Berita
Krisis Iklim Mempercepat Resistensi Antibiotik di Seluruh Dunia
Riset menemukan bahwa krisis iklim terkait dengan peningkatan risiko resistensi antibiotik.
Sabtu, 30 Mei 2026

BETAHITA.ID - Krisis iklim mempercepat peningkatan resistensi antibiotik secara global yang menimbulkan ancaman serius terhadap kesehatan manusia. Temuan tersebut terungkap dalam sebuah penelitian terbaru, di mana angka gen resistensi antibiotik salmonella meningkat di seluruh dunia.
Resistensi antibiotik adalah salah satu ancaman yang tumbuh paling cepat terhadap kesehatan global. Penyakit ini dapat menyerang orang-orang dari segala usia di negara mana pun dan telah membunuh lebih dari 1 juta orang setiap tahunnya, menurut perkiraan.
Penelitian yang dipimpin oleh para peneliti dari Inggris, Prancis, Australia, Swiss dan Tiongkok, ini mengungkapkan bagaimana perubahan iklim dikaitkan dengan meningkatnya resistensi antibiotik pada salmonella, salah satu penyakit bakteri paling umum di dunia.
Perubahan iklim dikatikan dengan peningkatan 10% gen resistensi antibiotik salmonella secara global antara tahun 1940 dan 2023, menurut penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Lancet Planetary Health, Selasa, 26 Mei 2026.
Penyebab utama terjadinya resistensi antibiotik masih disebabkan oleh penyalahgunaan dan penggunaan antibiotik yang berlebihan, yang digunakan untuk mengobati infeksi. Namun penelitian menunjukkan bahwa masalah ini diperburuk oleh perubahan iklim.
“Kumpulan bukti menunjukkan bahwa perubahan iklim merupakan kekuatan yang mempercepat penyebaran resistensi antimikroba secara global,” tulis para peneliti dalam riset tersebut.
“Temuan kami memberikan bukti pendukung bahwa kenaikan suhu dan perubahan pola curah hujan secara non-linear memperkuat kelimpahan dan penyebaran gen resistensi antimikroba pada bakteri patogen seperti salmonella,” tulis para peneliti.
“Temuan ini memperkuat gagasan bahwa perubahan iklim mengubah stabilitas ekologi mikroba dan mempercepat evolusi resistensi pada manusia, hewan, dan lingkungan,” tulis para peneliti.
“Integrasi kebijakan mitigasi perubahan iklim yang mendesak, khususnya yang sejalan dengan perjanjian Paris – dengan peningkatan pengelolaan antimikroba dan pengawasan One Health – sangat penting untuk mengurangi beban resistensi antimikroba di masa depan,” tulis para peneliti.
Resistensi antimikroba terutama disebabkan oleh penggunaan antibiotik yang berlebihan dan penyalahgunaan, yang memungkinkan bakteri resisten bertahan hidup dan menyebar. Namun, kenaikan suhu dan perubahan pola curah hujan dapat memengaruhi cara bakteri bertahan hidup, bermutasi dan menyebar, sehingga berpotensi meningkatkan pertukaran gen resistensi antibiotik, kata para peneliti.
Penelitian sebelumnya telah mengaitkan suhu yang lebih tinggi dengan tingkat resistensi bakteri yang lebih besar, namun hingga saat ini studi kuantitatif global mengenai hubungan tersebut masih terbatas.
Studi baru ini menganalisis genom lebih dari 480.000 sampel salmonella dari 139 negara yang dikumpulkan antara tahun 1940 dan 2023. Tingkat gen resistensi antibiotik dibandingkan dengan perubahan suhu rata-rata dan curah hujan dari waktu ke waktu.
Dengan menggunakan model untuk mempelajari hubungan tersebut, para peneliti menemukan bahwa resistensi antibiotik tidak hanya terus meningkat seiring kenaikan suhu, namun jumlah gen resistensi berubah seiring waktu dengan cara yang lebih rumit tergantung pada suhu dan curah hujan.
Hal ini menunjukkan bahwa perubahan lingkungan dapat mempercepat bagaimana bakteri beradaptasi terhadap antibiotik, menurut para peneliti.
Studi tersebut menemukan bahwa 82% negara yang diteliti mengalami peningkatan gen resistensi antibiotik pada salmonella. Peningkatan terbesar terkait iklim terjadi di Timur Tengah dan Afrika Utara, diikuti oleh Asia Selatan, dan Afrika Sub-Sahara.
Studi tersebut menunjukkan adanya hubungan antara perubahan iklim dan gen resistensi antibiotik pada salmonella, namun tidak membuktikan bahwa perubahan iklim secara langsung menyebabkan peningkatan tersebut. Namun, para penulis mengatakan temuan mereka menyoroti perlunya mempertimbangkan perubahan iklim dalam upaya global dalam mengatasi resistensi antibiotik.
Tindakan segera, bersamaan dengan penggunaan antibiotik yang bertanggung jawab dan peningkatan pengawasan penyakit, akan menjadi kunci untuk membatasi penyebaran resistensi antibiotik di masa depan, kata para peneliti.
Studi ini, menurut para peneliti, memberikan “bukti kuat” bahwa perubahan iklim dikaitkan dengan peningkatan risiko resistensi antibiotik.
Temuan ini menekankan bahwa menggabungkan upaya mitigasi perubahan iklim dan pengelolaan antibiotik, seperti mengikuti skenario rendah emisi, dapat secara efektif mengekang penyebaran gen resistensi antimikroba dan meningkatkan resistensi antimikroba global.




