Jumat, 29 Mei 2026

            

Berita

Pertumbuhan PLTU Captive di Indonesia Bikin Rumit Transisi Energi

Indonesia menempati peringkat ketiga untuk kapasitas usulan PLTU (11 GW), setelah Cina dan India.

Minggu, 31 Mei 2026
Tampak dari ketinggian PLTU captive milik PT OSS di Kabupaten Konawe, Sultra. Sumber: Walhi Sultra.
Tampak dari ketinggian PLTU captive milik PT OSS di Kabupaten Konawe, Sultra. Sumber: Walhi Sultra.

BETAHITA.ID - Kapasitas pembangkit listrik tenaga batu bara (PLTU) Indonesia meningkat sebesar 7% pada 2025, dengan seperempat dari peningkatan tersebut terkait dengan PLTU captive untuk pengolahan nikel dan aluminium, demikian menurut laporan terbaru Global Energy Monitor (GEM). Indonesia juga menempati peringkat ketiga secara global untuk total kapasitas PLTU yang diusulkan (11 GW), di bawah Tiongkok dan India, termasuk rencana baru yang terhubung ke jaringan (on-grid) serta keberlanjutan proyek captive di luar jaringan (off-grid).

Menurut laporan Boom and Bust 2026, laporan tahunan tentang pembangkit batu bara global yang kini memasuki tahun ke-11, pertumbuhan ini terutama terjadi di Sulawesi Tengah dan Maluku Utara. Hal ini menunjukkan bahwa pengolahan mineral domestik—yang sering dipromosikan sebagai strategi industrialisasi hijau—pada kenyataannya didukung secara besar-besaran oleh energi batu bara.

Meskipun target Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia mencakup emisi sektor energi secara agregat, pertumbuhan signifikan pembangkit captive masih belum terintegrasi secara memadai ke dalam kerangka dekarbonisasi listrik yang berfokus pada sistem on-grid. Akibatnya, emisi dari sektor ketenagalistrikan dapat terus meningkat, meskipun di atas kertas bauran energi on-grid terlihat semakin berkurang ketergantungannya pada bahan bakar fosil.

Lucy Hummer, Peneliti Senior untuk Global Coal Plant Tracker GEM, mengatakan Pemerintah Indonesia telah berkali-kali menyampaikan komitmen iklim yang cukup ambisius. Namun, komitmen tersebut belum diterjemahkan menjadi kebijakan dan rencana ketenagalistrikan yang benar-benar selaras dan konsisten untuk mencapainya.

“Kesenjangan ini paling terlihat dari lambatnya pengembangan energi terbarukan,” katanya, dalam sebuah keterangan tertulis, pada Kamis (21/5/2026).

Alfa Arifia Setiawan, Peneliti di Trend Asia, menuturkan saat dunia mulai meninggalkan batu bara, Indonesia justru masih menambah kapasitasnya melalui pembangkit captive. Ini mencerminkan ketidak-selarasan arah kebijakan Indonesia dengan tren transisi energi global.

“Dampaknya tidak hanya pada emisi, tetapi juga pada kesehatan masyarakat dan keberlanjutan ekonomi lokal,” ujarnya.

Berikut ini ringkasan dalam laporan Boom and Bust 2026 yang ditulis dan dirilis GEM bersama Trend Asia dan sejumlah lembaga masyarakat sipil lain dari berbagai dunia:

