Berita
Konservasi Padang Lamun di Indonesia Tak Bisa Diseragamkan
Mosaik ekologis unik padang lamun di Indonesia adalah perpaduan beragam kondisi ekologis, penting mempertimbangkan konteks spasial dalam pengelolaan.
Minggu, 30 Agustus 2026

BETAHITA.ID - Tidak semua padang lamun di Indonesia berada dalam kondisi yang sama, beberapa di antaranya tidak dalam kondisi baik. Sehingga kebijakan konservasi lamun tidak dapat diseragamkan. Demikian menurut penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Science of The Total Environment.
Penelitian tersebut telah mengungkap adanya perbedaan spasial yang signifikan dalam kondisi 21 padang lamun di wilayah Indonesia bagian tengah dan timur, sehingga memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai lokasi-lokasi di mana ekosistem tersebut berkembang dengan baik (hotspot), mengalami tekanan (coldspot), atau sedang mengalami perubahan ekologis (outlier).
Hal tersebut menjadi penting karena sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati rumput laut global, Indonesia memiliki lebih dari 660.000 hektare padang rumput laut yang menyediakan habitat bagi kehidupan laut, mendukung perikanan, menyimpan karbon, dan melindungi garis pantai.
Namun, ekosistem ini menghadapi tekanan yang semakin besar akibat aktivitas manusia dan perubahan lingkungan, sementara kondisi ekologisnya dapat sangat bervariasi di berbagai wilayah pesisir yang beragam di seluruh negeri. Menilai perbedaan-perbedaan ini tetap menjadi tantangan, terutama di tempat-tempat di mana data pemantauan jangka panjang masih terbatas.
Untuk mengatasi kekurangan ini, sebuah tim peneliti dari beberapa lembaga di Indonesia, yang dipimpin oleh Rohani Ambo-Rappe, seorang profesor di Departemen Ilmu Kelautan Universitas Hasanuddin, mengkuantifikasi Indeks Kualitas Ekologi Rumput Laut (SEQI).
Kerangka kerja ini mengintegrasikan indikator biofisik dan lingkungan utama untuk memberikan penilaian spasial terperinci mengenai kualitas ekologi rumput laut di seluruh wilayah Indonesia bagian tengah dan timur, sehingga membantu mengidentifikasi kawasan-kawasan yang dapat diprioritaskan untuk upaya konservasi atau restorasi.
Pembuatan indeks kualitas spasial
Ambo-Rappe, mengatakan ia bersama peneliti lainnya mengembangkan kerangka kerja SEQI dengan menggunakan lima indikator ekologi, termasuk keanekaragaman spesies lamun, tutupan lamun, kejernihan air, tutupan makroalga, dan tutupan epifit.
“Kami menggabungkan indeks tersebut dengan analisis spasial dan multivariat untuk memahami bagaimana kondisi ekologi bervariasi di antara berbagai lokasi,” ujarnya, pada 21 Agustus 2026, dikutip dari Phys.
Penilaian tersebut mengungkapkan variasi yang signifikan dalam kondisi lamun, dengan nilai SEQI berkisar antara 0,39 hingga 0,88. Beberapa nilai tertinggi tercatat di Pasi-Gusung, Parak, dan Maharayya, di mana padang lamun memiliki keanekaragaman spesies yang tinggi, tutupan yang relatif luas, dan air yang jernih. Sebaliknya, Lae-Lae mencatat nilai SEQI terendah, yang mencerminkan tutupan rumput laut dan kekayaan spesies yang sangat rendah serta kejernihan air yang berkurang.
Para peneliti menemukan bahwa perbedaan-perbedaan ini tidak tersebar secara acak. Di Indonesia tengah, kualitas ekologi rumput laut membentuk mosaik spasial yang terdiri dari titik-titik panas, titik-titik dingin, dan titik-titik ekologi yang menyimpang.
Hotspot, coldspot, dan tempat perlindungan
“Hotspot” berkualitas tinggi teridentifikasi di lokasi-lokasi seperti Pasi-Gusung, Liukangloe, Maharayya, dan Parak, di mana kondisi yang sehat diperkuat oleh kawasan sekitarnya yang juga sehat. Lokasi-lokasi semacam itu dapat memperoleh manfaat dari upaya konservasi guna mempertahankan ketahanan ekologi yang ada.
Sebaliknya, beberapa lokasi yang diidentifikasi sebagai “coldspot” ditandai oleh ekosistem yang terdegradasi. Kawasan-kawasan ini meliputi Sekotong, Lanjukang, Badi-Alami, Badi-Restorasi, Waboela, dan Lapandewa, di mana restorasi atau langkah-langkah untuk mengurangi tekanan lingkungan mungkin sangat penting.
Analisis tersebut juga mengungkap lokasi-lokasi dengan kondisi yang kontras dibandingkan dengan lingkungannya, yang diidentifikasi sebagai “outlier” spasial. Kawasan seperti Bone Batang dan Barrang Lompo memiliki ekosistem yang relatif sehat di tengah lingkungan yang kurang sehat, sehingga berpotensi menjadikannya tempat perlindungan ekologi yang rentan dan memerlukan perlindungan.
Sementara itu, Lae-Lae dan Bonto Bahari merupakan lokasi-lokasi yang terdegradasi yang tertanam di tengah sistem lamun yang lebih sehat, yang menunjukkan adanya peluang untuk restorasi yang ditargetkan.
Panduan perlindungan dan restorasi
Kebijakan konservasi lamun tidak dapat mengandalkan pendekatan yang seragam untuk semua. Mosaik ekologis unik dari padang lamun di Indonesia, yang merupakan perpaduan beragam kondisi ekologis, menyoroti pentingnya mempertimbangkan konteks spasial dalam mengelola ekosistem lamun.
Alih-alih memperlakukan setiap padang lamun secara terpisah, mengidentifikasi kelompok ekologis dan area yang menyimpang dapat membantu para praktisi konservasi menentukan lokasi di mana upaya perlindungan, restorasi, atau intervensi terarah dapat memberikan dampak terbesar.
Dengan mengidentifikasi ekosistem lamun yang sehat yang dapat diprioritaskan untuk konservasi serta kawasan yang terdegradasi yang mungkin memerlukan restorasi terarah, penelitian ini dapat membantu mendukung upaya perlindungan keanekaragaman hayati laut dan memperkuat peran padang lamun sebagai penyimpan karbon biru. Temuan ini juga mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) PBB, khususnya SDG 13 (Tindakan Iklim) dan SDG 14 (Kehidupan di Bawah Air).
Secara keseluruhan, temuan ini memberikan landasan praktis untuk memprioritaskan upaya konservasi dan restorasi. Ambo-Rappe mengatakan penelitian yang mereka lakukan menyediakan kerangka kerja berbasis informasi spasial untuk mengidentifikasi kawasan yang perlu dilindungi, dipulihkan, atau dijadikan zona penyangga.
"Hal ini dapat menjadi panduan dalam menetapkan prioritas konservasi yang dapat ditindaklanjuti sebelum degradasi lebih lanjut mempersulit upaya pemulihan,” ujar Ambo-Rappe.




