Sabtu, 13 Juni 2026

            

Berita

Setelah Hilang 1 Dekade, Burung Endemik Pulau Buru Muncul Lagi

Burung nuri dahi biru yang pertama kali dideskripsikan lebih dari seratus abad lalu terlihat kembali di habitatnya di Pulau Buru.

Sabtu, 13 Juni 2026
Spesies endemik burung nuri dahi biru yang sempat hilang kembali terlihat di Pulau Buru April lalu dalam sebuah ekspedisi. Dok. Birdlife International
Spesies endemik burung nuri dahi biru yang sempat hilang kembali terlihat di Pulau Buru April lalu dalam sebuah ekspedisi. Dok. Birdlife International

BETAHITA.ID - Setelah menghilang lebih dari satu dekade, burung nuri dahi biru muncul kembali di sebuah dataran tinggi terpencil Gunung Kapalatmada, Buru. Penampakan ini juga menandai dokumentasi terbaru dari spesies yang hanya didokumentasikan sekali dalam seratus tahun terakhir. 

April lalu, sebuah tim yang dipimpin oleh kelompok pendaki gunung Indonesia Kanal Buru memulai perjalanan 14 hari, membelah lanskap pulau yang paling belum dijelajahi. Tim beranggotakan American Bird Conservancy (ABC), Birdtour Asia, dan Yayasan Planet Indonesia. 

Dalam perjalanan tersebut, tim menyaksikan dan mengambil foto pertama spesies sejak 2014, yang menandai rekor kedua sejak spesies burung beo yang sulit ditangkap ini dideskripsikan lebih dari seratus tahun yang lalu. 

“Saat kami melihat burung nuri dahi biru, saya tidak bisa menahan air mata,” kata Sumaraja, pemandu dan pemimpin tur Birdtour Asia. “Setiap hari, saya hampir menangis kegirangan melihat burung-burung ini masih ada,” ujarnya. 

Burung nuri dahi biru (Charmosyna toxopei) merupakan spesies endemik berukuran kecil yang hanya terdapat di Pulau Buru. Burung ini pertama kali dideskripsikan dari serangkaian tujuh spesimen pada 1920-an, memiliki bulu hijau limau, paruh oranye, mahkota belakang berwarna biru, dan ekor runcing. Burung ini tidak terdeteksi selama hampir satu abad dan menghilang dari catatan ilmiah. Pemerintah Indonesia juga memasukkan spesies ini dalam daftar satwa dilindungi. 

Burung ini terdaftar dengan status Defisiensi Data dalam daftar merah IUCN sejak 2024 karena minimnya informasi yang diketahui. Pada tahun yang sama, nuri dahi biru diakui sebagai spesies hilang oleh Search for Lost Birds – sebuah inisiatif global antara ABC, Re:wild, dan BirdLife International.

Sebelumnya, hewan ini dianggap Sangat Terancam Punah berdasarkan asumsi bahwa populasinya kecil, kemungkinan menurun karena jarangnya hewan ini didokumentasikan. Namun, sudah lama ada spekulasi bahwa perkici mungkin hanya hidup di dataran tinggi di hutan pegunungan Buru yang sulit diakses.

Direktur Pencarian Burung Hilang ABC John Mittermeier mengatakan, penampakan spesies tersebut terjadi pada hari ke-enam pendakian, setelah tim melewati lanskap batu kapur bergerigi, dan memasuki hutan awan berlumut dan lahan terbuka menyerupai taman. 

“Kami melihat dua burung kecil terbang ke pohon terdekat, jadi saya mengambil teropong untuk melihat burung apa itu,” kata Mittermeier. “Saya segera mengalami korsleting karena kegembiraan ketika saya menyadari bahwa itu adalah burung nuri dahi biru,” ujarnya. 

Pada kemunculan pertama tersebut, tim ekspedisi tidak berhasil mendapatkan gambar. Dua hari kemudian, saat kelompok tersebut berkumpul untuk sarapan, seekor burung nuri dahi biru lain muncul. Tim mencatat spesies tersebut dapat terlihat tanpa teropong, dengan bulu berwarna hijau cerah berkilauan di bawah sinar matahari pagi. Mereka pun bergegas memotretnya. 

Pagi terakhir di dataran tinggi, tim ekspedisi tersebut kembali melihat dua burung nuri dahi biru melesat di antara pepohonan dan berhasil menangkap rekaman suara satwa tersebut. Selama perjalanan, tim juga menemukan dan mencatat salah satu burung penyanyi dan endemik, Madanga, dan kemungkinan takson baru anis gunung (Island thrush). 

“Catatan penampakan yang langka menunjukkan penggunaan habitat yang sangat terbatas,” kata Koordinator Maluku di Burung Indonesia, Benny A. Siregar. 

"Tantangan utama yang dihadapi nuri dahi biru adalah mereka menghadapi ancaman yang sebagian besar masih belum diketahui. Burung ini mendiami wilayah yang terus-menerus mengalami tekanan akibat deforestasi, dengan populasi yang diperkirakan sangat kecil dan rentan," ujarnya. 

Koordinator Program Konservasi Kakatua Indonesia (KKI) Dwi Agustina mengatakan, pendekatan dan tindakan kolektif dari seluruh pemangku kepentingan diperlukan untuk melindungi sisa habitat burung langka tersebut. 

“Buru adalah rumah bagi banyak burung endemik, dan perusahaan penebangan kayu serta pertambangan yang telah mengakuisisi sebagian besar hutan di pulau ini merupakan ancaman besar bagi kelangsungan hidup burung tersebut dan satwa liar,” katanya. 

Namun demikian, tidak dapat diaksesnya dataran tinggi Gunung Kapalatmada menjadi perlindungan terbesar bagi spesies ini. Menemukan spesies ini masih memberikan harapan bagi spesies lain, termasuk perkici kaledonia baru dan perkici dora yang hilang, yang dikhawatirkan berada di ambang kepunahan. 

Dengan adanya rute baru menuju puncak Buru, masa depan habitatnya bergantung pada pengelolaan yang cermat dan kolaborasi dengan orang-orang yang paling mengenal gunung tersebut.

“Kedepannya saya tentu berharap semakin banyak orang yang bisa melihat dan mengetahui lebih jauh tentang burung ini,” tambah Sumaraja. “Pada saat yang sama, saya berharap semakin banyak masyarakat yang peduli dan berpartisipasi dalam melestarikan hutan yang tersisa di Pulau Buru.”