  • Pada 2025, kapasitas PLTU batu bara global terus meningkat meskipun produksi listrik dari batu bara menurun. Kapasitas batu bara global naik sebesar 3,5%, sementara produksi listriknya turun 0,6%, mempertegas kesenjangan yang semakin lebar antara penambahan kapasitas dan tingkat pemanfaatannya.
  • Penurunan produksi listrik batu bara paling tajam terjadi di Tiongkok dan India, meskipun kedua negara mencatat tingkat komisioning yang tinggi. Di Cina, kapasitas batu bara meningkat 6% sementara produksinya turun 1,2%; di India, kapasitas naik 3,8% sementara produksi turun 2,9%. Di kedua negara tersebut, energi angin dan surya memenuhi sebagian besar—bahkan seluruh—permintaan tambahan, sehingga memperlebar kesenjangan antara kapasitas yang meningkat dan output yang menurun.
  • Di Cina, proyek PLTU batu bara baru dan yang diaktifkan kembali pada 2025 melonjak ke rekor tertinggi sebesar 161,7 GW. Secara total, Cina memiliki lebih dari 500 GW kapasitas PLTU batu bara dalam tahap pengembangan. Jika direalisasikan, proyek-proyek ini akan mengunci ekspansi batu bara hingga periode Rencana Lima Tahun ke-15 (2026-2030), meskipun pemerintah telah berkomitmen untuk menurunkan konsumsi batu bara.
  • India mencatat 27,9 GW usulan proyek PLTU baru dan yang diaktifkan kembali pada 2025. Secara total, India memiliki 107,3 GW kapasitas dalam tahap perencanaan pra-konstruksi dan tambahan 23,5 GW dalam tahap konstruksi. Pemerintah India menargetkan penambahan 100 GW kapasitas PLTU batu bara baru dalam tujuh tahun ke depan, meskipun penambahan besar energi surya dan angin telah mendorong kapasitas non-fosil melampaui separuh dari total kapasitas terpasang pada 2025.
  • Secara global, hampir 70% unit PLTU batu bara yang dijadwalkan pensiun pada 2025 tidak direalisasikan, termasuk 69% di Uni Eropa dan 59% di Amerika Serikat. Di Uni Eropa, sebagian besar penundaan ini merupakan kelanjutan dari kebijakan darurat selama krisis energi 2022-2023, meskipun komitmen penghentian batu bara tetap berlaku. Di Amerika Serikat, penundaan lebih banyak dipicu oleh intervensi pemerintah yang secara eksplisit mempertahankan operasi pembangkit tua.
  • Konstruksi PLTU di luar Cina dan India mencapai titik terendah dalam sejarah, hanya sebesar 5% dari total kapasitas konstruksi global pada 2025. Hal ini menunjukkan bahwa ekspansi batu bara global semakin didorong oleh segelintir negara, bukan oleh permintaan global yang luas.
  • Di Indonesia, kapasitas PLTU batu bara meningkat sebesar 7% pada 2025, dengan sekitar seperempat kenaikan tersebut berasal dari PLTU captive untuk pengolahan nikel dan aluminium. Indonesia juga menempati peringkat ketiga secara global untuk kapasitas usulan PLTU (11 GW), setelah Cina dan India, mencakup proyek on-grid baru serta keberlanjutan usulan proyek captive off-grid.
  • Di Turki, hanya tersisa satu usulan proyek PLTU baru bara yang masih aktif, seiring persiapannya menjadi tuan rumah konferensi iklim COP31 mendatang, turun drastis dari lebih dari 70 usulan proyek pada 2015.
  • Di Asia Selatan di luar India, produksi listrik batu bara sebagian besar bergantung pada impor. Pakistan dengan cepat mengembangkan energi surya terdistribusi yang membantu menstabilkan dampak fluktuasi pasar bahan bakar fosil. Sementara itu, Bangladesh menghadapi tantangan teknis dan pasokan bahan bakar pada pembangkit fosilnya serta belum berhasil mengembangkan kapasitas energi terbarukan yang signifikan.
  • Di Asia Tenggara kecuali Indonesia, komisioning kapasitas batu bara baru menurun untuk tahun ketiga berturut-turut, meskipun gangguan pasokan gas yang mulai muncul pada 2026 mendorong sejumlah negara untuk lebih mengandalkan kapasitas batu bara yang sudah ada.
  • Di Afrika, usulan proyek batu bara kembali terkonsentrasi di Zimbabwe dan Zambia, yang bersama-sama menyumbang dua pertiga dari pengembangan batu bara baru di kawasan tersebut.