Kamis, 04 Juni 2026

            

Berita

Buruh Migran Keluar, Burung Migran Datang di Indonesia

Spesies burung air migran sangat bergantung pada lahan basah, dataran lumpur, dan hutan bakau di Indonesia untuk mencari makan dan beristirahat.

Kamis, 04 Juni 2026
Burung igran adalah sebutan burung-burung yang melakukan migrasi ke Australia dan Indonesia. FOTO: HARRY SANJAYA PUTRA/WIKIPEDIA.ORG
Burung igran adalah sebutan burung-burung yang melakukan migrasi ke Australia dan Indonesia. FOTO: HARRY SANJAYA PUTRA/WIKIPEDIA.ORG

BETAHITA.ID - Sepanjang 2026 terdapat 220 spesies burung migran dan vagrant yang tercatat melintasi atau singgah di Indonesia, sekitar 27 spesies di antaranya berstatus terancam punah. Hal tersebut menjadikan wilayah Indonesia menjadi tempat penting bagi burung migran, sehingga perlindungan terhadap areal singgah burung tersebut harus dilakukan.

Dosen Fakultas Biologi UGM, Donan Satria Yudha, mengatakan Indonesia sebagai wilayah singgah burung migran ini mengingatkan bahwa di balik padatnya aktivitas manusia, terdapat perjalanan luar biasa yang dilakukan oleh burung-burung migran. Banyaknya burung-burung migran yang singgah di kepulauan Indonesia dikarenakan faktor kelelahan yang dialami oleh para burung yang mengharuskan mereka untuk beristirahat.

“Karena bermigrasi ribuan mil sangat melelahkan secara fisik,  maka tempat persinggahan yang strategis mampu memberikan mereka kesempatan beristirahat dan memulihkan kekuatan otot-ototnya,” katanya dalam sebuah keterangan tertulis, Rabu (3/6/2026).

Menurut Donan, burung-burung migran yang singgah harus mengisi cadangan lemak vital, karena terbang jarak jauh dapat menghabiskan energi burung dengan cepat. Persinggahan memungkinkan burung untuk mencari makan secara intensif guna menimbun cadangan lemak seperti trigliserida yang diperlukan untuk menunjang perjalanan selanjutnya.

Migrasi burung, lanjut Donan, juga sangat bergantung pada angin buritan atau angin yang bertiup searah dengan arah terbang burung. Ketika mereka menghadapi badai, angin kencang dari depan, atau suhu ekstrem, mereka terpaksa singgah, yaitu mendarat dan menunggu kondisi aman sebelum mencoba terbang lagi.

“Tempat singgah ini menjadi ruang bagi para burung dalam mencari makan sekaligus cadangan makanan, serta mencari perlindungan dari predator maupun cuaca buruk, sebelum melanjutkan perjalanan menuju ke tujuan,” katanya.

Hingga hari ini, konservasi burung migran menghadapi tantangan yang kompleks. Spesies dari burung-burung tersebut bergantung pada ekosistem yang sangat berbeda di berbagai benua dengan negara yang berbeda sepanjang tahun, kelangsungan hidup mereka terancam secara unik oleh kesenjangan kebijakan internasional, perusakan habitat di titik persinggahan penting, dan bahaya antropogenik yang semakin kompleks.

Donan menjelaskan bahwa kebijakan internasional dan hubungan geopolitik yang rapuh membuat konservasi burung migran mengalami kesulitan. Burung migrasi bergantung pada “jalur terbang” internasional yang membentang di banyak negara. Jika suatu negara secara ketat melindungi suatu spesies tetapi negara tetangga mengizinkan perburuan atau perusakan habitat, upaya konservasi akan gagal.

“Negara-negara berkembang sering menghadapi tekanan ekonomi yang bertentangan dengan tujuan konservasi, sehingga pendanaan dan penegakan hukum lintas batas yang terkoordinasi menjadi sangat sulit,” jelasnya.

