Minggu, 07 Juni 2026

            

Berita

Kualitas Udara Indonesia Memburuk Sejak Jadi TPA Sampah Plastik

Pembakaran sampah plastik berkorelasi dengan peningkatan risiko kematian akibat kanker paru-paru dan infeksi saluran pernapasan bawah.

Minggu, 07 Juni 2026
Pembakaran sampah plastik memicu kontaminasi mikroplastik di udara. Foto: Ecoton, 2023.
Pembakaran sampah plastik memicu kontaminasi mikroplastik di udara. Foto: Ecoton, 2023.

BETAHITA.ID - Kualitas udara di Indonesia semakin memburuk sejak menampung dan membakar sampah plastik yang diekspor oleh sejumlah negara di berbagai belahan dunia. Partikel halus yang dihasilkan dari pembakaran sampah plastik ini memperparah ancaman kesehatan masyarakat.

Penelitian baru yang dipimpin oleh Ellen Considine, peneliti di Cooperative Institute for Research in Environmental Sciences (CIRES) di Universitas Colorado Boulder, menunjukkan bahwa polusi udara di Indonesia memburuk pada 2018 dan 2019, ketika negara tersebut mulai menerima sebagian limbah plastik yang sebelumnya dikirim ke China. Pengumpulan sampah kota di Indonesia terbatas dan pembakaran terbuka sampah padat adalah hal yang umum.

Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of the Royal Statistical Society—Series C: Applied Statistics, ini menyoroti isu keadilan lingkungan yang berulang, yaitu negara-negara kaya mengekspor polusi dan konsekuensinya ke negara-negara berpenghasilan rendah yang memiliki kapasitas lebih kecil untuk menolak atau mengelolanya.

"Ketika negara-negara berpenghasilan tinggi mengirimkan sampah plastik ke negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, lebih banyak sampah plastik cenderung dibakar. Hal ini melepaskan polutan udara yang dapat menyebabkan penyakit pernapasan, kanker, atau bahkan kematian bagi penduduk setempat," kata Considine, yang juga merupakan asisten profesor Geografi di CU Boulder, dalam sebuah keterangan tertulis, pada 3 Juni 2026, dikutip dari Phys.

Considine dan rekan penulisnya, Rachel Nethery dari Harvard TH Chan School of Public Health, memanfaatkan data satelit untuk mengevaluasi perubahan partikel halus di 356 lokasi pembuangan sampah terbuka di Indonesia sebelum dan setelah larangan impor sampah plastik oleh China. Partikel halus dimaksud merupakan polutan udara yang paling mengkhawatirkan bagi kesehatan manusia karena terdiri dari partikel-partikel yang cukup kecil untuk menembus paru-paru manusia dan masuk ke aliran darah.

"Studi-studi sebelumnya tentang dampak pembakaran sampah plastik terhadap kualitas udara lebih bersifat lokal, misalnya, dengan memasang monitor kualitas udara di beberapa lokasi selama beberapa bulan. Pendekatan kami sangat ampuh karena memungkinkan kami untuk melihat perubahan polusi udara di wilayah studi dan periode waktu yang luas serta mengidentifikasi keterkaitannya dengan impor sampah plastik,” kata Considine.

Tim tersebut menggunakan metode statistik canggih untuk menentukan seberapa besar peningkatan polusi udara disebabkan oleh perubahan kebijakan China, dan pembakaran sampah dibandingkan dengan faktor lain yang bervariasi dari waktu ke waktu, seperti cuaca.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan kebijakan dan pembakaran sampah menyebabkan peningkatan rata-rata 3,3% partikel halus di tempat pembuangan sampah terbuka di Indonesia pada 2018 dan 2019 dibandingkan dengan 2012 hingga 2017. Dampak kesehatan yang potensial sangat signifikan, yakni peningkatan partikel halus tersebut berkorelasi dengan peningkatan risiko kematian akibat kanker paru-paru sekitar 1,9% dan peningkatan risiko kematian akibat infeksi saluran pernapasan bawah sekitar 3,5%.

"Metode seperti ini, untuk mengevaluasi dampak kebijakan, secara historis dikembangkan oleh para ekonom tetapi baru-baru ini diadaptasi oleh para ilmuwan kesehatan masyarakat dan lingkungan," kata Considine.

Analisis ini mengungkapkan potensi reaksi berantai setelah larangan China, yang mana sebagian limbah plastik yang sebelumnya berakhir di China dialihkan ke Indonesia, yang menyebabkan lebih banyak pembuangan terbuka dan pembakaran limbah plastik, yang menghasilkan lebih banyak polusi udara berupa partikel halus.

Karya ilmiah Considine dan Nethery ini mendukung keputusan terbaru Indonesia dan Malaysia, negara lain yang terdampak oleh perubahan kebijakan Tiongkok, untuk melarang impor limbah plastik. Pendekatan tim ini dapat digunakan untuk mengevaluasi efektivitas kebijakan-kebijakan tersebut dan kebijakan-kebijakan di masa mendatang terkait limbah plastik dan pembakaran terbuka.

"Saya terinspirasi oleh kisah-kisah penelitian polusi udara yang digunakan untuk menginformasikan keputusan kebijakan. Upaya seperti yang kami lakukan membantu mengisi kesenjangan bukti penting di tempat-tempat dan untuk aplikasi dengan data yang lebih terbatas,” kata Considine.