Jumat, 29 Mei 2026

            

Berita

Terong Bahan Sayur Asam Kalimantan Ini Ternyata Spesies Baru

Spesies baru ini dikenal masyarakat lokal Kalimantan dengan sebutan terong asam atau terong dayak dan telah lama dimanfaatkan sebagai bahan pangan.

Sabtu, 30 Mei 2026
Para peneliti BRIN mendeskripsikan spesies terong baru, yang kemudian diberi nama Solanum kalimantanense. Foto: BRIN.
Para peneliti BRIN mendeskripsikan spesies terong baru, yang kemudian diberi nama Solanum kalimantanense. Foto: BRIN.

BETAHITA.ID - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap spesies baru terong berduri dari genus Solanum yang berasal dari Kalimantan, Indonesia. Spesies baru tersebut diberi nama Solanum kalimantanense T.Djarwaningsih, E.L.Agustiani & M.R.Hariri dan dipublikasikan dalam jurnal internasional Taprobanica Volume 15 Nomor 1 tahun 2026 dengan judul A New Spiny Eggplant Species of the Genus Solanum L. (Angiosperms: Solanaceae) from Indonesian Borneo.

Solanum kalimantanense ditemukan melalui kegiatan eksplorasi lapangan yang dilakukan di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan pada periode 2022–2024. Spesies baru ini termasuk kelompok terong berduri (Leptostemonum clade) dan memiliki kemiripan dengan Solanum lasiocarpum. 

Namun, Solanum kalimantanense memiliki sejumlah karakter morfologi khas yang membedakannya, seperti ukuran daun yang hampir sama panjang dan lebarnya, lekukan daun yang sangat dangkal, permukaan buah matang berbulu halus dan jarang, serta ukuran buah yang lebih besar dibandingkan Solanum lasiocarpum. Selain itu, analisis DNA menggunakan penanda ITS menunjukkan adanya perbedaan genetik yang cukup signifikan dibandingkan spesies kerabat terdekatnya.

Penelitian ini dilakukan oleh para Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, yakni Esthi L. Agustiani, Tutie Djarwaningsih, dan Muhammad Rifqi Hariri; serta Peneliti Pusat Riset Ekologi BRIN, Siti Susiarti. Rifqi mengatakan penemuan ini memperkaya data keanekaragaman tumbuhan Indonesia, khususnya dari Pulau Kalimantan.

“Temuan ini menunjukkan Indonesia masih memiliki potensi biodiversitas yang sangat besar dan belum seluruhnya terdokumentasi secara ilmiah, termasuk dari kelompok tumbuhan yang telah dikenal dan dimanfaatkan masyarakat,” ujarnya, dalam sebuah keterangan tertulis, pada 23 Mei 2026.

Sementara itu, Tutie mendapatkan informasi tanaman ini dikenal masyarakat lokal dengan sebutan terong asam atau terong dayak dan telah lama dimanfaatkan sebagai bahan pangan. Buahnya banyak dijumpai di pasar terapung Banjarmasin dan umum diolah sebagai sayuran. Selain itu, masyarakat di Kecamatan Kenohan, Kalimantan Timur, memanfaatkan daun dan kuncup buah tanaman ini sebagai obat tradisional yang dikenal dengan istilah “wikat” untuk pengobatan kanker.

Secara ekologis, Solanum kalimantanense ditemukan tumbuh pada berbagai tipe tanah, mulai dari tanah lempung berpasir hingga tanah hitam asam, dengan rentang ketinggian 9–1700 meter di atas permukaan laut. Spesies ini diketahui tersebar di beberapa wilayah Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan.

Namun, berdasarkan kajian awal, spesies ini diduga memiliki populasi terbatas sehingga berpotensi masuk kategori rentan (vulnerable) menurut kriteria IUCN. Esthi mengungkapkan kombinasi pendekatan morfologi dan analisis DNA sangat penting dalam memastikan status spesies baru.

“Pendekatan integratif melalui pengamatan morfologi dan DNA barcoding membantu kami membedakan spesies ini dari kerabat dekatnya secara lebih akurat,” katanya.

Hasil penelitian ini semakin memperkuat pentingnya eksplorasi dan kajian taksonomi tumbuhan Indonesia sebagai bagian dari upaya pendataan dan pelestarian keanekaragaman hayati nasional. BRIN akan terus melakukan penelitian biodiversitas untuk mendukung pengungkapan potensi flora Indonesia serta pemanfaatannya secara berkelanjutan.