Lebih lanjut, Donan menjelaskan bahwa kondisi burung migran sangat bergantung pada area singgah penting seperti lahan basah, hutan, sabana, dan garis pantai tertentu untuk beristirahat dan “mengisi bahan bakar” selama perjalanan mereka yang berat. Terjadinya pengeringan atau pembersihan pada area singgah penting tersebut untuk pertanian dan urbanisasi membuat burung tidak akan bertahan hidup selama sisa perjalanan.

Selain itu,  perubahan iklim yang menggeser suhu musim semi dan musim berbunga memengaruhi reproduksi burung, yaitu ketika burung tiba di tempat berkembang biak setelah puncak ketersediaan serangga yang dibutuhkan untuk memberi makan anak-anaknya, menyebabkan tingkat reproduksi yang buruk. Tantangan lain datang dari penyusutan oase, hambatan kering seperti Gurun Sahara menjadi lebih panas dan lebih luas karena perubahan iklim, sehingga akan mengeringkan oase penting dan meningkatkan risiko kematian selama migrasi.

Tidak hanya sampai di situ, jalur migrasi sering kali terpotong oleh gedung-gedung tinggi, menara komunikasi, tower listrik, dan turbin angin, yang dapat menyebabkan tabrakan fatal. Saluran listrik merupakan penyebab utama kematian bagi spesies migrasi yang berukuran besar dan berkelompok. Lampu kota buatan membuat burung migran nokturnal kehilangan orientasi.

“Burung-burung terperangkap berputar-putar di sekitar struktur ini, menyebabkan mereka kehabisan energi yang mereka simpan untuk perjalanan mereka,” katanya.

Untuk mengatasi hal ini, Donan menjelaskan perlu adanya upaya menyelamatkan burung migran di Indonesia. Melalui pendekatan multi-aspek yang melindungi habitat persinggahan penting di sepanjang Jalur Migrasi Asia Timur-Australasia (EAAFP), menegakkan hukum anti-perburuan liar, dan mempromosikan ekowisata yang dikelola masyarakat dapat dilakukan sebagai penyelamatan burung migran di Indonesia.

“Upaya terkoordinasi sangat diperlukan dari para pembuat kebijakan dan masyarakat setempat untuk memastikan perjalanan yang aman bagi spesies burung migran tersebut,” ucap Donan.

Donan memberikan contoh upaya konservasi, yaitu burung air yang bermigrasi sangat bergantung pada lahan basah, dataran lumpur, dan hutan bakau di Indonesia untuk mencari makan dan beristirahat. Dengan melindungi ekosistem pesisir yang vital ini dari pembangunan dan penggunaan lahan yang merusak adalah prioritas utama. Memperkuat penegakan hukum juga harus dilakukan. Sebab, perburuan ilegal dan perdagangan burung ilegal mengancam banyak spesies migrasi maupun spesies asli.

“Pengawasan yang lebih ketat terhadap pasar lokal dan melalui ranah digital sangat penting untuk membongkar rantai perdagangan ilegal,” ujarnya.

Untuk mendukung penelitian juga dapat diposisikan sebagai upaya dalam menyelamatkan burung migran. Pasalnya, pengamat burung dan peneliti lokal memberikan kontribusi besar dalam memantau pola migrasi.

“Kita dapat berpartisipasi dalam inisiatif seperti Sensus Burung Air Asia (AWC) tahunan atau mencatat pengamatan kita di platform komunitas seperti eBird atau Burungnesia untuk memberikan data ilmiah yang penting,” kata Donan

Sebagai penutup, ia menerangkan bahwa upaya ini juga harus didukung dengan bantuan dari para pemangku kepentingan. Peran pemerintah, organisasi, masyarakat lokal, dan industri pengembang menjadi sangat penting untuk melindungi burung migran.

Mereka harus bersama-sama mewujudkan perlindungan terhadap burung migran melalui penerapan strategi lintas batas yang terkoordinasi untuk mengamankan habitat persinggahan, mengurangi bahaya industri, dan menegakkan hukum konservasi secara ketat.