa liar sekaligus keberlanjutan sumber penghidupan pertanian di Desa Aek Haminjon. Program ini akan dilakukan dengan target 35 ribu hingga 49 ribu komoditas utama seperti pohon kopi, karet, cokelat, dan durian.
“Mayoritas penduduk Desa Aek Haminjon menggantungkan hidup pada aktivitas pertanian, perkebunan, serta pemanfaatan hasil hutan. Wilayah ini memegang posisi yang sangat strategis dalam konservasi karena berbatasan langsung dengan Cagar Alam Dolok Sipirok di Blok Timur Ekosistem Batang Toru,” kata Jeri dalam sebuah pernyataan tertulis, Kamis, 18 Juni 2026.
“Kawasan tersebut merupakan rumah bagi orang utan tapanuli , yang kini berstatus kritis menurut IUCN dengan estimasi populasi global yang tersisa hanya sekitar 800 individu,” ujarnya.
Menurut Jeri, analisis citra satelit mengidentifikasi deforestasi seluas 11.000 hektare di wilayah yang berbatasan dengan desa. Kehilangan tutupan hutan ini disebabkan oleh aktivitas manusia dan penggunaan lahan yang tidak berkelanjutan.
Penurunan tutupan vegetasi ini memicu ancaman serius berupa penurunan kualitas lingkungan, peningkatan laju erosi, serta pengikisan luasan habitat produktif bagi satwa liar dilindungi. Adapun ancaman degradasi lingkungan dan fragmentasi habitat satwa orang utan semakin mengkhawatirkan sejak bencana terjadi.
“Pentingnya pemulihan bagi wilayah Desa Aek Haminjon didasari oleh fungsinya yang vital sebagai habitat satwa liar di zona penyangga kawasan konservasi seperti orang utan tapanuli, harimau sumatra, tapir, trenggiling, serta berbagai jenis fauna yang memiliki nilai konservasi tinggi,” ujarnya.
Menurut Direktur SRI Dony Saputra, berdasarkan hasil survei sejak 2020, kehilangan tutupan hutan menjadi penyebab utama longsor dan banjir serta penurunan populasi satwa selain fragmentasi dan perburuan.
“Oleh karena itu, intervensi pengayaan lahan perkebunan masyarakat ini menjadi strategi konservasi yang sangat aman, sebab memulihkan kualitas ekologi tanpa mengorbankan ketahanan pangan warga, sekaligus komitmen bersama masyarakat untuk menjaga batas cagar alam secara hukum adat,” kata Dony.
Dony mengatakan, restorasi di Aek Haminjon akan dilakukan bertahap, mulai dari area dengan tingkat gangguan tinggi, yang memiliki tutupan lahan terbuka seperti kebun karet tua dan lahan jagung yang minim pohon besar. Penanaman juga akan dilakukan di area berbentuk hutan sekunder yang relatif rapat, namun tetap memerlukan intervensi vegetasi.
Bupati Tapanuli Selatan, Gus Irawan Pasaribu, yang hadir pada kegiatan restorasi menyampaikan, kolaborasi pemulihan ekosistem berbasis komunitas ini menjadi model percontohan penting bagaimana pengelolaan kawasan penyangga cagar alam seharusnya dilakukan secara partisipatif.
“Pelibatan aktif kelompok masyarakat melalui skema kesepakatan konservasi masyarakat sejak tahap perencanaan, pembibitan, penanaman, hingga pengawasan ke depan diharapkan mampu menghasilkan ekonomi berkelanjutan bagi desa setempat,” ujarnya.
“Dengan pulihnya fungsi ekologis habitat satwa di Desa Aek Haminjon, diharapkan keanekaragaman hayati endemik yang berstatus kritis dapat hidup berdampingan secara aman dengan manusia,” kata Gus Irawan.




