WFH Tak Selesaikan Masalah Kualitas Udara Jakarta

Penulis : Aryo Bhawono

Polusi

Rabu, 30 Agustus 2023

Editor : Sandy Indra Pratama

BETAHITA.ID -  Work from home (WFH), menjadi salah satu kebijakan pemerintah untuk menekan masalah kualitas udara Jakarta. Namun analisis Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) mengungkap langkah ini tidak efektif karena sektor transportasi bukan satu-satunya faktor yang memperburuk kualitas udara Jakarta.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves), Luhut Binsar Panjaitan, ditunjuk Presiden Joko Widodo memimpin operasi penanganan polusi udara di Jakarta dan sekitarnya. Luhut pun mempersiapkan berbagai rencana penanganan untuk menekan polusi udara di ibu kota. 

Beberapa diantaranya adalah modifikasi cuaca, penggunaan scrubber (pengendali dan pembersih udara) pada PLTU Batu Bara, pembagian jam kerja karyawan di Jakarta, dan mempercepat mobil listrik. 

Tindakan ini masih berfokus pada persoalan menekan mobilitas di ibu kota dan dianggap tidak efektif. Analisis CREA  menyebutkan terhadap data polusi udara Jakarta antara tahun 2020 hingga 2023 menyoroti tingkat polusi udara Jakarta yang tinggi disebabkan oleh emisi dari beberapa sektor utama penghasil emisi: pembangkit listrik, industri, transportasi, dan pembakaran lahan terbuka. 

Polusi di Jakarta. Dok. Greenpeace

Polusi udara merupakan campuran dari emisi lokal yang terjadi di dalam kota, dan polutan dari kendaraan berbahan bakar fosil dalam jangka panjang dari sejumlah provinsi tetangga. 

“Artinya, Jakarta memerlukan kebijakan regional yang mampu mengatasi semua sektor penghasil emisi terbesar, bukan sekadar trik  (gimmick) yang ditujukan pada sebagian kecil dari permasalahan tersebut,” ucap Lead Analyst CREA melalui rilis pers. 

Para peneliti lembaga itu  membandingkan tingkat polusi udara pada tahun-tahun ketika mobilisasi warga menurun drastis akibat COVID-19. Hasilnya, tidak ada penurunan tingkat polusi udara yang terdeteksi selama PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) akibat COVID-19. 

Bukti lain juga menunjukkan bahwa perjalanan pulang pergi dan menggunakan kendaraan berbahan bakar fosil bukan penyebab utama polusi udara di Jakarta. Pada Sabtu dan Minggu tingkat kemacetan turun rata-rata sebesar 45 persen, tetapi tingkat polusi PM25 hanya turun sebesar 4 persen. 

Ia menekankan polusi di Jakarta tak hanya soal penggunaan kendaraan pribadi. Pemodelan periode Juli hingga Agustus 2023 menunjukkan tingkat polusi udara per jam berkorelasi dengan lepasan emisi berbagai pembangkit listrik tenaga batu bara yang mencapai Jakarta. Pada hari-hari tertentu, kontribusi pembangkit listrik tenaga batu bara bervariasi dari 5 persen hingga 31 persen terhadap polusi PM25.

Ia menekankan pencemaran PM2.5 tidak hanya disebabkan oleh emisi PM2.5 saja, tetapi juga emisi polutan lain yang diubah menjadi partikel PM2.5, seperti emisi SO2 dan NOx. Sektor ketenagalistrikan merupakan sumber emisi SO2 yang dominan, sedangkan transportasi merupakan sumber emisi NOx terbesar, disusul oleh sektor ketenagalistrikan dan industri. 

Pembakaran biomassa dan limbah merupakan sumber emisi PM terbesar, diikuti oleh transportasi.