Pusat Flu Burung Mematikan Pindah dari Asia ke Eropa dan Afrika 

Penulis : Kennial Laia

Lingkungan

Selasa, 24 Oktober 2023

Editor : Yosep Suprayogi

BETAHITA.ID -  Episentrum wabah flu burung yang mematikan telah berpindah dari Asia ke Eropa dan Afrika. Menurut studi terbaru, hal ini terjadi lantaran perubahan besar pada virus dan penyebarannya pada burung liar. 

Selama 25 tahun, virus flu burung biasanya muncul dari Asia. Namun ini mulai berubah. Penelitian menunjukkan bahwa meskipun wabah pada 2016 dan 2017 dimulai di Tiongkok, dua virus H5 baru muncul pada 2020 pada unggas Afrika dan pada 2020 pada unggas liar di Eropa. 

“Riset ini menyoroti pergeseran episentrum H5 HPAI [highly patogenic avian influenza], atau flu burung yang sangat patogen, di luar Asia,” tulis para peneliti dalam makalah yang diterbitkan di Nature, Jumat, 20 Oktober 2023. 

Wabah terbaru dari varian H5N1 yang sangat menular menyebabkan wabah flu burung terparah di Eropa, sebelum menyebar secara global. Penyakit ini telah mencapai setiap benua kecuali Oseania dan Antartika, membunuh burung domestik dan liar dalam jumlah yang mencapai rekor tertinggi, dan bahkan menyerang mamalia. 

Bangkai burung yang ditemukan di Dumfries, Inggris. Dok Brian Matthews/Solent News via New Scientists

Penyakit ini juga dapat menular ke manusia. Sejak 2003, H5N1 ditemukan pada 873 manusia, mengakibatkan 458 kematian, menurut Organisasi Kesehatan Dunia. Sebagian besar kasus terkait dengan penanganan unggas yang terinfeksi, dan penyakit ini tidak diketahui dapat menular dari manusia ke manusia.

Riset terbaru ini dilakukan oleh tim ilmuwan internasional yang dipimpin oleh University of Hong Kong. Mereka menganalisis wabah antara tahun 2005 dan 2022, serta mengumpulkan data mengenai kasus-kasus yang dikonfirmasi dari Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) dan WHO. Mereka juga mempelajari 10.000 set DNA virus.

Meskipun terdapat banyak wabah, hanya 0,2% kasus yang berhasil diurutkan, kata para peneliti. Mereka mendesak negara-negara untuk meningkatkan pengawasan untuk memahami bagaimana virus ini berubah. Pemantauan infrastruktur sangat lemah ini ditemukan di Afrika. Para penulis berpendapat bahwa meningkatnya persistensi flu burung pada burung liar mendorong evolusi dan penyebaran jenis virus baru.

Flu burung sangat mudah menular, dan para ilmuwan mengatakan seekor burung dapat menulari hingga 100 burung. Virus ini terdapat dalam kotoran, lendir, darah, dan air liur. Para ilmuwan juga mencatat bahwa 99% kasus pada unggas di Inggris berasal dari burung liar. 

Pemusnahan massal dulunya merupakan kebijakan yang efektif untuk mengendalikan penyebaran penyakit pada unggas. Namun karena kini tersebar luas pada populasi burung liar, hal ini terbukti kurang efektif.

Penyebaran flu burung di industri perunggasan ditentukan oleh aktivitas manusia dan cara unggas diperdagangkan. Pada burung liar, jalur terbang migrasi merupakan indikator utama di mana penyakit ini menyebar, dengan rute migrasi utama di sepanjang jalur terbang Atlantik timur dan Pasifik. Ini berarti penyakit ini dapat menyebar ke wilayah baru yang belum pernah terpapar penyakit tersebut sebelumnya.

Para peneliti mengatakan, sulit mengetahui angka persis burung liar yang mati lantaran banyaknya bangka yang tidak pernah ditemukan atau dihitung. Namun para peneliti mengatakan jumlahnya bisa mencapai jutaan.