Opini
Teater Kesibukan Pemimpin ke-7
Predator puncak dalam dunia hewan akan berjalan mondar-mandir saat kehilangan fungsi taktisnya. Ketika merasa tak berguna.
Senin, 08 Juni 2026

Sekuel ini bukan bagian yang diceritakan George Orwell dalam “Animal Farm”. Kisahnya terjadi pada era Pemimpin ke-7 setelah Revolusi ke-3.
HARAPAN para satwa Peternakan Manor kepada pemimpin baru pupus dengan segera, laksana air hujan yang jatuh di pasir tempat para ayam membersihkan kutu dan para kucing membuang kotoran. Pemimpin ke-7 mereka sepertinya hanya punya satu resep untuk menyelesaikan masalah negara: apapun masalahnya, melancong solusinya.
Ketika gunung di timur peternakannya meletus dan 10 ribu warganya terdampak, dia melancong.
Ada banjir bandang di bagian barat, dia juga sedang melancong.
Ada peternakan yang menjadi tetangga baik rakyatnya diserang, dia melancong.
Ada protes rakyat mengenai penghematan anggaran, dia melancong.
Saat nilai tukar mata uang peternakannya turun, dan puluhan juta rakyatnya makan di bawah kalori harian standar, dia melancong ke jamuan kenegaraan.
Jika dipukul rata, ia pergi ke luar peternakan hampir 3 kali per bulan. Lalu, ada sebuah tahun di mana dia pernah menghabiskan 63 harinya di luar negeri. Ada pula tempat yang ia datangi bolak balik, Gunung Permen Gula. Konon, bersumber dari cerita Moses si Gagak Jinak di masa Revolusi ke-1, di sana tujuh hari dalam sepekan adalah Minggu.
Ketika ia kumat ingin melancong, hanya encok, rematik, dan asam urat yang dapat memaksanya untuk tetap tinggal di Istal. Namun ia tetap akan mondar-mandir: di kandang kerja, di belakang Istal, di kubangan, setelah tempat itu dikosongkan dari rakyatnya.
Perilaku Pemimpin ke-7 itu diamati dengan takut-takut oleh rakyat Peternakan Manor. Salah satunya oleh Owl, anggota Tim Dokter Istana yang memiliki kecerdasan selevel si tua Major, babi bijak yang dulu membangkitkan pemberontakan para satwa di Peternakan Manor terhadap Mr. Jones; namun berwatak lemah, cenderung main aman, dan kurang berani berimajinasi—warisan yang didapat dari bapak-ibunya, yang mewarisinya dari kakek-neneknya, yang setiap saat melihat Mr. Jones dengan tenang menyembelih babi di depan babi lainnya.
Temuan Owl yang terpenting, dan membuat dia sendiri kaget, adalah dokumen yang mengungkapkan bahwa kegemaran Sang Pemimpin untuk melancong ternyata sudah berlangsung sejak jauh sebelum Revolusi ke-3. Dia telah melewatkan sejarah itu karena, seperti semua satwa yang lahir di era digital, ia terjangkit paradoks khas pada eranya: makin banyak informasi, tapi makin sedikit yang dibaca.
Temuan terpenting lainnya dia dapat di kebun binatang kota. Owl sengaja terbang ke sana untuk mencari—tepatnya mencuri dengar—informasi dari dokter hewan. What a wonderfull world! Saat itu dokter hewan bersama kepala kebun binatang kebetulan sedang mendiskusikan seekor harimau baru di kandang yang punya kebiasaan berjalan bolak-balik mengikuti garis imajiner yang sama, berjam-jam, tanpa tujuan.
"Harimau kita terjangkit sindrom Kebun Binatang. Usah khawatir, penelitian di jurnal Applied Animal Behaviour Science mengatakan, 80% predator puncak di kebun binatang mengalaminya," kata dokter hewan. “Ini hanya respons dari perasaan bahwa dia useless.”
“Ah, seperti ketika aku menemani istriku melahirkan. Mondar-mandir tak tahu harus melakukan apa,” kepala kebun binatang berseru.
Seketika, seluruh literatur neurosains, perilaku kognitif, hingga psikologi sosial di kepala Owl terhubung. Salah satu literatur itu menyebutkan, saat pusat logika dan eksekusi di otak gagal merumuskan solusi, bagian otak lain akan mengambil alih secara otomatis. Masalahnya, bagian otak ini berasal dari zaman lebih purba, sehingga hanya punya satu perintah saja: buka katup buang untuk melepas kecemasan akibat perasaan tak berguna itu.
Katup buang itu, dalam pengamatan Jane Goodall pada simpanse, terlihat sebagai perilaku mondar-mandir hingga menggaruk dan membersihkan badan secara obsesif di tengah situasi yang sebenarnya membutuhkan respons taktis.
Literatur sosiologi juga telah meneliti perilaku ini, menamakannya Sindrom Boreout. Disebutkan, untuk menutupi fakta bahwa ia sudah kehilangan nilai guna, ia memproduksi komitmen semu, sebuah "Teater Kesibukan". Ia merancang agenda perjalanan yang sangat padat untuk memanipulasi persepsi publik agar tetap terlihat sibuk bekerja. Kebetulan pula, ia fasih menggunakan banyak bahasa pergaulan dunia. Pemimpin terdahulunya tidak ada seujung kukunya dalam soal ini.
