Sorot
Jebolnya Benteng Gajah di Aceh
Aceh menjadi rumah bagi populasi gajah terbesar di Sumatera. Lanskap ini juga merupakan tempat terakhir di bumi di mana badak, gajah, harimau, dan orang utan sumatera hidup bersama di alam liar. Deforestasi dan tata ruang menjadi ancaman, yang berujung pada konflik, perburuan, dan angka kematian yang tinggi.
Kamis, 30 April 2026

BETAHITA.ID - Ada sebuah anomali terjadi di Kawasan Ekosistem Leuser pada 2025. Lukmanul Hakim, spesialis Sistem Informasi Geospasial (GIS) Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA), yang melakukan pemantauan setiap bulan di kawasan tersebut pertama kali menemukannya pada awal tahun ini. Dengan penginderaan citra satelit dia mendeteksi tutupan hutan yang hilang di tengah hutan hujan tropis tersebut, sekitar sebulan usai Siklon Senyar menghantam wilayah Sumatra November 2025 lalu.
"Anomali ini membuat luas deforestasi di KEL menjadi sangat tinggi pada 2025,” kata Lukman saat dihubungi Betahita, Selasa, 21 April 2026.
Temuan tersebut bukan satu-satunya. Dalam analisis yang dilakukan HAkA, bahkan sebelum Siklon Senyar, angka deforestasi di KEL melonjak drastis sepanjang Januari-September 2025 dibandingkan tahun sebelumnya. Bagi Lukman yang rutin memantau kawasan tersebut, ini adalah alarm. Alarm itu pun telah berbunyi–bencana banjir dan tanah longsor yang menewaskan ribuan jiwa dan menimbulkan kerusakan infrastruktur parah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Deforestasi diyakini menjadi salah satu faktor yang memperparah dampak bencana tersebut.
Benteng hutan hujan tropis bernama Kawasan Ekosistem Leuser ini terbentang di 13 kabupaten di Aceh dan empat kabupaten Sumatera Utara, dengan luas total 2,6 juta hektare, yang mencakup hutan pegunungan hingga rawa gambut dengan biodiversitas yang tinggi. Lanskap ini juga merupakan tempat terakhir di bumi di mana badak, gajah, harimau, dan orang utan sumatra hidup bersama di alam liar.
Menurut data HAkA, rata-rata kehilangan tutupan hutan di Kawasan Ekosistem Leuser saat ini mencapai 20 hektare per hari. Dari pemantauan citra satelit, Lukman juga menemukan alat berat yang biasa digunakan untuk pembukaan lahan, dengan tujuan perkebunan maupun perambahan liar.
“Dua tahun terakhir, yakni 2024-2025, tren kehilangan tutupan hutan itu mengalami kenaikan. Data kami mencatat 10 ribu hektare hilang pada 2024, dan melonjak sangat tinggi hampir 40 ribu pada 2025, yang sebagian besar dipicu oleh bencana,” kata Lukman.
Di Sumatera, Aceh menjadi satu-satunya provinsi yang memiliki tutupan hutan yang masih lebat. Dibandingkan 10 provinsi lainnya di pulau tersebut, persentase hutan di Aceh tertinggi dengan 55% daratannya masih berhutan, sementara wilayah lainnya tidak lebih dari setengah. Sebagian besar hutan tersebut berada di Kawasan Ekosistem Leuser.
Namun tren 10 tahun terakhir menunjukkan adanya kehilangan tutupan hutan yang konsisten di provinsi tersebut. Berdasarkan analisis data Auriga Nusantara, Aceh kehilangan 127.203 hektare tutupan hutan dalam rentang 2016-2025. Salah satu tahun dengan angka deforestasi tertinggi terjadi pada 2016, yang mencatat 13.476 hektare, diikuti 2017 dan 2018 dengan deforestasi di atas 10 ribu hektare.
Angka ini kemudian turun drastis hingga 2024, yang mencatat salah satu periode deforestasi tertinggi di Aceh, dengan luas 14.613 hektare. Tahun 2025 merupakan kehilangan tertinggi, di mana hutan yang lenyap mencapai 38.156 hektare.
Tren deforestasi di Kawasan Ekosistem Leuser sejalan dengan tren di Aceh. Pada periode yang sama, kawasan ini kehilangan 63.176 hektare hutan, di mana 2025 mencatat deforestasi tertinggi seluas 18.291 hektare.