Maka, teranglah sudah bagi Owl, kegiatan melancong Pemimpin ke-7 mungkin didorong oleh perasan useless. Dugaan ini terlihat kuat ketika perjalanan pemimpinnya ditumpangsusunkan dengan Buku Besar Lumbung yang mencatat situasi ekonomi, politik, hingga stabilitas negara. Ada kecenderungan, makin buruk grafik di buku besar, makin terdorong pemimpinnya untuk mondar-mandir. Puncaknya ketika nilai tukar mata uang Manor merosot ke angka terendah sepanjang sejarah, Pemimpin ke-7 memilih mengunjungi lagi Gunung Permen Gula.
Buku Besar juga menunjukkan biaya perjalanannya dari awan ke awan itu mengabaikan program-program yang lebih prioritas bagi rakyat. Hasilnya pun masih nol. Pemimpin ke-7 berjanji akan membawa pulang mesin panen ajaib penumbuh padi, namun yang datang justru monster besi kuning yang melenyapkan pohon tempat bertengger, rawa tempat berenang, dan hutan tempat mencari makan. Sementara itu, di padang rumput bawah, kuda-kuda dan sapi pekerja mulai terlihat tulang rusuknya tercetak di kulit lalu tumbang satu per satu karena hanya bisa mengunyah jerami basah.
Bersamaan dengan pertunjukkan Teater Kesibukan, Pemimpin ke-7 menggerakkan mesin propagandanya. Mesin ini ditenagai para loyalis yang diikat oleh satu pasal konstitusi yang telah ditelikung, dan karenanya illegal, yang berbunyi: "Semua Binatang Setara, Tetapi Beberapa Binatang Lebih Setara daripada yang Lainnya". Para loyalis itu diorkestrasi oleh seekor babi porker kuning keturunan Squealer. Seperti Squealer pada masa lalu, ia adalah pembicara cerdas, lincah berdebat, dan selalu berhasil mengubah hitam menjadi putih.
Dalam pertemuan dengan para pekerja di lumbung, si babi kuning memegang sehelai kertas dan membacakan daftar angka yang diklaimnya resmi. Dengan suara melengking, ia mengatakan produksi padi sebenarnya telah meningkat, bahkan mencapai swasembada. Para pekerja yang lugu itu, yang tak pernah mengurusi angka di luar bon-bon utang di dalam rumahnya, tak punya alasan untuk tak percaya, meski perut mereka terus berbunyi nyaring menahan lapar.
Mengenai biaya perjalanan Pemimpin ke-7 yang seharusnya dipakai untuk kebutuhan rakyat yang lebih prioritas, babi kuning berteriak sambil melompat-lompat ceria, "Taktik, Kamerad, taktik!" Dan mengenai lembaran kertas non-legally binding yang dibawa pulang, katanya, itu manuver strategis (yang tak bisa dibicarakan, atau kehilangan kestrategisannya) dan hanya bisa dipahami oleh Pemimpin ke-7. Atau, memakai versi lebih ringkas dari seorang loyalis lainnya, “Pokoknya ada.”
Jika ada binatang—seperti kuda atau sapi pekerja—yang matanya masih terlihat ragu, kawanan anjing pengawal segera menggeram. Sementara itu, kawanan biri-biri diatur untuk mengembik berisik agar tak ada ruang tersisa untuk diskusi atau protes. Kawanan biri-biri ini, yang diberi rumput yang dipupuk bangkai para satwa yang mati karena kelaparan, pernah dipakai untuk meyakinkan para satwa bahwa dansa-dansi lebih berpengaruh ketimbang politik terhadap kehidupan mereka.
Kawanan biri-biri ini juga digunakan untuk meredam protes di dunia maya, yang secara aneh telah mempengaruhi setiap satwa di Peternakan Manor, melebihi yang bisa dilakukan para kiai, pendeta, pandito, apa lagi para orang tua. Potensi dunia maya ini jelas berbahaya karena banyak satwa masih mengingat dengan baik bahwa “suara rakyat adalah suara Tuhan”. Tapi Pemimpin ke-7 adalah murid terbaik dari pemimpin sebelumnya. Alih-alih melakukan pembungkaman paksa, dia melakukan konsolidasi kuasa, dari regulasi hingga penguasaan lumbung, yang mekanismenya dilakukan dengan senyap oleh Biro Khusus Komunikasi. Prinsipnya: Suara rakyat adalah suara Tuhan, kecuali tidak terdengar.
Pada sebuah siang, di dalam goanya yang berada di atas kandang para kuda, Owl menghentikan catatannya, tepat ketika analisisnya menunjukkan adanya peluang untuk menurunkan Sang Pemimpin secara konstitusional, menggunakan Piagam Kebebasan Satwa Pasal 33. Pasal itu berbunyi: "Segala hasil padang rumput dikuasai oleh kolektif untuk sebesar-besar kemakmuran satwa."
Owl enggan berimajinasi tentang pemakzulan. Dia menyimpan bukunya, menarik selimut, dan tertidur nyenyak. Sementara di padang rumput, seekor sapi kembali mati. Kulit perutnya saling melekat.



